Tag Archives: Semantik

Mengenal Perbedaan Semantik dan Pragmatik

27 Jul

Kajian tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja dalam komunikasi manusia berupa bahasa telah mendapatkan perhatian dari para ilmuwan di masa lalu. Ilmu tentang hubungan antara penanda dan petanda itu disebut semiotika. Morris (1938) mengatakan bahwa dalam semiotika terdapat tiga bidang kajian, yakni sintaksis (syntax), semantik (semantics), dan pragmatik (pragmatics). Sintaksis adalah kajian tentang hubungan formal antartanda; semantik menganalisis hubungan tanda dengan objek tanda tersebut (designata); sedangkan pragmatik melihat hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda itu.

Pragmatics is that portion of semiotic which deals with the origin, uses and effects of signs within the behavior in which they occur; semantics deals with the signification of signs in all modes of signifying; syntactics deals with combinations of signs without regard for their specific significations or their relation to the behavior in which they occur” (Morris, 1946: 219 via Bach 1999:81).

Ketiga bidang tersebut memperlakukan dan mempelajari tanda secara berbeda-beda. Adapun dalam makalah ini, akan direpresantasikan perbedaan kajian tanda bahasa antara dua bidang, yakni semantik dan pragmatik, dari ketiga bidang tersebut.

Sekilas Semantik

Semantik (Bahasa Yunani: semantikos, memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Kata kerjanya adalah‘semaino’ yang berarti ‘menandai’atau ‘melambangkan’. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda-tanda linguistik (Perancis : signé linguistique).

Menurut Ferdinand de Saussure, tanda lingustik terdiri atas komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa, dan komponen yang diartikan atau makna dari komopnen pertama. Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambangkan adaah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang lazim disebut sebagai referent/acuan/hal yang ditunjuk. Jadi, semantik adalah Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya; atau salah satu cabang linguistik yang mengkaji tentang makna bahasa (Hurford, 1984:1).

Sekilas Pragmatik

Pragmatik adalah kajian tentang hubungan antara bahasa dengan konteks ditatabahasakan atau yang dikodekan pada struktur bahasa (Pragmatics is the study of those relations between language and context that are grammaticalized, or encoded in the structure of a language) (Levinson, 1985: 9). Dengan kata lain, pragmatik adalah studi tentang penggunaan bahasa dalam konteks. Pragmatik berfokus pada bagaimana penutur atau penulis menggunakan pengetahuan mereka untuk menyatakan suatu makna (Bloomer, 2005:78).

Perbedaan konvensional

Semantik dan pragmatik adalah dua cabang utama dari studi linguistik makna. Keduanya diberi nama dalam judul buku itu dan mereka akan diperkenalkan di sini. Semantik adalah studi dari untuk arti: pengetahuan akan dikodekan dalam kosakata bahasa dan pola untuk membangun makna lebih rumit, sampai ke tingkat makna kalimat. Adapun pragmatik berkaitan dengan penggunaan alat-alat ini dalam komunikasi yang bermakna. Pragmatik adalah tentang interaksi pengetahuan semantik dengan pengetahuan kita tentang dunia, mempertimbangkan konteks yang digunakan. Secara konvensional, perbedaan antara semantik dan pragmatik dinilai berdasarkan tiga hal: (1) linguistics meaning vs. use, (2)truth-conditional vs. non-truth-conditional meaning, dan (3) context independence vs. context dependence (Bach, dalam Turner 1999:70). Berikut penjelasannya.

Linguistics meaning vs. use

Linguistics meaning atau makna linguistik (bahasa) dibedakan dengan use atau pemakaiannya. Secara sepintas, semantik dan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang sama-sama menelaah makna-makna satuan lingual. Perbedaannya, semantik mempelajari makna linguistik atau makna bersifat internal, sedangan pragmatik mempelajari makna penutur atau makna dalam penutur dan bersifat eksternal yang berhubungan dengan konteks. Dengan kata lain, semantik mempelajari arti harfiah dari sebuah, ide sedangkan pragmatik adalah makna tersirat dari ide yang diberikan.

Bila diamati lebih jauh, makna yang menjadi kajian dalam semantik adalah makna linguistik (linguistics meaning) atau makna semantik (semantic sense), sedangkan yang dikaji oleh pragmatik adalah maksud penutur (speaker meaning atau speaker sense) (verhaar, 1977; Parker, 1986:32). Semantik adalah telaah makna kalimat (sentence), sedangkan pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterance). Semantik adalah ilmu linguistik yang mempelajari makna yang terkandung di dalam morfem, kata, frasa, dan kalimat yang bebas konteks. Makna linguistik di sini adalah makna yang terdapat di dalam bahasa, yang distrukturkan di dalam dan oleh sistem bahasa, yang dipahami lebih kurang sama oleh para penutur dalam kegiatan berkomunikasi secara umum dan wajar (Subroto, 1999:111). Dalam pragmatik maksud penutur (speaker meaning atau speaker sense) yaitu bahwa sense berhubungan erat dengan suatu system yang kompleks dari elemen linguistik, yaitu kata-kata. Sense menitikberatkan pada makna kalimat dan hubungannya dengan makna kata (Palmer, 1981:9). Dapat dikatakan bahwa maksud penutur di sini tidak terlepas dari konteks kalimat, apa yang dimaksud penutur belum tentu sama dengan yang dimaksud oleh lawan tutur.

