Sekilas Tentang Dialektologi

28 Mei

A.     Pengertian Dialektologi

Istilah dialektologi berasal dari kata dialect dan kata logi. Kata dialect berasal dari bahasa Yunani dialektos. Kata dialektos digunakan untuk menunjuk pada keadaan bahasa di Yunani yang memperlihatkan perbedaan-perbedaan kecil dalam bahasa yang mereka gunakan. Adapun kata logi berasal dari bahasa Yunani logos,yang berarti ‘ilmu’. Gabungan dari kedua kata ini berserta artinya membawa pengertian dialektologi sebagai ilmu yang memepelajari suatu dialek saja dari suatu bahasa dan dapat pula mempelajari dialek-dialek yang ada dalam suatu bahasa.

Berdasarkan kelompok pemakaiannya, dialek dapat dibagi atas tiga jenis, yakni: (1) dialek regional, yaitu variasi bahasa berdasarkan perbedaan lokal (tempat) dalam suatu wilayah bahasa; (2) dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh golonga tertentu; dan (3) dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok bahasawan yang hidup pada waktu tertentu. Pendapat yang lazim tentang dialek sebgaaimana dikemukakan dengan pemahaman yang dianut dalam rangkaian pembicaraan dialektologi, menurut pandangan dialektologi, semua dialek dari suatu bahasa mempunyai kedudukan yang sederajat, statusnya sama, tidak ada dialek yang lebuh berprestise dan tidak berprestise. Tidak ada juga sebutan bahwa dialek yang digunakan itu kampungan, meskipun penuturnya berasal dari desa. Semua dialek dari sebuah bahasa itu sama. Dialek-dialek tersebut menjadikan fungsinya masing-masing dalam kelompok-kelompok masyarakat penuturnya. Dialek standar juga merupakan dialek bahasa, sama dengan dialek lainnya. Hanya karena faktor ekstralinguistik, dialek ini dianggap sebagai dialek yang berprestise (lihat juga Fernandez, 1993:6)

Disamping istilah dialek, dikenal pula istilah isolek, idiolek, dan aksen. Istilah isolek merupakan istilah netral yang dapat digunakan untuk menunjuk pada bahasa, dialek, atau subdialek. Yang dimaksud dengan idiolek adalah ciri khas berbahasa seseorang karena setiap orang memiliki ciri khas dalam bertutur. Selanjutnya, istilah aksen digunakan untuk menunjuk pada cara penutur mengucapkan bunyi bahasa.

B.      Ruang Lingkup Dialektologi

Dialektologi merupakan cabang linguistik yang mempelajari variasi bahasa. Yang dimaksud dengan variasi bahasa adalah perbedaan-perbedaan bentuk yang terdapat dalam suatu bahasa. Perbedaan-perbedaan tersebut mencakup semua unsure kebahasaan, yaitu fonologi, morfologi, leksikon, sintaksis, dan semantik.

Dalam bidang fonologi, perbedaan tersebut dapat berupa perbedaan bunyi (lafal) dan dapat pula berupa perbedaan fonem.  Dalam bidang morfologi perbedaan tersebut dapat berupa afiks (prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks), pronominal, atau kata penunjuk. Dalam bidang sintaksis, perbedaan itu berupa struktur kalimat atau struktur frasa. Dan dalam bidang semantik, perbedaan itu berupa makna, tetapi makna tersebut masih berhubungan atau masih mempunyai pertalian, makna yang digunakan pada titik pengamatan tertentu dengan makna yang digunakan pada titi pengamatan yang lainnya masih berhubungan.

Pembeda Dialek

Pembeda dialek terdiri dari lima macam perbedaan, yaitu :

  • Perbedaan fonetik : perbedaan ini berada dibidang fonelogi dan biasanya pemakai dialek/ bahasa yang bersangkutan tidak menyadari adanya perbedaan tersebut.
  • Perbedaan semantic: dengan terciptanya kata-kata baru berdasarkan perubahan fonologi dan geseran bentuk.
  • Perbedaan onomasiologis : menunjukkan nama yang berbeda berdasarkan satu konsep yang diberikan dibeberapa tempat yang berbeda.
  • Perbedaan semasiologis : pemberian nama yang sama untuk beberapa konsep yang berbeda.
  • Perbedaan morfologis : terciptanya inovasi bahasa.

C.      Sumber Penelitian Dialek

1)      Sumber Lisan.

