Tag Archives: Linguistik UGM

Pergumulan dengan Linguistik (Sebuah Catatan Singkat)

17 Mar

Judul di atas saya pilih karena saya bingung hendak menamai tulisan ini dengan judul apa. Saya sedang tidak tertarik (dan memang tidak ingin) menggurui. Di sini, saya hanya ingin berbagi pengalaman saya berkenalan dengan Linguistik dan fenomena menarik di sekitar saya selama bergumul dengan Linguistik (red: selama saya menempuh pendidikan formal Linguistik).

Sebenarnya Linguistik sudah saya kenal sejak saya menempuh pendidikan S1 Sastra Inggris. Waktu itu saya sangat tertarik mempelajarinya. Dan barangkali karena tertarik itulah, saya senang mempelajarinya dan berimbas pada nilai-nilai Linguistik saya yang lumayan. Tapi nilai bagus bukan jaminan pemahaman yang baik, kan? Karena (S1 dulu) cukup bermodalkan rajin dan kuat menghafal, nilai A sudah di tangan. Saya tidak mengatakan bahwa ketika S1 dulu nilai A mudah didapatkan, tetapi istilah pemahaman yang baik terhadap suatu materi seperti belum akrab di telinga saya. (Ini sih pendapat saya pribadi, kalau ada yang tidak sepakat, saya minta maaf). Saya bisa mengatakan demikian karena saya sudah mengalaminya sendiri ketika melanjutkan studi. Yup, ketika saya lulus tahun 2008 (tepat 4 tahun), memang sudah terbayang untuk sekolah lagi, memperdalam Linguistik. Tapi kendala dana dan masih terikat pekerjaan yang membuat saya harus menunda sekolah. Cukup panjang ceritanya hingga akhirnya saya bisa sekolah lagi tahun 2010. Kebetulan waktu itu saya diterima bersamaan di dua perguruan tinggi: UNS dan UGM, dengan jurusan yang hampir sama (UNS: Linguistik deskriptif, UGM : Linguistik). Atas saran orang tua, saya memilih untuk mengambil kesempatan di Linguistik UGM.

Merasa cukup pede karena berasal dari jurusan yang sama (linier), saya pun mempersiapkan hari-hari menjelang masuk kuliah dengan optimis. Dan ternyata apa yang saya hadapi sungguh di luar dugaan. Ketika saya mengikuti perkuliahan Linguistik Indonesia (well, sebenarnya nama yang lebih tepat adalah “Linguistik Umum”), saya hanya bisa bengong. Kemana saja saya selama S1 dulu. Ternyata Linguistik yang pernah saya pelajari sewaktu S1 dulu belum ada apa-apanya. Dan optimisme saya atas kelancaran studi saya sempat surut.

Tapi, untunglah Tuhan Maha Baik. Di kelas, saya dipertemukan dengan dewa penyelamat (hmm agak terkesan berlebihan, ya). Dewa penyelamat saya ini berbentuk seorang yang nyentrik, unik dan menarik (uhuk!) tapi pemahaman (catet: Pemahaman!) Linguistik-nya jempolan. Saat ngobrol dengannya, saya diajak berkenalan (kembali) dengan Linguistik (yang sesungguhnya). Oh betapa. Saya merasa kerdil. Lalu tekat saya pun bulat. Saya tidak mungkin menyerah dengan keadaan. Ini jalan yang saya pilih, maka saya harus menjalaninya dengan baik. Kalau waktu itu saya bodoh tentang Linguistik, tapi tidak berarti saya tidak bisa mempelajarinya, bukan? Tekad saya pun mantap. Saya harus belajar Linguistik. Saya harus memahaminya (bukan menghafal). Dewa penyelamat saya (hmm sebut saja Mr. I supaya mudah) menyarankan saya membaca sejumlah buku. Dan langkah yang paling awal adalah membaca buku “Filsafat Bahasa”.

