Mengenal Kuasi-kopula dalam Bahasa Inggris

6 Apr

Berikut ini adalah potongan bagian latar belakang dari tesis saya yang berjudul “Kuasi-kopula dalam bahasa Inggris” (Quasi-copula in English). Barangkali ada yang bertanya-tanya apa sebenarnya kuasi-kopula dan apa menariknya sehingga harus dikaji. Nah, untuk mengetahuinya, selamat membaca tulisan saya ini.🙂

 

Pada dasarnya manusia sudah dibekali dengan tatabahasa kodrati (innate grammar). Hal ini dijelaskan oleh Haegeman (1991:15) bahwa manusia lahir dengan dibekali pengetahuan tatabahasa secara internal (internal knowledge of grammar). Tatabahasa internal berkaitan dengan bagaimana sekumpulan kata dirangkaikan untuk membentuk kalimat. Penutur suatu bahasa akan mampu merangkaikan kata-kata dengan cara yang tidak terbatas, dan bahkan dapat menghasilkan kalimat yang belum pernah didengar atau dibaca sebelumnya. Akan tetapi, kata-kata tersebut tidak dirangkai begitu saja untuk membentuk suatu konstruksi, melainkan  kata-kata tersebut tersusun dengan baik (well-formed). Adapun suatu kalimat yang well-formed adalah kalimat yang gramatikal (syntactically well-formed) dan berterima (semantically well-formed) (Carnie, 2007:13).  Perhatikan contoh di bawah ini.

(1)   #Colorless green ideas sleep furiously.

(2)   *Furiously sleep ideas green colorless.

 (Chomsky,2002:15)

Kalimat (1) merupakan kalimat yang secara sintaksis tidak bermasalah namun terdengar tidak masuk akal (nonsensical) maka dinyatakan secara semantik tidak berterima (nonsensical). Sementara kalimat (2) sudah tampak jelas tidak gramatikal (syntactically ill-formed), selain juga tidak berterima (semantically ill-formed). Kriteria kegramatikalan dan keberterimaan dalam konstruksi akan mendukung kelancaran proses komunikasi. Singkatnya, sebuah kalimat yang baik harus memenuhi kritieria kegramatikalan yang berkaitan dengan aspek sintaksis dan keberterimaan yang berkaitan dengan aspek semantik.

Verspoor dan Sauter (2000:34) menjelaskan kalimat (dalam tulisan) sebagai serangkaian kata yang bergabung bersama dimulai dengan penggunaan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru. Kalimat yang gramatikal terdiri atas setidaknya satu subjek dan satu predikat. Sementara itu, keberadaan subjek dan predikat tersebut pada tiap bahasa dalam konstruksi kalimat merupakan universalitas bahasa (principle) yang tidak khusus dalam bahasa tertentu (not language-specific). Berkaitan dengan hal tersebut, ketentuan yang mengatur bahwa suatu bahasa memperbolehkan subjek berada di posisi awal atau akhir atau subjek dapat dilesapkan atau tidak merupakan properti yang bersifat spesifik dalam satu bahasa yang mungkin berbeda dengan bahasa lainnya atau disebut sebagai parameter perihal principle dan parameter dijelaskan oleh Chomsky [1995:13] dan Haegeman [1991:18]).

Salah satu jenis parameter adalah urutan kata (konfigurasi atau non-konfigurasi) dan kemampuan subjek pronomina untuk dilesapkan atau tidak (pro-drop atau non-pro-drop). Sebagai bahasa konfigurasi dan bahasa non-pro-drop, bahasa Inggris sangat patuh terhadap urutan kata dan tidak memperbolehkan subjek pronomina lesap atau diinversikan ke posisi setelah verba (post-verbal). Oleh sebab itu, kehadiran subjek dan predikat sangat penting dalam menentukan kegramatikalan suatu konstruksi klausa (atau kalimat) dalam bahasa Inggris.

Menurut Halliday (1994:31) subjek adalah pelaku dari tindakan yang disebutkan pada predikat. Subjek juga dapat didefinisikan sebagai konstituen yang menyandang atribut dan predikat diartikan sebagai konstituen yang atributmya disandangkan pada subjek (Dikken, 2006:8).