Sumber bahasa lisan tersimpan di dalam khazanahnya, yaitu diri para pemakai bahasa dan dialek. Sumber itu berupa bahasa atau dialek itu sendiri maupun hal-hal yang terkandung di dalamnya, seperti cerita rakyat, adat istiadat, kepercayaan, dan perundangan (Guiraud, 1970: 41).

2)      Sumber Tulis.

Sumber tulis dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Naskah

Pada mulanya naskah merupakan satu-satunya sumber untuk kurun waktu sebelum dikenalnya kamus dan kitab bahasa, apalagi yang cukup bernilai sastra dan ditulis di dalam bahasa atau dialek yang berbeda (Guiraud, 1970: 43). Dalam penelitiannya, naskah dilihat berdasarkan asal usulnya dan menampilkan masalah yang istimewa sesuai dengan umur, nilai, dan pemakaian bahasanya. Bahasan mengenai naskah-naskah kono merupakan sumbangan yang sangat penting artinya untuk penelitian geografi dialek.

  • Kamus dan Atlas Bahasa.

Kamus dialek atau bahasa merupakan sumber keterangan yang utama di dalam penelitian dialek. Hal ini dapat terjadi, karena hal-hal yang kurang jelas dari bahan yang terkumpul seringkali dapat dijelaskan dengan pertolongan kamus dialek atau bahasa yang sudah ada.

D.     Ragam-Ragam Dialek

Secara umum dialek dapat digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu :

1)       Dialek 1

Dialek 1 yaitu dialek yang berbeda-beda karena keadaan alam sekitar tempat dialek tersebut dipergunakan sepanjang perkembangannya (Warnant, 1973: 101). Dialek ini dihasilkan karena adanya dua factor yang saling melengkapi, yaitu factor waktu dan factor tempat.

2)       Dialek 2

Dialek 2 adalah bahasa yang dipergunakan di luar daerah pemakaiannya (Warnant, 1973: 102). Dialek ini sering juga disebut sebagai dialek regional atau enclave.

3)      Dialek Sosial

Dialek sosial ialah ragam bahasa yang dipergunakan oleh kelompok tertentu, yang dengan demikian membedakannya dengan kelompok masyarakat lainya (Kridalaksana, 1970). Ragam dialek sosial yang memperlihatkan ciri-ciri yang sangat khusus dikenal dengan nama argot atau slang.

E.      Metode Dalam Penelitian Dialektologi

1.      Metode Kuantitatif (Dialektometri)

Metode dialektometri digunakan untuk membagi daerah penelitian ke dalam daerah dialek. Yang dimaksud dengan dialektometri adalaj ukuran statistic yang digunakan untuk melihat seberapa jauh perbedaan yang terdapat pada tempat-tempat yang diteliti dengan membandingkan sejumlah unsure yang terkumpul dari tempat tersebut.

Selanjutnya metode ini telah digunakan oleh para peneliti dialektologi untuk membagi daerah bahasa ke dalam daerah dialek, subdialek, atau untuk melihat perbedaan tingkat wicara. Untuk penelitian bahasa-bahasa di Indonesia, metode ini telah digunakan antara lain oleh Ayatrohaedi (1978), Nothofer (1980), Medan (1986), Lauder (1990), Danie (1991), dan Nadra (1997). Walaupun terdapat ketidakpuasan akan metode tersebut, namun, sejauh ini tampaknya metode dialektometri itu dianggap masih mampu melakukan pemilahan bahasa secara objektif.

Rumus metode dialektometri adalah sebaga berikut

S x 100 = d %

n

S = jumlah beda dengan titik pengamatan lain

n = jumlah peta yang diperbandingkan

d = presentase jarak unsur-unsur kebahasaan antartitik pengamatan

Hasil yang diperoleh yang berupa presentase jarak unsur-unsur kebahasaan di antara titik-titik pegamatan itu, selanjutnya digunakan untuk menentukan hubungan antartitik pengamatan dengan criteria sebagai berikut :

81% ke atas     : dianggap perbedaan bahasa

51% – 80%       : dianggap perbedaan dialek

31% – 50%       : dianggap perbedaan subdialek

21% – 30%       : dianggap perbedaan wicara

Dibawah 20%  : dianggap tidak ada perbedaan

Penghitungan dialektometri dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : (a) segitiga antardesa/antartitik pengamatan dan (b) permutasi satu titik pengamatan terhadap semua titik pengamatan lainnya. Perhitungan berdasarkan segitiga antartitik pengamatan dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

1)      Titik pengamatan yang dibandingkan hanya titik-titik pengamatan berdasarkan letaknya masing-masing mungkin melakukan komunikasi secara langsung

2)      Setiap titik pengamatan yang mungkin berkomunikasi secara langsung duhubungkan dengan sebuah garis sehingga diperoleh segitiga-segitiga yang beragam bentuknya

3)      Garis-garis pada segitiga dialektometri tidak boleh saling berpotongan; pilih salah satu kemungkinan saja dan sebaiknya pilih yang berdasarkan letaknya lebih dekat satu sama lain.