Dalam pragmatik jika dalam pemakaiannya terjadi kesalahan pemakaian tatabahasa yang disengaja oleh penutur, maka dikatakan bahwa terdapat maksim(-maksim) tindak tutur yang dilanggar. Sementara itu, semantik tidak menganalisis bahasa dari sisi pemakaiannya sehingga jika terjadi kesalahan penutur yang disengaja, semantik tidak dapat menentukan meaning sesungguhnya dari penutur tersebut karena hanya didasarkan atas meaning secara umum.

Contoh:

Dalam kalimat berikut, B menjawab pertanyaan A dengan setidaknya tiga kemungkinan cara untuk menyatakan ”belum” atau “tidak ingin makan”.

A : siang ini kamu sudah makan?

B(1) : saya belum makan. Tapi saya tidak ingin makan.

B (2) : saya sudah makan barusan. (berbohong)

B(2) : saya masih kenyang, kok.

Untuk mengatakan maksudnya, B setidaknya dapat mengutarakan dengan tiga tuturan: B(1) secara langsung menyatakan maksud dan alasannya; B(2) dengan berbohong, secara tidak langsung ia menyatakan tidak ingin makan; B(3) demi alasan kesopanan, dan secara tidak langsung juga, mengimplikasikan ia tidak ingin makan. Untuk menjawab pertanyaan A, meskipun juga tidak dapat menjelaskan dengan sangat tepat, semantik hanya dapat menganalisis meaning dengan jelas pada kalimat B(1) karena kalimat tersebut secara langsung menjawab pertanyaan A, namun semantik tidak dapat menjelaskan secara tepat meaning dari B(2) dan B(3) karena B menjawabnya secara tidak langsung sehingga memerlukan pemahaman terhadap situasi di sekitarnya.

Truth-conditional vs. non-truth-conditional meaning

Cruse (2006:136) memuat perbedaan-perbedaan antara semantik dan pragmatik. Semantik berhubungan dengan aspek-aspek truth conditional makna, yaitu jika sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis, misalnya ‘kucing menyapu halaman’ adalah yang tidak berterima secara semantik karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika.

Blackmore mengutarakan tentang truth conditional semantics, yaitu apabila kita melihat suatu frasa/kalimat/satuan bahasa yang dapat diverivikasi kebenarannya, satuan bahasa berhubungan dengan aspek-aspek makna yang bebas konteks, misalnya kata “I’m sorry” sulit untuk menemukan verifikasi apakah orang yang menyatakan frasa tersebut benar-benar minta maaf atau tidak.

Semantik berhubungan dengan aspek-aspek makna konvensional, yakni bahwa terdapat hubungan yang tetap antara makna dan bentuk serta semantik berhubungan dengan deskripsi makna sehingga dikatakan bahwa semantik mengambil pendekatan formal dengan memfokuskan bentuk fonem, morfem, kata, frasa, klausa dan kalimat. Sementara itu, pragmatik berhubungan dengan aspek-aspek non-truth conditional makna, berhubungan dengan aspek-aspek yang memperhitungkan konteks, berhubungan dengan aspek-aspek makna yang tidak looked up, tetapi worked out pada peristiwa penggunaan tertentu dan pragmatik berhubungan dengan penggunaan-penggunaan makna tersebut, oleh karena itu pragmatik dikatakan mengambil pendekatan fungsional.

Context independence vs. context dependence

Yang dimaksud dengan makna secara internal adalah makna yang bebas konteks (independent context); maksudnya, makna tersebut dapat diartikan tanpa adanya suatu konteks atau makna yang terdapat dalam kamus, sedangkan makna yang dikaji secara eksternal, yaitu makna yang terikat konteks (context dependent) maksudnya satuan-satuan bahasa dalam suatu tuturan tersebut dapat dijelaskan apabila ada suatu konteks, yaitu konteks siapa yang berbicara, kepada siapa orang itu berbicara, bagaimana keadaan si pembicara, kapan, dimana, dan apa tujuanya sehingga maksud si pembicara dapat dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. Tanpa memahami konteks, lawan tutur bahasa akan kesulitan memahami maksud penutur. Konteks di sini meliputi tuturan sebelumnya, penutur dalam peristiwa tutur, hubungan antar penutur, pengetahuan, tujuan, setting social dan fisik peristiwa tutur (Cruse, 2006:136).

Contoh :

1. Prestasi kerjanya yang bagus membuat ia dapat diangkat untuk masa jabatan yang kedua

2. Presiden itu sedang menuruni tangga pesawat

Dalam contoh di atas kata bagus dan presiden mempunyai makna semantik atau makna secara internal, sedangkan secara eksternal, bila dilihat dari penggunaanya kata bagus tidak selalu bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’. Begitu juga presiden tidak selalu bermakna ‘kepala negara’ seperti dalam contoh:

3. Ayah : Bagaimana nilai ujianmu?

Budi : Iya, hanya dapat 50, pak.

Ayah : Bagus, besok jangan belajar.

4. Awas, presidennya datang!

Kata bagus dalam (3) tidak bermakna ‘baik’ atau tidak buruk’, tetapi sebaliknya. Sementara itu, bila kalimat (4) digunakan untuk menyindir, kata presiden tidak bermakna ‘kepala negara’, tetapi bermakna seseorang yang secara ironis pantas mendapatkan sebutan itu. Sehubungan dengan keterikatan itu tidak hanya bagus dalam dialog (3) bermakna ‘buruk’, melainkan besok jangan belajar dan nonton terus saja juga bermakna ‘besok rajin-rajinlah belajar’ dan ‘hentikan hobi menontonmu’.