Setelah semester 1 saya lalui dengan mengenaskan karena pemahaman Linguistik yang pas-pasan, saya pun melahap buku Filsafat Bahasa tersebut untuk mengisi liburan. Lalu saya lanjutkan dengan membaca buku-buku dasar seperti “Sintaksis” dari Pak Ramlan (Guru Besar Linguistik UGM) dan “Asas-asas Linguistik Umum” dari Pak Verhaar (Guru Besar Linguistik UGM & Sanata Dharma). Ketika membaca dua buku tersebut, pemahaman seperti mengalir begitu saja. Rasanya konsep-konsep Linguistik satu per satu mulai memenuhi pikiran saya. Saya jadi teringat perkataan Mr.I “Kita memang tidak ingat satu kalimat pun dari buku ‘Filsafat Bahasa’ dan sepertinya tidak terpakai di analisis Linguistik, tapi buku itu membentuk fondasi paling dasar cara berpikir seorang linguis”. Perkataannya benar sekali. Buku itu seperti menjadi kunci bagi pintu utama yang selama ini masih tertutup. Buku itu seperti menjadi lapisan paling dasar dari bangunan yang akan saya dirikan, bangunan keilmuan. Kalau saya harus berterima kasih atas pengalaman Linguistik saya setahun ke belakang, maka selain Mr.I, buku tersebut juga berhak menerimanya. Setelah membaca buku “Filsafat Bahasa”, mau membaca buku Linguistik apapun menjadi menyenangkan (termasuk buku Tatabahasa Generatif-nya Chomsky). Ia seperti cupid antara saya dan Linguistik, hehe. Saya sangat menyarankan bagi pembelajar Linguistik untuk membaca buku tersebut sebelum membaca buku-buku lainnya. Dan lebih kerennya lagi, saya merasa buku itu seolah mencegah fanatisme berlebihan terhadap suatu teori atau aliran. Jadi, meskipun saya mempelajari Tatabahasa generatif, saya tidak serta-merta fanatik terhadap aliran Chomsky tersebut. Justru sekarang saya sedang belajar banyak hal lain, misal sintaksis (atau Linguistik) diakronis dan mengajak saya bersentuhan dengan bahasa-bahasa kuna. Yup, karena saya fokus di pemerian bahasa, saya sudah membentengi diri saya untuk tidak menjadi fanatik terhadap suatu aliran tertentu. Tidak ada manusia atau segala sesuatu yang sempurna di dunia ini, begitu juga dengan aliran atau teori dalam Linguistik. Tidak ada yang sempurna. So, mengapa begitu serius dengan satu aliran saja (dan menjadi fanatik)? Mari kita menjelajah rimba Linguistik yang luas ini dengan berbagai sudut pandang yang berbeda agar pengetahuan kita kaya. Benar saja. Saya merasa “kaya” sejak menekuni Linguistik dengan berbagai sudut pandang selama setahun terakhir dan saya sangat mensyukurinya. 🙂

Sejujurnya, pengalaman saya di rimba Linguistik (utamanya selama sekolah di UGM) memang tidak selalu menyenangkan. Salah satu yang tidak menyenangkan adalah ketika menyaksikan sendiri manusia-manusia di sekitar saya yang selalu mengeluhkan persoalan nilai yang jelek atau dosen yang tidak memuaskan. Ketika banyak teman-teman di kelas saya mengeluh karena pengajaran dosen-dosen yang kurang memuaskan atau nilai-nilai yang jelek, saya mungkin termasuk ke dalam segelintir orang yang masih (sangat) bersyukur karena sudah bersentuhan dengan keilmuan yang menarik ini. Bagi saya, dosen hanya sebagai pengantar. Jangan berharap lebih. Mandiri. Baca sendiri. Mencaritahu. Berdiskusi. Menjelajah keilmuan Linguistik tanpa harus menunggu instruksi dosen. Di situlah letak kenikmatannya, yang sepertinya dilewatkan oleh teman-teman. Persoalan nilai yang kurang baik, saya sih menyikapinya dengan santai saja. Bagi saya, nilai itu bukan poin penting dalam hidup saya. Karena saya sudah merasakan sendiri sewaktu S1 dulu, nilai saya bertabur A, tapi saya bego Linguistik. Sekarang nilai saya memang pas-pasan, tapi saya semakin memahami Linguistik. Kalau masih ada hal yang bisa saya syukuri, buat apa mengeluh. 🙂