Penghitungan dengan cara atau teknik permutasi dilakukan pertama kali oleh Goebl. Dalam perhitungan ini satu titik pengamatan dihitung jarak kosakatanya dengan semua titik pengamatan lainnya. Perhitungan ini membutuhkan banyak waktu sehingga kurang mendapat tanggapan dan cenderung dilupakan.

Penerapan dialektometri, baik dengan teknik segitiga antartitik pengamatan maupun dengan teknik permutasi, dilakukan dengan berpegang pada prinsip-prinsip umum sebagai berikut

1)      Apabila pada sebuah titik pengamatan digunakan lebih dari satu bentuk untuk satu makna, dan salah satu di antaranya digunakan pula di titik pengamatan lain yang diperbandingkan maka antartitik pengamatan itu dianggap tidak ada perbedaan

2)      Apabila antartitik pengamatan yang dibandingkan itu, salah satu di antaranya tidak memiliki bentuk sebagai realisasi dari satu makna tertentu, maka dianggap ada perbedaan.

Di samping metode dialektometri, ada juga yang menggunakan metode leksikostatistik untuk pengelompokan titik pengamatan dalam daerah dialek, yaitu dengan cara menghitung presentase kekognatan antartitik pengamatan. Namun, metode ini kurang relevan untuk penelitian dialek sebab dasar penggunaannya adalah mencari presentase kekerabatan (persamaa), bukan mencari perbedaan seperti yang dilakukan dalam dialektologi. Persamaan yang dimaskud adalah persamaan dari segi sejarah atau berasal dari bahasa induk yang sama (kognat).

2.      Metode Kualitatif (Rekonstruksi –> Variasi dan korespondensi)

Yang dimaksud dengan rekonstruksi bahasa purba (protobahasa), menurut Bynon (1979:71), adalah rakitan teoritis yang dirancang dengan cara merangkaikan sistem bahasa-bahasa/dialek-dialek yang memiliki hubungan kesejarahan melalui rumusan kaidah-kaidah secara sangat sederhana. Rekonstruksi bahasa purba ini dilakukan dengan cara seksama melalui perbandingan data yang dikumpulkan dari sejumlah titik pengamatan yang mencerminkan unsur bahasa purba tersebut.

Dengan adanya rekonstruksi bahasa purba dapat diketahui apakah bahasa-bahasa / dialek-dialek modern yang digunakan penutur sekarang mengalami retensi atau inovasi. Yang dimaksud dengan inovasi adalah perubahan yang terjadi dalam dialek/bahasa yang diteliti, sedangkan yang dimaksud dengan retensi adalah bentuk-bentuk atau unsur-unsur bahasa purba yang dicerminkan dalam dialek/bahasa yang modern.

Rekonstruksi bahasa purba dalam kajian dialektologi mempunyai perbedaan dengan rekonstruksi bahasa purba dalam kajian linguistik historis komparatif. Rekonstruksi bahasa purba dalam kajian dialektologi bertolak dari data subdialek-subdialek/dialek-dialek dalam suatu bahasa, sedangkan rekonstruksi bahasa purba dalam linguistik historis komparatif bertolak dari data bahasa-bahasa yang diasumsikan berasal dari bahasa induk yang sama.

Rekonstruksi bahasa purba dalam dialektologi perlu dilakukan karena hal itu berkaitan dengan persoalan berikut:

(a)     penelusuran subdialek/dialek atau daerah titik pemgamatan yang inovatif dan konservatif

(b)     hubungan antara subdialek/dialek yang satu dengan subdialek/dialek yang lain

(c)      hubungan subdialek-subdialek/dialek-dialek dengan bahasa induk yang menurunkan subdialek-subdialek/dialek-dialek tersebut (Mahsun, 1995:79)

Compiled by: Ikmi Nur Oktavianti & Icuk Prayogi

References: on demand

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s