Berlawanan dengan banyak formulasi yang telah muncul sejak awal perumusan Morris

pada tahun 1938, perbedaan semantik-pragmatik tidak

tidak sesuai antara satu perumusan dengan perumusan lainnya(Bach dalam Turner, 1999: 73).

Menurut Bach, perumusan perbedaan semantik-pragmatik dapat mengambil perbedaan dengan mengacu pada fakta-fakta bahwa:

• hanya isi literal yang relevan secara semantis

• beberapa ekspresi sensitif dalam hal konteks terhadap makna

• konteks yang dekat cukup relevan dengan semantik, namun untuk konteks luas lebih dekat ke pragmatik

• non-truth-conditional (kebenaran-tak-bersyarat) menggunakan informasi terkait agar bahasa dapat dikodekan

• aturan dalam menggunakan ekspresi tidak menentukan penggunaannya secara aktual

• kalimat yang diucapkan sebenarnya adalah fakta pragmatis

Sejumlah perbedaan istilah

Untuk menggambarkan perbedaan semantik-pragmatik adalah dengan membandingkan sejumlah istilah pada semantik dan pragmatik:

• type vs. token

• sentence vs. utterance

• meaning vs. use

• context-invariant vs. context-sensitive meaning

• linguistic vs. speaker’s meaning

• literal vs. nonliteral use

• saying vs. implying

• content vs. force

Perbandingan “meaning” antara studi pragmatik dan semantik

Dalam komunikasi, satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. Untuk maksud “menyuruh” orang lain, penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif, kalimat deklaratif, atau bahkan dengan kalimat interogatif. Dengan demikian, pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act), sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna.

Leech, (1983:8) mempermasalahkan perbedaan antara ‘bahasa’ (langue) dengan ‘penggunaan bahasa’ (parole) yang berpusat pada perbedaan antara semantik dan pragmatik. Langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak, sedangkan yang dimaksud dengan parole adalah pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa, sifatnya konkret, yaitu realitas fisis bahasa yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain. Pragmatik dan semantik memiliki kesamaan objek bahasan, yaitu berhubungan dengan makna. Kedua bidang kajian ini berurusan dengan makna, tetapi perbedaan di antara mereka terletak pada perbedaan penggunaan verba to mean berarti :

1. What does X mean? (Apa artinya X)

2. What did you mean by X (Apa maksudmu dengan X)

Dengan demikian dalam pragmatik makna diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa, sedangkan dalam semantik, makna didefinisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan-ungkapan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan petuturnya.

Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua sisi (dyadic relation) atau hubungan dua arah, yaitu antara bentuk dan makna, sedangkan pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga sisi (triadic relation) atau hubungan tiga arah, yaitu bentuk, makna, dan konteks. Dengan demikian, dalam semantik makna didefinisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan-ungkapan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan petuturnya, sedangkan makna dalam pragmatik diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa.

Hubungan antara bentuk dan makna dalam pragmatik juga dikaji oleh Yule (2001:5). Ia mendefinisikan pragmatik sebagai studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan manusia si pemakai bahasa bentuk-bentuk itu. Definisi ini dipertentangkan dengan definisi semantik, yaitu sebagai studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dengan entitas di dunia bagaimana hubungan kata dengan sesuatu secara harfiah. Lebih lanjut Yule menegaskan bahwa analisis semantik berusaha membangun hubungan antara deskripsi verbal dan pernyataan-pernyataan hubungan di dunia secara akurat atau tidak, tanpa menghiraukan siapa yang menghasilkan deskripsi tersebut.

Frawley memberikan batasan makna yang dimaksud dalam semantik dan pragmatik. Menurutnya “Context and use what is otherwise known as pragmatics determine meaning. Linguistics semantics is therefore secondary to an examination of context and uses”. Kemudian Finegan menyebutkan bahwa “Sentence semantics is not concerned with utterance meaning. Utterances are the subject of inverstigation of another branch of linguistics called pragmatics”, sedangkan Parker membedakan makna dalam semantik sebagai referensi linguistik (linguistic reference) dan makna dalam pragmatik sebagai makna acuan penutur (speaker reference), (Nadar, 2009:3).

Perbedaan lainnya terlihat pada sisi konvensionalitas. Makna semantik seringkali dikatakan bersifat konvensional, sedangkan pragmatik bersifat non-konvensional. Dikatakan konvensional karena diatur oleh tata bahasa atau menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan. Dapat dikatakan bahwa sebuah ujaran menghasilkan implikatur percakapan tertentu dalam suatu konteks tertentu bukanlah bagian dari konvensi manapun. Justru implikatur ini hanya dapat diperoleh dengan mengambil penalaran dari hubungan antara makna konvensional sebuah ujaran dengan konteksnya (Cummings, 1999:4).

Untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, Leech (dalam Eelen 2001:6) menyatakan perbedaan antara semantik dan pragmatik: semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis; sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. Meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain.