Menurut saya, ketika kita sudah berani mengambil S2, berarti kita siap “nyemplung” dalam bidang keilmuan tersebut secara total dan bukan numpang gelar (meskipun kenyataannya sebaliknya, ya). Karena berkeinginan untuk total, fokus utama selama sekolah adalah pemahaman terhadap materi, bukan pencapaian nilai A. Maka ketika mendapat nilai yang kurang memuaskan, kita introspeksi lagi, barangkali kita belum memahami materi tersebut atau belum belajar dengan baik. Sayangnya, saya justru menjumpai hal yang berkebalikan. Membaca tidak sempat atau malah malas, tugas copas atau seadanya, ketika dapat nilai jelek, marah-marah. Saya juga tidak sempurna. Adakalanya saya kecewa, tapi saya selalu menanamkan pada diri saya bahwa ketika saya mendapat nilai yang kurang baik, berarti saya harus belajar lagi, dan bukan menuntut nilai yang baik (apalagi sampai memaki-maki dosen). Kenyataan seperti ini selalu saya jumpai selama menempuh pendidikan di Linguistik UGM. Dan masih terus  berlanjut saat penulisan tesis. Ketika tidak memperoleh nilai yang baik untuk tesis, dosen-dosen lah yang kena sumpah serapah.

Ada baiknya kita berkaca, melihat ke diri kita. Sudah sebegitu keren dan hebat kah keilmuan Linguistik kita sehingga ketika nilai kita kurang baik, kita lantas menyalahkan dosen kita sebagai penyebabnya? Bukankah bisa jadi penyebabnya kita sendiri yang mengaku sebagai mahasiswa Linguistik tapi tidak mau belajar Linguistik (dengan sungguh-sungguh)? Saya sih merasa begitu. Dengan begitu, saya tidak akan pernah merasa puas dan terus belajar. Dan pastinya, tidak akan menyalahkan dosen kalau nilai saya jelek. Karena saya tidak cepat merasa puas itulah, ketika dinyatakan lulus pun saya masih terus belajar. Bagi saya, tesis bukan lah titik akhir perjuangan saya, melainkan titik mula perjuangan saya berikutnya. Apalagi tesis saya masih menyisakan PR yang menarik untuk dikerjakan. Ironisnya, teman-teman saya tidak demikian. Ketika lulus, mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda proses belajar yang masih berlanjut. Bagi mereka, ketika tesis sudah diujikan, buat apa pusing-pusing belajar. Alhasil, tidak tampak lagi aktivitas belajar secara kontinuitas. Jangan salahkan saya kalau kesan yang tangkap adalah “belajar hanya dilakukan selama sekolah, kalau sudah lulus ya sudah”. Ujung-ujungnya, saya yang terlihat aneh karena sudah lulus tapi masih rajin meminjam buku di perpustakaan. (beuh!)

Saya berbagi cerita seperti ini bukan untuk menyombongkan diri. Apa yang bisa disombongkan dari seorang pembelajar kemarin sore seperti saya, apalagi nilai S2 saya juga biasa saja. Tujuan utama memposting tulisan ini adalah untuk menyampaikan fenomena dan fakta yang terjadi di sekitar saya, agar yang lain bisa mengambil hikmahnya. Sebagai seseorang yang mempunyai sudut pandang lain, saya tidak ingin diam dalam kondisi yang demikian. Saya ingin berbuat sesuatu, dan yang dapat saya lakukan adalah menulis dan berbagi lewat tulisan. Kalau tulisan ini disebut sindiran, boleh-boleh saja. Syukur-syukur kalau ada yang membaca dan mendapatkan manfaat dari sindiran ini. (Ini sindiran keilmuan lho, tidak ada sentimen pribadi).