(3)   The cat devoured the rat.

(Aarts, 2001: 14)

The cat merupakan subjek karena menandakan pelaku tindakan. Selain itu konstituen FN (frase nominal) The cat menyandang atribut devoured the rat. Predikat didefinisikan sebagai konstituen yang menyandangkan propertinya kepada subjek (Dikken, 2006:10). Crystal berpendapat bahwa predikat adalah konstituen utama dalam kalimat selain subjek yang menyandangkan propertinya kepada subjek (2008:381), misalnya tecermin dalam kalimat (4) berikut.

(4)   The car stinks.

(Aarts, 2001:9)

Pada kalimat di atas, the car merupakan subjek (FN) dan verba stinks merupakan predikat (FV). Sementara itu, amati kalimat (5) di bawah ini.

(5)   John hit Mary.

(Moro, 1997:18)

Kalimat tersebut dapat dibagi menjadi John sebagai subjek (FN), verba hit sebagai predikat dan Mary sebagai objek dari verba. Dalam kalimat tersebut predikat merupakan verba dan berkategori leksikal sehingga termasuk ke dalam verba leksikal. Predikat yang demikian dapat atau tidak diikuti objek. Ketika diikuti objek, seperti pada contoh (5), predikat bersama dengan objek membentuk konstruksi predikatif (Sudaryanto, 1979:2).

Menurut Napoli (1989:30) pengisi fungsi predikat juga dapat berupa nomina dan adjektiva. Kedua jenis pengisi tersebut dinamakan predikat non verbal. Amati kalimat berikut.

(6)   The little boy is happy.

 (Verspoor and Sauter, 2000:20)

Kalimat (6) dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yakni the little boy sebagai subjek (FN) dan happy sebagai predikat. Karena happy bukan merupakan verba melainkan adjektiva, ia harus bergabung dengan verba fungsional (be) untuk membentuk konstruksi predikatif. Selain itu, be muncul dalam kaitannya dengan relasi subjek dan predikat. Berikut ulasannya.

Subjek dan predikat sebagai konstruksi inti dari kalimat wajib hadir dan kebersamaan mereka tersebut membentuk relasi tertentu. Dikken (2006:12) mengemukakan bahwa representasi sintaksis dari relasi subjek dan predikat digambarkan dengan cara subjek dan predikat dibangun oleh sebuah relator (dalam struktur fungsi) dan dalam relasi tersebut terdapat kuasa-ko (terminologi kuasa-ko digunakan oleh Lapoliwa [1989:318]; padanan dari C-command [Carnie, 2007:111])  yang bersifat asimetris (yakni antara subjek dan predikat). Selain itu, terdapat relasi intersektif antara subjek dan predikat karena satu konstituen menyandangkan sifat pada konstituen lainnya (Dikken, 2006:17). Dengan kata lain, Dikken menyatakan bahwa semua hubungan subjek dan predikat dimediasi oleh relator. Meminjam konsep teori X-bar (lebih lanjut mengenai teori X-bar baca Carnie [2007:151-192] atau Haegeman [1991:103-105]), relator adalah unsur inti fungsional atau functional head (yang disebut dengan “R”) dari sebuah frase relator (disebut dengan “FR”) yang memperlakukan subjek sebagai penentu (specifier) dan predikat sebagai pelengkap (complement). Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa unsur inti fungsional bukan unsur inti leksikal (lexical head). Berikut adalah konfigurasi fungsi yang digambarkan dalam diagram kurung siku.

 

[RP [ XP SUBJECT] [R’ RELATOR [YP PREDICATE]]]

penentu              unsur inti         pelengkap

 

FN the little boy merupakan penentu dari unsur inti fungsional is dan unsur inti fungsional tersebut memiliki komplemen, yakni predikat non verbal happy. Selanjutnya, subjek the little happy didominasi langsung oleh FR, sedangkan predikat non verbal happy didominasi oleh FA, di bawah FR. Jika merujuk pada teori kuasa-ko, dapat dikatakan bahwa the little boy sebagai FN berkuasa-ko secara asimetris terhadap happy karena happy tidak dapat berkuasa-ko terhadap the little boy. Oleh sebab itu, di antara subjek the little boy dan predikat non verbal happy dihadirkan sebuah relator is yang membangun hubungan pada kedua elemen. Jadi, is merupakan relator.

