Fungsi Pemakaian Dislokasi Kiri dalam Bahasa Indonesia

10 Apr

Tulisan berikut saya ambil dari makalah tugas akhir Deskripsi Bahasa yang berjudul “Dislokasi Kiri dalam Bahasa Indonesia”. Saya terbitkan bagian kecil dari makalah tersebut (tidak mungkin saya publish semuanya, hehehe) yang menyangkut struktur informasi (fungsi pemakaian dislokasi kiri). Barangkali ada yang membutuhkannya. Semoga bermanfaat.ūüôā

**************************************

Pentingnya informasi dalam sebuah proses berbahasa mendapat perhatian khusus pula dalam sintaksis yang selanjutnya dinamakan syntactic choice (pilihan sintaksis). Syntactic choice ini berkaitan dengan pemilihan bentuk atau kemasan informasi seorang penutur sebagai insan yang bebas. Oleh sebab itu, beberapa konstruksi non kanonikal hadir dalam rangka mengemas informasi seapik mungkin. Beberapa diantaranya antara lain Topikalisasi, Dislokasi Kiri, Dislokasi Kanan, Ekstraposisi, dan beberapa lainnya. Konstruksi-konstruksi tersebut dinamakan konstruksi nonkanonikal karena mereka hanya hadir dalam wacana tertentu dengan tujuan pemakaian tertentu pula.

Perhatikan contoh percakapan dalam bahasa Inggris berikut (Aarts, 2001):

(1 )Flora Do you like Belgian beer and Belgian wine?

(1a) Ben [Belgian beer] I like ‚ÄĒ , but [Belgian wine] I hate ‚ÄĒ

Jawaban yang diberikan oleh Ben terdengar kurang lazim. Sederhananya dia bisa mengatakan:

(1b)  I like Belgian beer, but I hate Belgian wine.

 

Akan tetapi, dia memilih struktur sintaksis yang berbeda (1a) yang melibatkan perpindahan dari objek langsung ke posisi awal klausa. Perpindahan ini selanjutnya disebut Topikalisasi. Jawaban Ben seperti itu karena dia ingin menekankan frase Belgiaan beer dan Belgian wine daripada ketika mereka hadir dalam konstruksi pada umumnya mengikuti verba, seperti pada contoh (1b). Dengan kata lain, jawabannya menunjukkan penekanan informasi.

Perhatikan contoh Dislokasi Kiri berikut.

(2)   Susi, dia sakit kemarin.

Bentuk Dislokasi Kiri  ini disebut konstruksi non kanonikal karena kemunculannya yang jarang (hanya dalam wacana tertentu) dan terdapat alternatif konstruksi yang terdengar lebih lazim digunakan, yakni

(2a) Susi sakit kemarin.

Dislokasi kiri sebagai salah satu konstruksi yang berkenaan dengan pengemasan informasi memiliki fungsi-fungsi tertentu. Di bawah ini adalah fungsi-fungsi pemakaian dislokasi kiri (DK), khususnya dalam bahasa Indonesia.

1. DK sebagai penyederhana dalam menyampaikan informasi baru

Dalam fungsi ini, dislokasi kiri bertujuan untuk memperkenalkan informasi baru dengan sederhana, tanpa mempergunakan informasi lama sebagai pembuka. Dengan adanya dislokasi kiri, pengenalan informasi baru cukup dengan memindahkan konstituen yang berisi informasi baru dari posisi sintaksisnya semula ke bagian awal kalimat.

X: Siapa yang membeli buku itu?

Y: Yang membeli buku itu Lisa (konstruksi kanonikal)

Dalam percakapan tersebut, buku itu merupakan informasi lama dan Lisa adalah informasi baru yang ingin diperkenalkan. Dengan menggunakan konstruksi kanonikal, Lisa akan diperkenalkan dengan perantara informasi lama. Cara tersebut adalah yang wajar untuk menjawab pertanyaan di atas. Namun, DK dapat membuatnya lebih sederhana dengan langsung menghadirkan informasi baru tersebut (Lisa) seperti dalam:

Y:  Lisa, dia yang membeli buku itu (DK)

Tidak diperlukan pengantar dalam pilihan jawaban di atas. Informasi baru seketika dihadirkan dengan konstruksi tertentu.