Menurut Katz (1971), semantik bersifat ideasional. Maksudnya, makna yang ditangkap masih bersifat individu dan masih berupa ide karena belum digunakan dalam berkomunikasi. Sementara itu, pragmatik bersifat interpersonal. Maksudnya, makna yang dikaji dapat dipahami atau ditafsirkan oleh orang banyak sehingga tidak lagi bersifat individu karena sudah menggunakan konteks. Selain itu representasi (bentuk logika) semantik suatu kalimat berbeda dengan interpretasi pragmatiknya.

Contoh :

“Kawan habis kuliah kita minum-minum, yuk…”

Bila dikaji dari semantik, kata ‘minum-minum’ berarti melakukan kegiatan ‘minum air’ berulang-ulang, tidak cukup sekali saja, sedangkan dari segi pragmatik, kata ‘minum-minum’ berarti meminum-minuman keras (alkohol).

Selain itu, perbedaan kajian makna dalam semantik dengan pragmatik juga terlihat pada segi jangkauan maknanya. Pragmatik mengkaji makna di luar jangkauan semantik, atau lebih jauh daripada yang dapat dijangkau oleh semantik.

Contoh :

Di sebuah ruang kelas, Dewi duduk di depan kursi belakang. Lalu, ia berkata kepada gurunya, “Pak, maaf saya mau ke belakang”

Kata yang bergaris bawah itu ’belakang’ secara semantik berarti lawan dari depan, berarti kalau dikaji secara semantik, Dewi hendak ke belakang. Akan tetapi, jika dilihat dari konteksnya, Dewi sudah duduk di deretan paling belakang. Tentu saja tidak mungkin makna ‘belakang’ yang diartikan secara semantik yang dimaksud Dewi. Dalam pragmatik dilibatkan dengan konteks. Konteksnya adalah keadaan Dewi yang sudah duduk di belakang sehingga tidak mungkin ia minta izin untuk ke belakang lagi. Biasanya, orang minta izin ke belakang untuk keperluan sesuatu, seperti pergi ke toilet atau tempat lainya. Jadi, makna kata ‘belakang’ dalam kalimat di atas tidak dapat dijelaskan secara semantik, hanya bisa dijelaskan secara pragmatik. Maka dari itulah dinyatakan bahwa kajian makna pragmatik berada di luar jangkauan semantik.

Perbedaan semantik dan pragmatik menurut Levinson (1987: 1- 53):

Pragmatik

1. Kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirannya

2. Kajian mengenai penggunaan bahasa

3. Kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa

Semantik

1. Kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut

2. Kajian mengenai makna

3. Kajian mengenai suatu makna tanpa dihubungkan dengan konteksnya

KESIMPULAN

a. Semantik mempelajari makna, yaitu makna kata dan makna kalimat, sedangkan pragmatik mempelajari maksud ujaran, yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan.

b. Kalau semantik bertanya “Apa makna X?” maka pragmatik bertanya “Apa yang Anda maksudkan dengan X?”

c. Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks, sedangkan makna di dalam pragmatik ditentukan oleh konteks, yakni siapa yang berbicara, kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana, dan apa fungsi ujaran itu. Berkaitan dengan perbedaan (c) ini, Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat “semantik bersifat bebas konteks (context independent), sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)”.

Sumber: tugas kuliah  kelompok Erwita, Gita, Icuk (Linguistik 2010) untuk mata kuliah Semantik dan Pragmatik

Ditayangkan juga di Kompasiana http://bahasa.kompasiana.com/2012/04/10/mengenal-perbedaan-semantik-dan-pragmatik/

Iklan

Daftar Buku Wajib Bagi Pembelajar Linguistik

12 Apr

Sedang mengikuti perkuliahan linguistik? Ada baiknya kita mempersiapkan diri dengan membaca buku-buku berikut. 😉

Dasar-dasar Linguistik (secara umum)

  1. Filsafat Bahasa – Kinayati Djojosuroto atau Soepomo Poedjosoedarmo (atau bisa juga buku sejenis lainnya) = buku “Filsafat Bahasa” seringkali terlewat untuk dibaca oleh pembelajar Linguistik, padahal buku ini dikategorikan paling wajib untuk dibaca sebelum memulai membaca buku-buku Linguistik.
  2. Asas-asas Linguistik Umum – J.M.W Verhaar (buku ini tidak ada matinya!!!)
  3. A Little Book of Language – David Crystal (buku yang sangat ringan tapi bermanfaat)
  4. Introduction to Linguistics – Loreto Todd
  5. The Study of Language – George Yule
  6. Contemporary Linguistics: An Introduction – William O’Grady et al
  7. A Course on Modern Linguistic – Charles  F Hockett
  8. Pengantar Linguistik Umum – Ferdinand de Saussure (terjemahan– lebih baik membaca yang versi bahasa Inggris saja)
  9. An Introduction to Theoretical Linguistics – John Lyon
  10. The Structure of Language – Emma L Pavey
  11. A History of Language – Steven Roger Fischer
 
Buku Pegangan Wajib Pembelajar Linguistik
  1. Kamus Linguistik – Harimurti Kridalaksana
  2. Dictionary of Linguistics & Phonetics – David Crystal
  3. The Cambridge Encyclopedia of Language – David Crystal
  4. Encyclopedia of Language & Linguistics  (Volume 1 & 2)
 
