Prinsip Kerjasama (Cooperative Principles)

19 Apr

Dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari manusia akan selalu bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam berinteraksi dengan orang lain, manusia menggunakan bahasa sebagai media komunikasi. Di dalam komunikasi yang wajar, masing-masing pihak yang terlibat, yaitu antara penutur dan mitra tutur akan selalu berusaha menyampaikan tuturannya secara efektif dan efisien. Hal ini senada dengan pendapat Wijana (1996:450) yang mengatakan bahwa seorang penutur akan berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks, jelas dan mudah dipahami, padat dan ringkas dan selalu pada persoalan sehingga tidak menghabiskan waktu lawan bicara.

Agar tuturan –tuturan dapat diutarakan  dapat diterima oleh lawan bicaranya, penutur pada lazimya mempertimbangkan secara seksama berbagai faktor pragmatik yan terlibat atau mungkin terlibat dalam suatu proses komunikasi tersebut (Wijana, 2004:54). Secara sederhana ada tiga aspek yang dipertimbangkan oleh penutur dan lawan tutur. Aspek-aspek itu adalah prinsip kerjasama, prinsip kesopanan dan parameter pragmatik. Berikut akan diulas salah satunya, yaitu prinsip kerjasama.

PRINSIP KERJA SAMA

Grice (1975:45-47) mengemukakan bahwa wacana yang wajar dapat terjadi apabila antara penutur dan petutur patuh pada prinsip kerja sama komunikasi. Prinsip kerja sama tersebut terdiri dari empat maksim percakapan (conversational maxim), yaitu:

a)      maksim kuantitas (maxim of quantity),

b)      maksim kualitas (maxim of quality),

c)      maksim relevansi ( maxim of relevance)

d)      dan maksim pelaksanaan(maxim of manner).

A.     MAKSIM KUANTITAS

Dalam pertuturan setiap peserta percakapan diharuskan untuk memberi sumbangan informasi yang dibutuhkan saja, dan jangan memberikan sumbangan yang lebih informatif daripada yang diperlukan. Misalnya penutur yang wajar tentu akan memilih tuturan (1) dibanding dengan tuturan (2) :

(1)   Orang buta itu tenyata tukang pijat.

(2)   Orang yang tidak dapat melihat itu ternyata tukang pijat.

Tuturan 1 dianggap lebih efektif dan efisien, serta mengandung nilai kebenaran (truth value). Setiap orang tentu paham bahwa orang buta pasti tidak dapat melihat. Dengan demikian elemen tidak dapat melihat dalam tuturan (2) dianggap berlebihan. Adanya elemen yang tidak dapat melihat dalam (2) dianggap bertentangan dengan maksim kuantitas karena hanya menambahkan hal-hal yang sudah jelas dan tidak perlu diterangkan lagi.

Contoh lain dapat dijumpai dalam kalimat bahasa Inggris dari Beatrice (1997) dalam bukunya Reading Power, sebagai berikut :

(3)   John put on his raicoat, picked up his umbrella from the table near the door, turned off the lights, put out the cat, got ready for his ten-minute walk to the bus-stop

(4)   John went out.

Dalam tuturan yang wajar kalimat  (3) dianggap terlalu panjang. Oleh karena itu untuk mengungkapkan konsep yang sama, tuturan (4) cenderung lebih digunakan.

B.      MAKSIM KUALITAS

Maksim ini mengharuskan setiap peserta pertuturan untuk memberikan sumbangan informasi yang benar. Dengan kata lain baik penutur maupun mitra tutur tidak mengatakan apa-apa yang dianggap salah, dan setiap kontribusi percakapan hendaknya didukung oleh bukti yang memadai. Apabila dalam suatu pertuturan ada peserta tutur yang tidak mempunyai bukti yang memadai mungkin ada alasan-alasan tertentu yang mendasarinya. Perhatikan tuturan (5) berikut ini

(5) A : Ada berapa maksim kerjasama menurut Grice?

B :  Menurut buku Grice yang saya baca, ada empat maksim dalam prinsip kerja

sama.