Sebenarnya permasalahan seperti ini tidak terbatas bidang keilmuan tertentu. Apapun bidang keilmuan kita, kita harus total di dalamnya. Dan jangan sekali-kali menuntut lebih, jika diri kita saja belum pantas untuk mendapatkannya. Yang terpenting adalah kualitas diri, bukan sekedar angka atau huruf yang tercetak di laporan nilai kita. Bukankah “tidak cepat merasa puas” dan “terus belajar (belajar, bukan sekolah ya!)” adalah ciri-ciri orang berkualitas? Hehehe… ^^

Salam.

^___^

Iklan

Linguistik, (Linguistik) Struktural dan Calon Linguis

2 Mar

Seorang teman bertanya pada saya pada suatu kesempatan: “Struktural itu susah, ya?”. Dengan santai saya menjawab “Kalau ada yang bilang susah itu karena mereka enggak mau mempelajarinya, mbak.”
Dan begitulah persepsi yang terpatri dalam pikiran teman-teman di kelas saya. Selain susah, struktural dilabeli sebagai suatu bidang kajian yang kuno atau old-fashioned. Pernah suatu hari seorang teman mengatakan “Ah, struktural itu kuno, enggak berkembang. Saya mau meneliti sesuatu yang baru.”

Saya tidak menyalahkan pendapat teman-teman saya. Mereka bebas untuk berpendapat apapun, termasuk untuk kajian linguistik struktural. But well, let’s just take a look. Saya dan teman-teman saya tersebut berada di naungan “Program Studi Linguistik.” Kemudian apa saja yang ada di dalam Linguistik? Mari kita sebut bidang yang menjadi dasar-dasarnya seperti Fonologi, Morfologi, Sintaksis dan Semantik. Bidang-bidang tersebut mengulas bahasa sebagai struktur, yakni bahasa dikaitkan dengan bunyi bahasa, satuan lingual kata, frase/kalimat dan makna. Dan apakah keempat bidang (Fonologi, Morofologi, Sintaksis dan Semantik) tersebut? Ya, struktural. Keempat bidang yang saya sebutkan tersebut adalah fondasi dasar Linguistik. Dan keempat bidang tersebut pula lah (ironisnya) yang dilabeli “susah, kuno dan tidak berkembang” oleh banyak orang yang belajar Linguistik, termasuk banyak teman-teman saya di kelas. Kalau orang Linguistik sendiri tidak mau mempelajari fondasi dasar keilmuan mereka, lalu siapa lagi? Kalau mereka mengaku diri mereka sebagai linguis, mengapa dasar-dasar keilmuan Linguistik justru mereka lupakan? Fenomena yang membuat saya terheran-heran.

Saya sadar bahwa minat atau ketertarikan masing-masing orang berbeda. Karena Linguistik luas sekali, tentu tidak semua dikuasai dan diperlukan spesifikasi tertentu. Akan tetapi, struktural adalah fondasi. Mari dianalogikan dengan bangunan. Entah nanti akan dibangun apartemen, hotel, gedung perkantoran atau tempat peribadatan sekalipun, semuanya harus dimulai dari membuat fondasi, bukan? Kalau fondasi saja tidak kuat atau malah tidak dibuat, apakah bangunan tersebut akan kokoh? Atau apakah bangunan tersebut bisa disebut “bangunan” kalau tidak punya fondasi?