Fonologi
  1. Cambridge Handbook of Phonology – Paul De Lacy
  2. Phonology: Theory and Analysis – Larry M. Hyman 
  3. A Course in Phonetics – Peter Ladefoged 
  4. Fundamental Concepts in Phonology – Ken Lodge
  5. An Introduction to Phonology – April MacMahon
  6. Introducing Phonology – David Oden
  7. English Phonetics and Phonology – Peter Roach
  8. Phonetics – Peter Roach
  9. The Handbook of International Phonetics Association (International Phonetic Alphabet)

Morfologi

  1. The Grammar of Words: An Introduction to Linguistic Morphology – Geert Booij
  2. An Introduction to English Morphology – Andrew Cartstairs-McCarthy
  3. Morphology – Francis Katamba
  4. Word-Formation in English – Ingo Plag
  5. Laurie Bauer – Introducing Linguistic Morphology

Sintaksis

  1. Sintaksis – Ramlan
  2. Syntax: An Introduction Volume I & II – Talmy Givon
  3. Foundations of Syntactic Theory – Robert P Stockwell
  4. An Introduction to Syntax – Robert van Valin
  5. Syntax: A Generative Introduction – Andrew Carnie (untuk yang berminat belajar Tatabahasa generatif)
  6. Thinking Syntactically – Liliane Haegeman
  7. Syntactic Structures – Noam Chomsky
  8. Understanding Syntax – Maggie Tallerman
 

Semantik

  1. Semantics – F. R. Palmer
  2. Semantics – John I Saeed
  3. Semantics – Geoffrey Leech
  4. Meaning and the Structure of Language – Wallace L Chafe (Semantik + Sintaksis)
  5. Semantics 1 & 2 – John Lyon
  6. Semantic Theory – Ruth M. Kempson
  7. Componential Analysis of Meaning –Eugene Nida
  8. Semantics : A Course Book – James R Hurdford et al
  9. Introducing English Semantics – Charles W. Keidler

Struktur Informas

  1. Language: Its Structure and Use – Edward Finnegan (dimuat dalam satu bab khusus tentang Information Structure)
  2. Syntactic Form and Discourse Function in Natural Language generation – Casandra Creswell
  3. On Information Structure: Meaning and Form
  4. Language Typology and Syntactic Description Volume I (last chapter) – Timothy Shopen (Ed)
  5. A Derivational Syntax for Information Structure (Intermediate – advance)
 
Tatabahasa Kasus & Struktur Argumen
  1. The Case for Case (bukan buku, tapi artikel) – Charles Fillmore (bacaan wajib untuk kajian ini)
  2. Argument Realization – Beth Levin & Malka Rappaport Hovav
  3. English Syntax and Argumentation – Bas Aarts (Part III: Argumentation)
 
Pragmatik
  1. Pragmatics – George Yule
  2. How To Do Things With Words – J. L. Austin
  3. Speech Acts – John R. Searle
  4. Principle of Pragmatics – Geoffrey Leech
  5. Pragmatics & Discourse – Joan Cutting
  6. Language: Its Structure & Use (bab khusus tentang “Pragmatics”) – Edward Finnegan
  7. Study in the Way of Words – Paul Grice
  8. Concise Encyclopedia of Pragmatics – Jacob Mey
 
Stilistika
  1. Stylistics – GW Turner
  2. Stylistics : A Practical Coursebook
  3. Stylistics : A Resource Book for Student
  4. Pragmatic Stylistic – Elizabeth Black
  5. Grammar as Style – Virginia Tufte
  6. Grammar & Style at Your Fingertips – Lara M Robbins
  7. Diksi dan Gaya Bahasa  – Gorys Keraf
 
Sosiolinguistik
  1. An Introduction to Sociolinguistics – Ronal Wardhaugh
  2. An Introduction to Sociolinguistics – Janet Holmes
  3. Sociolinguistics: The Study of Speakers’ Choices – Florian Coulmas
  4. Introducing Sociolinguistics – Miriam Meyerhoff
Linguistik Historis Komparatif
  1. Historical Linguistics: An Introduction – Lyle Campbell
  2. An Introduction to Historical Linguistics – Terry Crowley
  3. Historical Linguistics: An Introduction – Winfred P. Lehmann
  4. The Comparative Method in Historical Linguistics – Antoine Meillet
  5. The Handbook of Historical Linguistics – Brian D. Joseph and Richard D. Janda

Dialektologi

  1. Dialektologi – Ayatrohaedi
  2. Dialectology – J.K. Chambers and Peter Trudgill
  3. On Dialect – Peter Trudgill

Tipologi Bahasa dan Kesemestaan Bahasa

  1. Language Universals and Linguistic Typology – Bernard Comrie
  2. Language Typology and Syntactic Description (Volume 1,2,3) – Timothy Shopen
  3. An Introduction to Linguistic Typology – Viveka Vellupillai
  4. Language Typology: A Historical and Analytic Overview – Joseph Greenberg
  5. Typology and Universals – William Croft
  6. Language Typology and Language Universals – Martin Haspelmath
  7. Language Universals – Joseph Greenberg
  8. Universals of Language – Joseph Greenberg (ed)

Sejarah Linguistik

  1. A Short History of Linguistics – R.H. Robins
  2. Schools of Linguistics – George Sampson
  3. Grammatical Theory in the United States from Bloomfield to Chomsky – P.H. Matthews
  4. Linguistic Theory in America: The First-Quarter-Century Transformational Generative Grammar – Frederick Newmeyer
  5. The Western Classical Traditions in Linguistics – Keith Allan
  6. Linguistics Wars – Randy Allen Harris
 