A :  Maksim apa sajakah itu ?

B :  Maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi dan maksim

cara(pelaksanaan).

Pada contoh di atas, (B)memberi sumbangan informasi yang benar, bahwa menurut buku Grice yang dia baca ada empat maksim, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi dan maksim cara (pelaksanaan).

C.      MAKSIM RELEVANSI

Maksim ini mengharuskan setiap peserta percakapan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan. Perhatikan contoh (7) berikut ini :

(6)   A : There is somebody at the door

B : I’m in the bath.

(Joan Cutting , 2002:36)

Ketika A mengatakan kepada B bahwa ada seseorang yang datang di depan pintu rumah mereka dan berharap B untuk membukakan pintu untuk tamu itu, maka  B mengatakan bahwa dia sedang berada di kamar mandi pada saat itu.  Jawaban B mengimplikasikan bahwa dia mengharapkan A untuk mengerti di mana B berada pada saat itu, sehingga B tidak bisa membukakan pintu dan melihat siapa yang datang pada saat itu. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa keterkaitan antara peserta tutur tidak selalu terletak pada makna ujarannya, tetapi dapat pula terletak pada apa yang diimplikasikan ujaran tersebut.

D. MAKSIM PELAKSANAAN

Dengan maksim ini, para peserta pertuturan diharapkan untuk berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa dan tidak berlebih-lebihan  serta runtut. Dalam wacana tuturan sehari-hari sering dapat dijumpai seorang penutur yang dengan sengaja tidak mengindahkan maksim ini, seperti yang terlihat pada dialog yang diambil dari Parker (1986) di bawah ini:

(7)   A: Let’s stop and get something to eat.

B: Okey, but not M-C-D-O-N-A-L-D-S

(Parker, 1986)

Dalam dialog (10),ejaan dalam tuturan B tersebut bertujuan untuk membuat anak yang menggemari Mc. Donalds tidak menyadari bahwa orangtuanya tidak ingin makan di Mc. Donalds.Seorang penutur harus menafsirkan kata-kata yang digunakan oleh lawan bicaranya. Secara taksa (ambigu) berdasarkan konteks pemakaiannya. Hal ini berdasarkan prinsip ketaksaan (ambiguitas) tidak akan muncul bila kerjasama antara peserta tindak tutur selalu dilandasi oleh pengamatan yang seksama terhadap kriteria-kriteria pragmatik yang digariskan oleh Leech dengan konsep situasi tuturnya. Dialog (8) di bawah ini memberikan gambaran yang nyata mengenai kalimat taksa

(8)   A: Mas aslinya mana ?

B:  Saya aslinya Purworejo, Mbak.

A: Aduh, mas ini GR banget. Maksud saya, KTP asli saya mana ?

Dialog tersebut sering terjadi ketika (A) sedang memfotokopi KTP di sebuah tempat fotokopi di Jogja. Setelah KTP selesai difotokopi, (A) bermaksud meminta KTP yang asli dengan mengatakan “Mas, aslinya mana?” dan ternyata ditafsirkan keliru oleh (B) karena dia menyangka bahwa (A) menanyakan asal-usul dia. Tuturan yang bersifat taksa seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan dapat membuat malu bagi pihak yang salah menafsirkan sebuah tuturan. Oleh karena itu, seyogyanya para peserta tutur menyadari bahwa hanya dengan memberikan kontribusi yang kooperatif maka sebuah komunikasi dapat berjalan dengan wajar.

PELAKSANAAN MAKSIM

Dalam kenyataan berkomunikasi sehari-hari, pelaksanaan maksim-maksim tersebut dapat dibedakan ke dalam dua cara, yakni dengan menaati (observing) ataupun dengan tidak menaati maksim. Kegiatan tidak menaati maksim  dapat dibedakan menjadi dua, antara lain, melakukan pelanggaran terhadap maksim (violating) atau membuat mengambang (flouting).

  1. Ketaatan terhadap Maksim

Bentuk ketaatan (observing) maksim adalah dengan berujar atau berkomunikasi sesuai dengan ketentuan yang dijelaskan dalam tiap-tiap maksim yang telah dijelaskan di atas.