Kita lihat linguis-linguis barat saja tidak gengsi belajar hal yang disebut-sebut kuno itu. Tengok saja linguis barat seperti Geoffrey Leech. Beliau menulis buku tentang “Principle of Pragmatics” jadi dapat dikatakan beliau jago Pragmatik. Akan tetapi, beliau juga menulis buku “Semantics” dan di dalam bukunya beliau juga membicarakan tentang Sintaksis (dikaitkan dengan Semantik). Apa artinya? Bahwa pakar barat yang menekuni bidang seperti Pragmatik pun juga menguasai struktural. Semua linguis besar (di bidang Linguistik apapun) beranjak dari mempelajari struktural dengan baik. Mereka mempunyai fondasi struktural yang cukup dalam keilmuan mereka. Itu sebabnya kepakaran mereka tidak usah diragukan lagi. Kalau linguis-linguis hebat saja tidak gengsi belajar struktural, mengapa kita yang masih calon linguis ini merasa tidak terlalu butuh belajar struktural dengan berdalih bahwa struktural itu susah? Saya punya keyakinan bahwa orang yang sudah menguasai struktural dengan baik dapat mempelajari bidang-bidang Linguistik lain (sosiolinguistik, pragmatik, analisis wacana, dll) dengan lebih cepat dan mantap. Seperti halnya bangunan yang sudah punya fondasi kuat, mau dijadikan bangunan apapun tentu tidak jadi soal lagi. Bangunannya akan tetap kuat dan kokoh. Linguis-linguis besar contohnya.

Namun, kenyataannya yang saya lihat sendiri (karena saya berada di lingkungan calon-calon linguis), kebanyakan dari mereka “lari” ke bidang seperti pragmatik, sosiolinguistik, atau analisis wacana karena tidak ingin bersentuhan atau belajar struktural. Seorang teman yang termasuk pintar bahkan mengatakan “Aku ga mau ambil tesis struktural. Susah. Yang gampang aja.” Padahal otaknya sudah jauh lebih dari cukup untuk belajar, tapi kemauan yang tidak ada. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa Linguistik tidak hanya butuh orang-orang jenius, tapi butuh orang-orang yang mau terus belajar. Karena apa? Karena bahasa selalu berubah. Keilmuannya tidak pernah berhenti. Selalu ada hal baru, termasuk di ranah struktural. Kalau seseorang tidak mau belajar lagi, bagaimana nasib keilmuan Linguistik? Dan perlu saya tegaskan apa yang saya maksud dengan belajar dalam tulisan ini bukan hanya kegiatan duduk di ruang kelas mendengarkan perkuliahan dosen (kalau itu sih semuanya juga melakukannya sebagai syarat disebut mahasiswa dan for the sake of attendance list), tapi yang saya maksud dengan belajar adalah secara mandiri membaca beragam buku-buku linguistik struktural (tanpa disuruh dosen dan buku-bukunya tidak terpaku pada aliran tertentu), berdiskusi dengan dosen dan teman-teman, berbagi dan saling memperbarui keilmuan. Jujur saja, selama saya kuliah saya hanya punya satu teman (dari lima puluhan mahasiswa di kelas!!!!) untuk berdiskusi persoalan struktural. Cukup ironis, memang.

Kembali ke persoalan teman-teman saya yang tidak mau belajar struktural, mereka akhirnya memilih pragmatik/sosiolinguistik. Akibatnya, yang lari ke pragmatik/sosiolinguistik/analisis wacana tersebut belum punya fondasi struktural yang kuat. Ada juga yang ingin instan dengan “nyemplung” ke aliran tertentu (sebut saja aliran X, salah satu aliran dalam Linguistik, bukan aliran kebatinan) tanpa bekal fondasi keilmuan yang kuat. Bisa ditebak, fondasi mereka rapuh atau malah tidak punya sama sekali. Sekali tendang saja, keilmuan mereka goyah atau malah roboh. Ketika ditanya hal yang paling mendasar atau pertanyaan konseptual, mereka menjawabnya gelagapan atau malah tidak tahu harus menjawab apa. Teman saya yang fanatik dengan aliran X lebih parah lagi. Dia merasa sudah menjadi linguis (dan tentunya sudah belajar Linguistik) hanya dengan menjadi pengikut aliran X. Hmm Linguistics is not that simple. Parahnya, yang kecemplung ke aliran X ini cukup banyak juga di Indonesia. Maklum, Indonesia adalah negara latah. (ah, jadi ngelantur). Tapi akan jadi mengerikan kalau gerakan aliran X ini meluas dan meracuni pola pikir pembelajar Linguistik untuk mengklaim bahwa aliran mereka adalah linguistik. Padahal linguistik yang sebenarnya tidak seperti itu. Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa. Dalam mempelajarinya, mari kita kembalikan hakikat bahasa sebagai bahasa (how languages work), tanpa perlu melabeli diri kita dengan merk tertentu. Fokuskan sudut pandang kita pada bahasa, bukan teorinya. Menurut Pak Sudaryanto (linguis besar Indonesia), bukan persoalan apa teorinya, melainkan bagaimana teori tersebut bekerja dalam menjawab permasalahan yang sedang diteliti. Kalau memang untuk menyelesaikan permasalahan itu butuh banyak teori (teori A,B,C,D,E) pun tidak masalah karena tujuannya bukan penerapan teori tertentu, melainkan pemerian bahasa. Hasilnya: sudut pandang ekletik. Permasalahan yang dihadapi: terselesaikan. Penerapan teori tertentu: no way!

