Aspek (Linguistik)

8 Apr

APA ITU ASPEK?

Verba memuat tiga aspek semantis; aspek (aspect), temporal atau kala (tense) dan modalitas (mood) yang ketiganya masuk ke dalam kategori gramatikal sebab ketiganya diungkapkan melalui proses morfologi yang luas dan teratur.

Berikut ini akan dipaparkan definisi aspek dari beberapa linguis.

Verhaar:

aspek menunjukkan segi arti verba yang berkaitan dengan dimulainya, berlangsungnya, terjadinya, diulang tidaknya, selesai tidaknya, atau adanya hasil tidaknya dari keadaan atau tindakan tersebut.

Kridalaksana (Kamus linguistik):

kategori gramatikal verba yang menunjukkan lamanya dan jenisnya perbuatan; apakah mulai, selesai, sedang berlangsung, berulang, dsb.

Xiao dan McEnery:

aspect is an important linguistic category which relates to the study of linguistic devices that enable a speaker to direct the hearer’s attention to the temporality of a situation, either intrinsic or viewed from a certain perspective.

Dalam bukunya “Aspektualitas dalam Kajian Linguistik”, Tadjudin menyebut aspek dengan aspektulitas dan mendefinisikannya sebagai berikut: aspektualitas adalah subkategori semantik fungsional yang mempelajari bermacam-macam sifat unsur waktu internal situasi (peristiwa, proses, keadaan), yang secar lingual (dalam bentuk bahasa) terkandung di dalam semantik verba.

Aspek pada mulanya berasal dari atau merupakan terjemahan dari istilah Rusia vid. Bahasa Rusia (dan bahasa-bahasa Slav lainnya) memiliki perangkat morfologi pengungkap makna aspektualitas yang teratur dan teramalkan. Anggapan tadi memberikan kesan bahwa studi tentang aspektualitas dalam linguistik umum itu diilhami oleh gejala aspektualitas vid ‘aspek’ dalam bahasa Rusia.

Lyon (1988:705) mengemukakan:

The term aspect is currently used by linguists as rather unsatisfactory, but conventionally accepted, translational equivalent of the term that is employed in Russian (‘vid’) to refer to the opposition of perfective and imperfective in Savonic languages.

Yang dimaksudkan dalam pernyataan tersebut adalah (makna) aspek perfektif yang beroposisi dengan makna aspek imperfektif (kedua aspek tersebut secara lingual masing-masing dinyatakan dalam verba perfektif atau imperfektif) merupakan aspektualitas yang diungkapkan secara gramatikal melalui proses morfologi infleksional yang teratur.

Dalam buku Tadjudin, juga terdapat beberapa definisi dari pakar:

  • Comrie: are different ways of viewing the internal temporal constituency of the situation
  • Johnson: as reference to one of the temporally distinct phases in the evaluation of an event through time
  • Jakonson: deals with temporal values inherent in the activity or state itself
  • Taylor: is the name of the functions of discriminating the kinds of temporal “things” which may be linguistically “located in the sequential order of time”
  • Friedrich: signifies the relative duration or punctuality along a time line

Kesemua definisi itu, baik secara eksplisit maupun secara implisit, menggambarkan dua macam gejala luar bahasa yang berupa unsur waktu (time, temporal, moments) dan situasi (event, action, process, activity). Adapaun unsur waktu yang terutama tampak pada definisi Comrie adalah waktu internal, yang beragam sifatnya, sesuai dengan keragaman sifat situasi, yakni gejala luar bahasa, yang dalam bentuk bahasa diungkapkan melalui berbagai bentuk verba di dalam kalimat.

Berdasarkan pada ciri-ciri tersebut, dapat dikatakan bahwa aspektualitas merupakan kategori semantik fungsional yang mempelajari bermacam-macam sifat unsur waktu internal situasi (peristiwa, proses, atau keadaan), yang secara lingual (dalam bentuk bahasa) terkandung dalam semantik verba.

BEDA ASPEK DENGAN KALA

Berikut ini akan diulas perbedaan aspek dengan kala menurut beberapa pakar.

