Kondisi Diglosia di Swiss: Tinjauan Singkat

19 Apr

Menurut Kamus Linguistik (Kridalaksana, 2009), diglosia adalah situasi bahasa dengan pembagian fungsional atas variasi-variasi bahasa yang ada. Satu variasi diberi status “tinggi” dan dipakai untuk penggunaan resmi atau penggunaan public dan mempunyai cirri-ciri yang lebih kompleks dan konservatif, variasi lain mempunyai status “rendah” dan dipergunakan untuk komunikasi tak rsmi dan strukturnya disesuaikan dengan saluran komunikasi lisan.

Dalam situasi diglostik, suatu kelompok masyarakat menggunakan dua bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Ada kontak yang sangat akrab antara kedua bahasa yang digunakan. Untuk kepentingan tertentu digunakan bahasa yang satu, sedang untuk kepentingan lain digunakan bahasa lain. Istilah High merujuk pada bahasa nasional atau bahasa yang formal dan Low untuk bahasa informal dan bersifat kedaerahan. Demikian pula terjadi di Swiss. Jadi masing-masing bahasa (H dan L) memiliki fungsi yang berbeda. Di tingkat awal, pemilahan fungsi kedua bahasa tersebut tampak jelas terpisah. Namun lambat laun, pemilahan fungsi tersebut menjadi tidak jelas. Ketika orang sudah terbiasa menggunakan bahasa nasional, ketika kehidupan nasional sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, lalu terjadi tumpang tindih antar kedua fungsi tersebut. Beberapa tugas dari bahasa L perlahan-lahan diambil alih oleh bahasa H. sebaliknya bahasa-bahasa daerah (bahasa L) tidak dapat digunakan untuk keperluan formal. Akibatnya bahasa L tidak bias berkembang menjadi bahasa yang berkemampuan menyampaikan pesan-pesan yang jelas, namun ringkas dan mudah dikelola.

Bahasa nasional yang berstatus standard itu kemudian mengembangkan ragam informalnya sendiri. Hal ini pula yang terjadi pada bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang mulanya diajarkan secara formal lewat bangku sekolah pada akhirnya berkembang dengan memiliki ragam informal. Karena bahasa Indonesia memiliki ragam informal, maka ragam informal tersebut dapat digunakan oleh masyarakat di daerah untuk bercakap dengan teman dan keluarga dalam situasi santai. Fungsi bahasa L, dalam hal ini bahasa-bahasa daerah, sebagai bahasa informal telah disaingi atau bahkan diambil alih oleh ragam informal bahasa H. Realita yang kita hadapi saat ini, di daerah-daerah di Indonesia, terutama di perkotaan dan di dalam keluarga yang terdidik, percakapan antar anggota keluarga biasa disampaikan dalam bahasa Indonesia ragam informal.

Selain mengembangkan ragam tutur informal, bahasa H dalam tempo singkat juga berkembang menjadi kaya agar dapat digunakan untuk membahasa permasalahan ekonomi, politik, teknologi, hokum, kesehatan dan sebagainya. Selain itu bahasa H juga harus menyerap banyak istilah dari bahasa-bahasa lain, termasuk dari bahasa daerah. Kekayaan perbendaharaan ini mempermudah bahasa H untuk diguankan sebagai sarana percakapan untuk topic-topik yang bersifat kedaerahan. Di Indonesia, frekuensi penggunaan bahasa daerah menjadi berkurang karena untuk membicarakan topic-topik kedaerahan sudah bias disampaikan dengan bahasa Indonesia.

Bentuk diglosia di Swiss merupakan contoh relasi antara bahasa H dan bahasa L yang stabil. Artinya saling pengaruh antara H dan L sudah terhenti. Termasuk di antaranya adalah bahasa H (High German) dan Bahasa L (Swiss German). Bahasa H dan L di Swiss merupakan dialek dari satu bahasa yang sama. Bahasa H (High German) merupakan dialek standard yang digunakan untuk keperluan formal dan bahasa L (Swiss German) merupakan bahasa non-standard. Menurut Reese (2007: 8) penutur asli di Swiss tidak berbicara dengan bahasa standard dalam percakapan sehari-hari. Bahasa L (Swiss German) di Swiss hanyalah dialek non-standard saja. Dialek tersebut secara kebetulan lalu berfungsi sebagai sarana komunikasi yang sifatnya informal. Jadi bahasa L (Swiss German) tersebut tidak perlu digusur posisinya.

 

–Compiled by: Icuk Prayogi (prayogi_be@yahoo.com)

Referensi

Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus linguistik. Jakarta: Gramedia

Resse, Johannes. 2007. Swiss German: The Modern Alemmanic Vernacular in and around Zurich. Munchen: Lincolm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s