Konstruksi Kausatif dalam Bahasa Indonesia

9 Apr

Tulisan berikut ini sekilas membahas perihal konstruksi kausatif dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya tulisan ini saya buat untuk membantu teman saya sewaktu ia hendak membuat paper tugas akhir semester 2. Daripada menumpuk saja di laptop, lebih baik tulisan singkat ini saya share. Siapa tahu ada yang sedang membutuhkan.

 

*************************************

Kausatif bersangkutan dengan perbuatan (verba) yang menyebabkan sesuatu keadaan atau kejadian. (Kridalaksana, 2009:113)

Konstruksi kausatif adalah konstruksi yang menyatakan “x menyebabkan y menjadi z”.

Misal : Ali membuat buku menjadi sobek = Ali menyobek buku.

Konstruksi kausatif dapat dibentuk dengan 3 cara:

  1. Analitis
  2. Morfologis, dan
  3. Leksikal

Bahasa Indonesia juga memiliki konstruksi kausatif dalam bentuk analitis dan morfologis, namun tidak memiliki konstruksi kausatif leksikal. Berikut Uraiannya.

1. Konstruksi Kausatif analitis dalam bahasa Indonesia

Konstruksi analitis maksudnya tidak terdapat leksikon atau perlakuan morfologi khusus untuk membentuk kekausatifan suatu kontruksi. Kausatif bentuk ini diperoleh dari makna keseluruhan konstruksi (kalimat). contoh sederhananya:

Ali membuatku (jadi) sedih.

Dalam kalimat tersebut ada dua unsur, yakni sebab dan akibat:

Aku sedih (akibat) >< ali membuatku sedih (sebab)

Contoh lain:

Ali membuat tali jadi panjang.

Dalam kalimat itu,

Tali menjadi panjang (akibat) >< Ali membuat tali jadi panjang (sebab)

Dalam bahasa Inggris, konstruksi analitis ini bisa dijumpai dengan menggunakan have, made, cause, namun pembentukan kausatif melalui startegi analitis dalam bahasa Indonesia tidak terlalu produktif.

Bahasa Inggris: I have Dina washed my car

Bahasa Indonesia: Aku menyuruh Dina mencuci mobilku. = kurang tepat karena have memiliki nilai rasa yang berbeda dengan menyuruh.

Catatan:

  1. Have, Let, make, cause juga memiliki tingkat atau kadar kausatif yang berbeda-beda.
  2. Dalam konstruksi analitis, bisa saja tindakan dilakukan tanpa sengaja, melakukan sesuatu tapi menyebabkan yang lain terjadi, contoh: Ali membuat tali menjadi panjang (bisa saja Ali tidak sengaja membuat tali tsb, ali melakukan tindakan lain dan menyebabkan tali jadi panjang). Bandingkan dengan, Ali memperpanjang tali = Ali sengaja memperpanjang tali itu.

2. Konstruksi kausatif morfologis dalam bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang cukup produktif menghasilkan konstruksi kausatif dengan perlakuan morfologis terhadap verba, yakni dengan afiksasi.

Afiks yang umum digunakan untuk menyusun konstruksi ini adalah

a. MeN-

Afiks ini pada dasarnya membentuk karakteristik kausatif, perhatikan contoh:

Andi membuka pintu. = pintu terbuka (akibat)

Icuk mendorong Ikmi. = Ikmi jatuh (akibat)

b. MeN-/-kan

Salah satu fungsi afiks meN-/-kan adalah untuk membentuk makna kausatif

Contoh:

Ikmi memutihkan kulitnya. = kulitnya putih (akibat)

Ikmi memerahkan bajunya. = bajunya jadi merah (akibat)

c. MeN-/-i

Contoh:

Membasahi

Icuk membasahi lantai itu. = lantai itu basah (akibat)

d. Memper-

Ali memperpanjang tali. = tali jadi panjang (akibat)

Hakim memperpanjang masa hukuman. = hukuman jadi panjang (akibat)

Pembentukan konstruksi kausatif dengan morfologis verba menambah valensi verba (bahasa Indonesia).

Yang dimaksud dengan valensi, kesanggupan verba itu untuk disertai oleh penyerta lain dalam suatu kalimat. Contoh valensi verba: verba membeli = bervalensi dua  karena diikuti dua penyerta, yakni si pembeli (subjek) dan sesuatu yang dibeli (objek), seperti dalam kalimat: Icuk membeli baju.

Perlakuan morfologis verba konstruksi kausatif bisa menambah valensi verba

Contoh:

a)      Buah itu jatuh. =  verba jatuh hanya bervalensi satu (apa yang jatuh? = subjek)

b)      Ali menjatuhkan buah itu. = verba menjatuhkan bervalensi dua (siapa yang menjatuhkan? dan apa yang jatuh?)

Hal ini karena: dalam konstruksi b di atas (konstruksi kausatif) muncul unsur baru, yaitu si penyebab terjadinya sesuatu (causer) = Ali.

Dalam konstruksi a (non-kausatif) tidak ada penyebab, hanya ada akibat yang ditimbulkan saja.

3. Konstruksi kausatif leksikal

Bahasa Indonesia tidak mempunyai konstruksi kausatif yang dibentuk secara leksikal.

Compiled by: Ikmi Nur Oktavianti

Referensi

Comrie, Bernard. 1981. Language Universals and Linguistic Typology. Oxford: Basil Blackwell

Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s