  1. Penyimpangan Maksim

Diantara penyimpangan-penyimpangan dalam prinsip kerjasama adalah sebagai berikut:

1)      Pelanggaran Maksim

a)      Pelanggaran maksim kuantitas

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dalam maksim kuantitas menghendaki tiap peserta tuturan memberi kontribusi yang cukup dan sebanyak yang dibutuhkan oleh lawan bicaranya. Tetapi tidak selalu tuturan tersebut sesuai dengan maksud dan tujuan dari maksim kuantitas, seperti dalam tuturan:

(9)         A: Does your dog bite?

                  B: No

                  A: [Bends down to stroke it and gets bitten] ow! You said your dog doesn’t bite

                  B: That isn’t my dog

                                                    (Joan Cutting: 2002:40)

Dalam tuturan di atas, bisa dijelaskan seperti ini, ketika A berkunjung ke rumah B, di situ ada anjing tetangga B  yang sering berada di teras rumah A. A  bertanya apakah anjing B biasa menggigit, dan B menjawab tidak. A tidak tahu kalau anjing yang berada di depannya itu bukan anjing B. Maka ketika A mencoba bermain-main dengan anjing itu, ternyata anjing itu menggigit, kemudian dia berteriak bahwa  kata B anjingnya tidak suka menggigit, tetapi ternyata anjing itu menggigitnya. B menjawab bahwa anjing yang menggigitnya itu bukan anjingnya. Di sini peserta tuturan baik A dan B tidak memberikan informasi sebanyak yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak, sehingga terjadi kesalahpahaman di antara keduanya.

b)      Pelanggaran maksim kualitas

Terjadi pelanggaran terhadap maksim kualitas jika pembicara tidak mengatakan yang sebenarnya dan memberikan informasi yang keliru. Contoh:

(10)                       Husband: How much did that the new dress cost, honey?

                                Wife      :  Thirty-five pounds (wrong information)

                                           (Joan Cutting: 2002:40)

Di dalam percakapan di atas, si istri tidak  ini mengatakan hal yang sebenarnya ketika suaminya bertanya berapa harga baju baru yang dia beli. Si istri  menjawab pertanyaan suaminya itu dengan menyebutkan harga yang lebih rendah daripada harga yang sebenarnya. Si Istri berusaha untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya, karena dia khawatir kalau suaminya akan marah kepadanya kalau dia tahu bahwa harga baju barunya itu sangat mahal.

c)      Pelanggaran maksim relevansi

Terjadi pelanggaran terhadap maksim relevansi  jika pembicara tidak memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.

Contoh

(11)                        Husband:        How much did the new dress cost, honey?

                               Wife:               I know. Let’s go out tonight

(Joan Cutting:2002:40)

Pada contoh dialog (11), ketika suami bertanya kepada istrinya tentang berapa harga baju baru yang dia beli itu, istrinya  menjawab dengan jawaban yang tidak relevan dengan apa yang ditanyakan oleh suaminya tersebut.

 

d)      Pelanggaran maksim pelaksanaan

Terjadi pelanggaran terhadap maksim pelaksanaan jika pembicara tidak berbicara secara langsung. Tuturannya kabur, taksa (ambigu) berlebihan  dan tidak  runtut.

Contoh:

(12)                        Husband:        How much did the new dress cost, darling?

                               Wife        :       A tiny fraction of my salary, though probably a bigger fraction of the salary of the woman that sold it to me

                                                                                  (Joan Cutting, 2002:40)

Pada contoh dialog (12), ketika suami bertanya kepada istrinya tentang harga baju baru yang   dia beli, istrinya memberikan jawaban yang tidak jelas. Jawabannya kabur dan ambigu.

Compiled by: Ikmi Nur Oktavianti & Ifa Rolyna

Referensi:

Cutting, Joan. 2002. Pragmatics and Discourse: A Resource Book for Students. New York: Routledge

Leech, Geoffrey. 1991. Principle of Pragmatics. London: Longman

Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi

Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s