Menurut Verhaar

Kala menunjukkan waktu keadaan atau tindakan yang diungkapkan oleh verba dalam hubungan dengan saat penuturan. Dalam sistem kala, khususnya, ada banyak perbedaan antar bahasa. Ada bahasa yang tidak memiliki pemarkahan morfologis verbal untuk kala. Dalam bahasa yang memiliki pemarkahan morfologis untuk kala, pemarkahan tersebut bersifat paradigmatis, tidak derivasional. Akhirnya ada juga bahasa dengan sistem kala perifrastis.

Aspek menunjukkan segi arti verba yang berkaitan dengan dimulainya, berlangsungnya, terjadinya, diulang tidaknya, selesai tidaknya, atau adanya hasil tidaknya, dari keadaan tindakan tersebut. Pemarkahan morfologis verbal pada verba tanpa verba bantu untuk aspek agak jarang ditemukan dan lebih-lebih ditemukan dalam predikat perifrastis. Padahal ada juga bahasa dengan aspek verbal yang berciri morfologis dengan contoh utama bahasa-bahasa Slav.

Menurut Comrie:

Kala berkaitan dengan waktu dari suatu situasi yang mengacu pada waktu lainnya, biasanya waktu ujaran. Kala yang paling sering dijumpai dalam kebanyakan bahasa, meskipun tidak semuanya membedakan ketiga kala ini, adalah sekarang, lampau dan akan datang.

Aspek berbeda dengan kala. Misal dalam perbedaan he was reading dan he read, bukan pada kala, karena keduanya berbentuk past tense. Dalam hal ini lah kita berbicara mengenai aspek, dan khususnya pada perbedaan perfektif dan imperfektif sebagai salah satu fokus aspek.

Untuk lebih jelasnya mengenai aspek, Comrie memberikan contoh aspek dalam beberapa bahasa sebagai berikut:

English: John was reading when I entered.

Russian: Ivan cital, kogda ja vose!.

French: Jean lisait quand j’entrai.

Spanish: Juan leia cuando entre.

Italian: Gianni leggeva quando entrai.

Secara sederhana, Comrie membedakan kala dengan aspek dengan istilah:

aspect: situation-internal time

tense: situation-external time

Tadjudin:

Selain itu, perbedaan kala dan aspek menurut Tadjudin:

Pada temporalitas unsur waktu bersifat lokatif, mengacu pada waktu-waktu absolut (minggu lalu, kemarin, besok, lusa, tahun depan) dan/atau waktu relatif (dulu, sekarang, nanti, kelak) dan, pada umumnya, berorientasi pada waktu ujaran (speech moment). Pada temporalitas, dengan demikian, situasi dapat berlangsung sebelum waktu ujaran (kemarin, minggu lalu, dulu, dsb) atau bersamaan dengan waktu ujaran (sekarang, saat ini, hari ini) atau sesudah waktu ujaran (besok, tahun depan, nanti, kelak, dsb).

Pada kategori aspektualitas, waktu bukan merupakan lokasi tempat berlangsungnya situasi, melainkan sebaliknya, situasi itu sendiri yang menjadi lokasi tempat hadirnya waktu; jadi, waktu berada dalam situasi, bukan di luar situasi. Implikasinya adalah bahwa kalau pada temporalitas waktu beranalogi dengan sebutan dulu, sekarang, nanti, maka pada aspektualitas, waktu mengacu pada ukuran panjang/lama, tak terbatas/terbatas. Pendek/sebentar sampai sekejap atau terputus-putus.

Oleh karena itu, temporalitas tergolong kategori deiktik, unsur waktu bersifat eksternal (di luar situasi), dan menunjuk pada lokasi waktu-waktu absolut atau waktu relatif; sedangkan aspektualitas temasuk kategori nondeiktik, unsur waktu bersifat internal (di dalam situasi).

JENIS-JENIS ASPEK

Beberapa pakar memiliki konsep tersendiri mengenai pembagian aspek. Berikut uraiannya:

Comrie:

Comrie membagi aspek ke dalam dua kelompok besar; perfektif dan imperfektif. Berikut adalah bagan klasifikasi oposisi aspek:

1. Perfektif

Comrie mendefinisikan perfektif sebagai:

  • Indicating a short period of time and a punctual or momentary situation
  • Completed action
  • The unmarked members of any aspectual opposision based on perfectivity
  • Action pure and simple

2. Imperfektif

the imperfective form expresses either a habitual situation or a situation viewed in its duration, and the term ‘imperfective ‘ is glossed as ‘ continuous-habitual’ (or ‘ durative-habitual ‘

a.Habitual:

the repetition of a situation, the successive occurrence of several instances of the given situation

b.Progressive:

Progresif sekilas tampak serupa dengan kontinuitas, yang termasuk ke dalam imperfektif yang tidak berkaitan dengan kebiasaan.