Memang jika seseorang memutuskan menekuni Pragmatik atau menjadi pengikut aliran X tanpa belajar struktural akan lebih singkat waktunya dan lebih cepat selesainya. Tapi, apakah sesuatu yang instan itu identik dengan hal yang keren? Kalau diibaratkan buah, matangnya karena dikarbit. Berbeda dengan buah yang matang alami. Begitu pula orang yang menjadi linguis dengan belajar struktural dulu (bertahap). Tentu akan memakan waktu yang lebih lama, tapi buah yang matang alami rasanya lebih enak, kan? Nah, linguis yang “matang” alami juga lebih keren daripada linguis hasil karbitan. Sayangnya, bangsa kita suka sekali dengan segala sesuatu yang instan, termasuk mau menjadi linguis tanpa belajar struktural.

Di balik kekecewaan saya, ada juga sedikit kebahagiaan untuk dibagi. Belum lama ini saya berhasil “mempengaruhi” salah seorang teman untuk menulis tesis struktural. Saya ajak dia untuk berkenalan dengan frase preposisi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Terdengar sederhana, ya? Tapi topik itu sukses membuat saya merenung semalaman dan melamu saat mengendarai motor untuk memikirkannya. Beberapa finding menarik pun saya bagi dengan teman saya itu (khusunya menyangkut aspek semantis frase preposisi kedua bahasa tersebut). Dalam beberapa kesempatan kami ngobrol tentang topik itu. Saya tunjukkan ketertarikan dan passion saya sewaktu berdiskusi. Yang semula dia merasa kesulitan belajar struktural, akhirnya dia mengatakan “Ternyata struktural itu menarik, ya”. Dia juga berkomentar “Kok teman-teman bilang struktural itu susah, ya.” Well, sekali lagi, kata “susah” hanya ada dalam pikiran mereka yang tidak mau belajar.

Saya tentu tidak bisa (sok) idealis dan berharap semua teman-teman saya lantas mencintai struktural. Saya hanya ingin mereka bersabar dalam proses belajar, memantapkan fondasi struktural (Fonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik) mereka, kemudian memantapkan diri di bidang tertentu dan mencintai keilmuan mereka. Saya juga berharap teman saya yang sudah terlanjur nyemplung di aliran X itu mau sedikit membuka pemikirannya untuk belajar Linguistik yang sebenarnya.

Saya sering iseng-iseng berkhayal seandainya yang memandang struktural susah (at least teman-teman di kelas saya) dan yang terlanjur kecemplung aliran X “menyempatkan” waktunya belajar struktural, pasti mereka punya bekal yang cukup. Kalau pada akhirnya teman-teman saya memutuskan menjadi ahli sosiolinguistik atau pakar pragmatik atau penggerak aliran X sekali pun, dengan bekal struktural yang baik sebagai fondasi, saya sangat yakin mereka dapat menjadi ahli sosiolinguistik atau pakar pragmatik atau penggerak aliran X yang hebat. Dan pasti akan keren sekali dunia Linguistik jika dipenuhi dengan pakar-pakar dengan keilmuan yang mumpuni. Semoga. 