Tambahan
Bahasa Melayu (cikal bakal bahasa Indonesia)
  1. Tata Bahasa Melayu – van Ophuijsen
  2. Nahu Melayu Mutakhir – Asmah Haji Omar
  3. Bunga Rampai Melayu Kuno – M. G. Emeis
  4. Bahasa Sansekerta dan Bahasa Melayu – James T. Collins
  5. Bahasa melayu Bahasa Dunia – James T Collins
  6. Kitab Undang-undang Tanjung Tanah : Naskah Melayu Kuno Tertua – Uli Kozok
  7. A History of Classical Malay Literature – Richard Windstet
  8. A Manual of the Malay Language – William Maxwell
  9. The History of Sumatera – William Marsden
 
Bahasa Indonesia (Preskriptif)
  1. From Malay to Indonesian: the Genesis of a National Language – S.O. Robson
  2. Perfection Spelling: Spelling Discussions and Reforms in Indonesia and Malaysia 1900-1972 – Lars S. Vikor
  3. Indonesian: The Development and Use of a National Language – Kadir Anwar
  4. Pertumbuhan bahasa Indonesia dalam Abad Proklamasi – Muhammad Yamin
  5. Van Maleis naar Basa Indonesia (Dari Bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia) – Gerardus Drewes

Daftar di atas akan terus diperbarui.

Selamat mencari buku-buku tersebut dan membacanya. 🙂

Salam,

Ikmi Nur Oktavianti

Peran Teta (Theta Theory)

12 Apr

Terminologi peran teta ini awal mulanya berasal dari konsep mengenai “deep semantic case” yang dicetuskan oleh Fillmore (1968) dan diikuti Givon yang memperkenalkan terminologi peran semantis (semantic role). Selanjutnya, Jackendoff menggunakan terminologi relasi tematik (thematic relation) untuk merujuk pada peran semantis tersebut, yang kemudian direvisinya menjadi peran tematik (thematic role) atau disingkat peran teta (theta role) pada tahun 1990an. Meskipun demikian, kesemua istilah tersebut mengacu pada satu konsep yang sama, yakni aspek semantis. Adapun terminologi peran teta digunakan karena terminologi tersebut yang paling sering dijumpai dalam tulisan-tulisan linguistik mutakhir  (Saeed, 2005), khususnya oleh para linguis Amerika.

Menurut O’Grady, peran teta berkaitan dengan penentuan peran yang dimainkan oleh referen dari nomina atau frase nomina pada situasi yang dijelaskan oleh kalimat (1996:286). Penerima peran teta adalah nomina atau frase nomina. Hal ini didukung pula oleh Williams (1994:40). Williams menyatakan bahwa terdapat pendonor atau pemberi peran teta (yaitu Verba, Adjektiva, Preposisi) dan penerima peran teta  (Nomina). Antara pendonor peran teta dan penerima peran teta harus cocok (itulah sebabnya verba berargumen nomina dan preposisi mempunyai komplemen berupa nomina/unit lingual yang dinominakan).

Dalam kalimat aktif transitif (sebagai contoh paling sederhana), nomina (atau argumen) memperoleh peran teta dengan melihat relasinya dengan verba. Contohnya,

Mary kisses a teacher.

Verba kisses mengindikasikan adanya orang yang mencium dan orang yang dicium. Mary yang berposisi di preverbal noun memainkan perannya sebagai agen (orang yang mencium) dan a teacher yang berposisi post verbal noun memainkan perannya sebagai penderita (orang yang dicium).

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa peran teta suatu nomina harus dikaitkan dengan keberadaannya dalam konstruksi. Jika hanya dilihat dari aspek morfologis, a teacher dalam contoh di atas akan selalu menjadi agen. Padahal jika dikembalikan pada keseluruhan konstruksi di atas, a teacher justru menjadi penderita (sehingga teacher pada kenyataannya belum tentu menjadi agen, bergantung pada konstruksinya). Oleh sebab itu, penentuan peran teta (peran semantis) tidak dapat mengandalkan sudut pandang morfologis.

Ikmi Nur Oktavianti

Referensi:

Fillmore, Charles J. 1968. The Case for Case. Dalam E. Bach dan R. Harms (eds) Universals in Linguistic Theory, 1-88, New York: Holt, Rinehart & Winston

O’Grady, William, Michael Dobrovosky, dan Francis Katamba.  1996. Contemporary Linguistics: An Introduction. Harlow: Pearson Education Limited.

Saeed, John l. 2005. Semantics. Oxford: Blackwell.

Williams, Edwin. 1994. Thematic Structure in Syntax. Cambridge: MIT Press

Linguistik, (Linguistik) Struktural dan Calon Linguis

2 Mar

Seorang teman bertanya pada saya pada suatu kesempatan: “Struktural itu susah, ya?”. Dengan santai saya menjawab “Kalau ada yang bilang susah itu karena mereka enggak mau mempelajarinya, mbak.”
Dan begitulah persepsi yang terpatri dalam pikiran teman-teman di kelas saya. Selain susah, struktural dilabeli sebagai suatu bidang kajian yang kuno atau old-fashioned. Pernah suatu hari seorang teman mengatakan “Ah, struktural itu kuno, enggak berkembang. Saya mau meneliti sesuatu yang baru.”