Verhaar:

Verhaar membagi aspek sebagai berikut:

Aspek-aspek verbal dapat dibagi menjadi beberapa aspek yang menyangkut beberapa segi dari apa yang diungkapkan oleh verba, yakni permulaan, penyelesaian, hasil, keberlangsungan, pengulangan, kebiasaan, keterikatan pada saat yang tak terbagi, dan keadaan.

1.Permulaan: ada verba inkoatif, menyatakan dimulainya apa yang diartikan oleh verba

2.Penyelesaian: ada yang perfektif dan imperfektif, menyatakan selesai tidaknya tindakan atau berlaku tidaknya keadaan secara definit

3.Hasil: ada yang resultatif an nonresultatif, menyatakan ada tidaknya hasil tindakan atau proses

4.Keberlangsungan: ada yang duratif atau progresif, membawa arti berlangsungnya tindakan atau proses

5.Pengulangan: ada yang iteratif, mengungkapkan sesuatu yang terjadi berulang kali

6.Kebiasaan: ada yang habituatif, menyatakan adanya tindakan sebagai suatu kebiasaan

7.Keterikatan pada saat tak terbagi: ada yang pungtual, membawa arti terjadinya sesuatu pada saat yang tak terbagi

8.Keadaan: ada yang statif, menyatakan keadaan yang tidak berubah, tanpa proses, tanpa ada yang dihasilkan.

Kridalaksana (Kamus Linguistik):

Dalam Kamus Linguistik, Kridalaksana membicarakan tentang beberapa jenis aspek, sebagai berikut:

1)      Aspek augmentatif: aspek yang menggambarkan perbuatan meningkat

2)      Aspek diminutif: aspek yang menggambarkan perbuatan mengurang

3)      Aspek frekuentatif: aspek yang menggambarkan perbutan berulang berkali-kali

4)      Aspek habituatif: aspek yang menggambarkan perbuatan yang menjadi kebiasaan

5)      Aspek inkoatif: aspek yang menggambarkan perbuatan mulai

6)      Aspek inkompletif: aspek yang menggambarkan perbuatan belum selesai

7)      Aspek kompletif: aspek yang menggambarkan perbuatan selesai

8)      Aspek kontinuatif: aspek yang menggambarkan perbuatan berlangsung

9)      Aspek momentan: aspek yang menggambarkan perbuatan berlangsung sebentar

10)  Aspek permansif: aspek yang menggambarkan keadaan permanen sebagai akibat dari perbuatan selesai

11)  Aspek pungtiliar: aspek yang menggambarkan perbuatan yang dipandang sebagai satuan temporal tunggal

12)  Aspek repetitif: aspek yang menggambarkan perbuatan berulang

13)  Aspek sesatif: aspek yang menggambarkan perbuatan berakhir

14)  Aspek simulfaktif: aspek yang menggambarkan perbuatan berlangsung serentak

Dahl:

Dahl membagi aspek ke dalam tiga kelompok besar

  1. Perfective
  2. imperfective
  3. progressif

Selain itu, Dahl juga membagi beberapa kelompok ke dalam dua grup besar, yaitu:

  1. habitual
  2. generics
Compiled by: Ikmi Nur Oktavianti

DAFTAR PUSTAKA

Bussman, Hadumond.1996. Dictionary of Language and Linguistics. New York :  Routledge

Comrie, Bernard. Aspect. 1998. Aspect. Cambridge : Cambridge University Press

Dahl, Osten. 1985. Tense and Aspect System. Oxford : Basil Blackwell

Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik.  Jakarta : PT Gramedia

Tadjudin, Moh. 2005. Aspektualitas dalam Kajian Linguistik. Bandung : PT Alumni

Verhaar, J.W.M. 2006. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s