2. DK sebagai pementingan kembali suatu informasi

Dislokasi Kiri berfungsi sebagai pemberitahuan relasi informasi yang disampaikan. Dalam konstruksi ini, konstituen yang di-DK-kan dalam kasus ini bukan merupakan informasi baru. Melainkan informasi lama yang diulang kembali untuk dipentingkan.

Aku sering bertemu adek laki-lakiku. Sebenarnya, semua saudara laki-lakiku sangat dekat denganku. Kakak tertuaku seorang koki dan kakak nomer dua tinggal di Bogor. Adek laki-lakiku, dia baru saja masuk UI.

Informasi mengenai adek laki-lakiku bukan merupakan informasi baru karena telah disebutkan di bagian awal. Kemunculan kembali informasi yang sama dalam konstruksi DK untuk kembali mementingkan informasi tersebut setelah beberapa informasi lain menengahi.

3. DK untuk menunjukkan penonjolan informasi.

Selain sebagai penyederhana dalam penyampaian informasi baru dan sebagai pemnetingan kembali informasi lama , DK juga berperan dalam penonjolan informasi yang ditekankan oleh penutur. Jika kita mendengar atau membaca kalimat berikut

            Linda, dia pergi ke Jakarta

Muncul asumsi kita bahwa kalimat tersebut (pengemasannya) menekankan bahwa yang pergi ke Jakarta itu Linda dan bukan Andi atau Budi atau Ali atau yang lainnya.

Sedangkan bila kita mendengar atau membaca kalimat seperti ini

           (Ke) Jakarta, Linda pergi ke sana

Maka kita akan diajak untuk berasumsi bahwa terdapat penekanan lokasi kepergian Linda (Linda pergi ke Jakarta dan bukan ke Surabaya atau Jogja atau Bandung atau tempat lainnya).

Ketiga kalimat di bawah ini tersusun atas konstituen yang sama, yakni Hujan, sering turun, dan di Bogor. Namun ketiga konstituen tersebut akan menghasilkan penonjolan informasi yang berbeda jika disusun dalam konstruksi yang berbeda.

  1. Hujan sering turun di Bogor.
  2. Di Bogor hujan sering turun.
  3. Di Bogor, hujan sering turun di sana.

Kalimat (1) membicarakan hujan dan digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan di suatu tempat, yaitu Bogor.  Kalimat (2) dan (3) digunakan untuk menggambarkan apa yang terjadi di Bogor tetapi penggunaan kalimat tsb sangat terikat pada prinsip-prinsip wacana. Dilihat dari hubungan sintaksis, hujan tetap sebagai subjek dan di Bogor sebagai ket tempat ketiga kalimat itu.

Dari penjelasan di atas, terlihat jelas bahwa konstruksi sintaksis yang disusun oleh penutur dapat memengaruhi struktur atau alur informasi di dalamnya. Demikian pula dalam konstruksi DK yang tidak dapat dilepaskan dari fungsinya di dalam pemakaian. DK sebagai salah satu pilihan pengemasan informasi merupakan alat untuk memeroleh efek tertentu yang diciptakan oleh penutur terhadap lawan tuturnya.

Compiled by: Ikmi Nur Oktavianti

Referensi:

Gregory, Michelle dan Michaelis, Laura. 2001. Topicalization and Left-Dislocation: A Functional Opposition Revisited. Journal of Pragmatics 33 1665-1706

Lapoliwa, Hans. 1990. Klausa Pemerlengkapan dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Manetta, Emily. 2007. Unexpected Left-Dislocation: An English Corpus Study. Journal of Pragmatics 39 1029 Р1035

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s