Saya tidak menyalahkan pendapat teman-teman saya. Mereka bebas untuk berpendapat apapun, termasuk untuk kajian linguistik struktural. But well, let’s just take a look. Saya dan teman-teman saya tersebut berada di naungan “Program Studi Linguistik.” Kemudian apa saja yang ada di dalam Linguistik? Mari kita sebut bidang yang menjadi dasar-dasarnya seperti Fonologi, Morfologi, Sintaksis dan Semantik. Bidang-bidang tersebut mengulas bahasa sebagai struktur, yakni bahasa dikaitkan dengan bunyi bahasa, satuan lingual kata, frase/kalimat dan makna. Dan apakah keempat bidang (Fonologi, Morofologi, Sintaksis dan Semantik) tersebut? Ya, struktural. Keempat bidang yang saya sebutkan tersebut adalah fondasi dasar Linguistik. Dan keempat bidang tersebut pula lah (ironisnya) yang dilabeli “susah, kuno dan tidak berkembang” oleh banyak orang yang belajar Linguistik, termasuk banyak teman-teman saya di kelas. Kalau orang Linguistik sendiri tidak mau mempelajari fondasi dasar keilmuan mereka, lalu siapa lagi? Kalau mereka mengaku diri mereka sebagai linguis, mengapa dasar-dasar keilmuan Linguistik justru mereka lupakan? Fenomena yang membuat saya terheran-heran.

Saya sadar bahwa minat atau ketertarikan masing-masing orang berbeda. Karena Linguistik luas sekali, tentu tidak semua dikuasai dan diperlukan spesifikasi tertentu. Akan tetapi, struktural adalah fondasi. Mari dianalogikan dengan bangunan. Entah nanti akan dibangun apartemen, hotel, gedung perkantoran atau tempat peribadatan sekalipun, semuanya harus dimulai dari membuat fondasi, bukan? Kalau fondasi saja tidak kuat atau malah tidak dibuat, apakah bangunan tersebut akan kokoh? Atau apakah bangunan tersebut bisa disebut “bangunan” kalau tidak punya fondasi?

Kita lihat linguis-linguis barat saja tidak gengsi belajar hal yang disebut-sebut kuno itu. Tengok saja linguis barat seperti Geoffrey Leech. Beliau menulis buku tentang “Principle of Pragmatics” jadi dapat dikatakan beliau jago Pragmatik. Akan tetapi, beliau juga menulis buku “Semantics” dan di dalam bukunya beliau juga membicarakan tentang Sintaksis (dikaitkan dengan Semantik). Apa artinya? Bahwa pakar barat yang menekuni bidang seperti Pragmatik pun juga menguasai struktural. Semua linguis besar (di bidang Linguistik apapun) beranjak dari mempelajari struktural dengan baik. Mereka mempunyai fondasi struktural yang cukup dalam keilmuan mereka. Itu sebabnya kepakaran mereka tidak usah diragukan lagi. Kalau linguis-linguis hebat saja tidak gengsi belajar struktural, mengapa kita yang masih calon linguis ini merasa tidak terlalu butuh belajar struktural dengan berdalih bahwa struktural itu susah? Saya punya keyakinan bahwa orang yang sudah menguasai struktural dengan baik dapat mempelajari bidang-bidang Linguistik lain (sosiolinguistik, pragmatik, analisis wacana, dll) dengan lebih cepat dan mantap. Seperti halnya bangunan yang sudah punya fondasi kuat, mau dijadikan bangunan apapun tentu tidak jadi soal lagi. Bangunannya akan tetap kuat dan kokoh. Linguis-linguis besar contohnya.

Namun, kenyataannya yang saya lihat sendiri (karena saya berada di lingkungan calon-calon linguis), kebanyakan dari mereka “lari” ke bidang seperti pragmatik, sosiolinguistik, atau analisis wacana karena tidak ingin bersentuhan atau belajar struktural. Seorang teman yang termasuk pintar bahkan mengatakan “Aku ga mau ambil tesis struktural. Susah. Yang gampang aja.” Padahal otaknya sudah jauh lebih dari cukup untuk belajar, tapi kemauan yang tidak ada. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa Linguistik tidak hanya butuh orang-orang jenius, tapi butuh orang-orang yang mau terus belajar. Karena apa? Karena bahasa selalu berubah. Keilmuannya tidak pernah berhenti. Selalu ada hal baru, termasuk di ranah struktural. Kalau seseorang tidak mau belajar lagi, bagaimana nasib keilmuan Linguistik? Dan perlu saya tegaskan apa yang saya maksud dengan belajar dalam tulisan ini bukan hanya kegiatan duduk di ruang kelas mendengarkan perkuliahan dosen (kalau itu sih semuanya juga melakukannya sebagai syarat disebut mahasiswa dan for the sake of attendance list), tapi yang saya maksud dengan belajar adalah secara mandiri membaca beragam buku-buku linguistik struktural (tanpa disuruh dosen dan buku-bukunya tidak terpaku pada aliran tertentu), berdiskusi dengan dosen dan teman-teman, berbagi dan saling memperbarui keilmuan. Jujur saja, selama saya kuliah saya hanya punya satu teman (dari lima puluhan mahasiswa di kelas!!!!) untuk berdiskusi persoalan struktural. Cukup ironis, memang.

Kembali ke persoalan teman-teman saya yang tidak mau belajar struktural, mereka akhirnya memilih pragmatik/sosiolinguistik. Akibatnya, yang lari ke pragmatik/sosiolinguistik/analisis wacana tersebut belum punya fondasi struktural yang kuat. Ada juga yang ingin instan dengan “nyemplung” ke aliran tertentu (sebut saja aliran X, salah satu aliran dalam Linguistik, bukan aliran kebatinan) tanpa bekal fondasi keilmuan yang kuat. Bisa ditebak, fondasi mereka rapuh atau malah tidak punya sama sekali. Sekali tendang saja, keilmuan mereka goyah atau malah roboh. Ketika ditanya hal yang paling mendasar atau pertanyaan konseptual, mereka menjawabnya gelagapan atau malah tidak tahu harus menjawab apa. Teman saya yang fanatik dengan aliran X lebih parah lagi. Dia merasa sudah menjadi linguis (dan tentunya sudah belajar Linguistik) hanya dengan menjadi pengikut aliran X. Hmm Linguistics is not that simple. Parahnya, yang kecemplung ke aliran X ini cukup banyak juga di Indonesia. Maklum, Indonesia adalah negara latah. (ah, jadi ngelantur). Tapi akan jadi mengerikan kalau gerakan aliran X ini meluas dan meracuni pola pikir pembelajar Linguistik untuk mengklaim bahwa aliran mereka adalah linguistik. Padahal linguistik yang sebenarnya tidak seperti itu. Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa. Dalam mempelajarinya, mari kita kembalikan hakikat bahasa sebagai bahasa (how languages work), tanpa perlu melabeli diri kita dengan merk tertentu. Fokuskan sudut pandang kita pada bahasa, bukan teorinya. Menurut Pak Sudaryanto (linguis besar Indonesia), bukan persoalan apa teorinya, melainkan bagaimana teori tersebut bekerja dalam menjawab permasalahan yang sedang diteliti. Kalau memang untuk menyelesaikan permasalahan itu butuh banyak teori (teori A,B,C,D,E) pun tidak masalah karena tujuannya bukan penerapan teori tertentu, melainkan pemerian bahasa. Hasilnya: sudut pandang ekletik. Permasalahan yang dihadapi: terselesaikan. Penerapan teori tertentu: no way!

Memang jika seseorang memutuskan menekuni Pragmatik atau menjadi pengikut aliran X tanpa belajar struktural akan lebih singkat waktunya dan lebih cepat selesainya. Tapi, apakah sesuatu yang instan itu identik dengan hal yang keren? Kalau diibaratkan buah, matangnya karena dikarbit. Berbeda dengan buah yang matang alami. Begitu pula orang yang menjadi linguis dengan belajar struktural dulu (bertahap). Tentu akan memakan waktu yang lebih lama, tapi buah yang matang alami rasanya lebih enak, kan? Nah, linguis yang “matang” alami juga lebih keren daripada linguis hasil karbitan. Sayangnya, bangsa kita suka sekali dengan segala sesuatu yang instan, termasuk mau menjadi linguis tanpa belajar struktural.

Di balik kekecewaan saya, ada juga sedikit kebahagiaan untuk dibagi. Belum lama ini saya berhasil “mempengaruhi” salah seorang teman untuk menulis tesis struktural. Saya ajak dia untuk berkenalan dengan frase preposisi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Terdengar sederhana, ya? Tapi topik itu sukses membuat saya merenung semalaman dan melamu saat mengendarai motor untuk memikirkannya. Beberapa finding menarik pun saya bagi dengan teman saya itu (khusunya menyangkut aspek semantis frase preposisi kedua bahasa tersebut). Dalam beberapa kesempatan kami ngobrol tentang topik itu. Saya tunjukkan ketertarikan dan passion saya sewaktu berdiskusi. Yang semula dia merasa kesulitan belajar struktural, akhirnya dia mengatakan “Ternyata struktural itu menarik, ya”. Dia juga berkomentar “Kok teman-teman bilang struktural itu susah, ya.” Well, sekali lagi, kata “susah” hanya ada dalam pikiran mereka yang tidak mau belajar.

Saya tentu tidak bisa (sok) idealis dan berharap semua teman-teman saya lantas mencintai struktural. Saya hanya ingin mereka bersabar dalam proses belajar, memantapkan fondasi struktural (Fonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik) mereka, kemudian memantapkan diri di bidang tertentu dan mencintai keilmuan mereka. Saya juga berharap teman saya yang sudah terlanjur nyemplung di aliran X itu mau sedikit membuka pemikirannya untuk belajar Linguistik yang sebenarnya.

Saya sering iseng-iseng berkhayal seandainya yang memandang struktural susah (at least teman-teman di kelas saya) dan yang terlanjur kecemplung aliran X “menyempatkan” waktunya belajar struktural, pasti mereka punya bekal yang cukup. Kalau pada akhirnya teman-teman saya memutuskan menjadi ahli sosiolinguistik atau pakar pragmatik atau penggerak aliran X sekali pun, dengan bekal struktural yang baik sebagai fondasi, saya sangat yakin mereka dapat menjadi ahli sosiolinguistik atau pakar pragmatik atau penggerak aliran X yang hebat. Dan pasti akan keren sekali dunia Linguistik jika dipenuhi dengan pakar-pakar dengan keilmuan yang mumpuni. Semoga. 