Berdasarkan jenis-jenis konstruksinya, Dikken (2006) membagi relator menjadi empat jenis, yaitu relator dalam konstruksi berkopula, relator dalam konstruksi atributif, relator dalam konstruksi topik, dan relator dalam konstruksi fokus. Dibandingkan dengan konstruksi lainnya, relator dalam konstruksi berkopula, yakni kopula, merupakan relator yang cukup sering dijumpai dalam bahasa Inggris karena bahasa Inggris menuntut kehadiran kopula untuk mendampingi predikat non verbal dalam klausa ataupun kalimat (Dryer via Shopen, 2007:225). Kopula berasal dari bahasa Latin ‘copula’ yang berarti ‘apa saja yang menghubungkan atau menyatukan’ (Kamus Bahasa Latin—Indonesia, 1969:196). Seperti arti yang termuat pada namanya, fungsi kopula adalah sebagai penghubung. Kopula dalam bahasa Inggris yang lazim digunakan adalah kopula be, misalnya dalam kalimat berikut.

(7)   John is happy.

(Moro, 1997:12)

Akan tetapi, antara pakar satu dan lainnya terdapat perbedaan dalam pengklasifikasian kopula. Sejauh ini pengklasifikasian yang paling lengkap dan memadai dilaksanakan oleh Quirk dkk. (1985:1171-1175) dalam bukunya “A Comprehensive Grammar of the English Language”. Quirk dkk membedakan kopula menjadi kopula pokok (principal copula) be dan beberapa verba yang mempunyai fungsi yang ekuivalen dengan kopula be. Namun, Quirk tidak sendirian. Ada pula beberapa pakar lain yang mempunyai pandangan hampir sama. Radford (2003), misalnya, menyatakan bahwa terdapat beberapa verba yang berekuivalen dengan kopula be seperti become, remain, stay, dan lain-lain karena mereka memiliki fungsi yang sama, yakni sebagai penghubung. Selain itu, Moro (1997:12,171) juga mengemukakan bahwa verba seem berekuivalen dengan kopula be. Menurut Moro (1997:12), verba seem dan kopula be memiliki beberapa properti yang serupa.

Pendapat ini juga didukung oleh Dikken (2006) bahwa kopula termasuk salah satu jenis relator, dan fungsi relator adalah sebagai mediator subjek dan predikat untuk membentuk relasi sintaksis dan semantik. Secara sintaksis, relasi tersebut akan menjembatani keasimetrisan subjek dan predikat. Secara semantik, dengan kehadiran elemen penghubung tersebut, karakteristik yang diemban predikat dapat disandangkan pada subjek (Dikken, 2006). Mengikuti terminologi tradisional, Moro kemudian menyebut seem sebagai kuasi-kopula (quasi-copula) (1997:12). Oleh sebab itu, beberapa verba yang memiliki kesamaan karakteristik dengan kopula be dinamakan kuasi-kopula.

Kata kuasi- berasal dari bahasa Latin quasi- yang berarti ‘seolah-olah, seperti, bagaikan, laksana’ (Kamus bahasa Latin–Indonesia, 1969: 710). Oleh karena itu, kuasi-kopula berarti semi-kopula. Penggunaan istilah kuasi- sebenarnya tidak asing di bidang linguistik. Istilah kuasi-subjek (quasi-subject) dan kuasi-objek (quasi-object) juga diperkenalkan dalam linguistik oleh Farrell dalam bukunya Grammatical Relation (Farrel, 2005). Menurut Farrell (2005:97), kuasi-subjek adalah konstituen yang memiliki sejumlah sifat morfosintaksis subjek yang terbatas. Sementara itu, kuasi-objek adalah konstituen yang mempunyai sekumpulan sifat penentu objek dalam suatu bahasa (Farrell, 2005:97).

Adapun penelitian ini menggunakan terminologi kuasi-kopula dan bukan verba kopula atau verba penghubung (linking verb) karena didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, dengan menggunakan istilah kuasi-kopula semakin jelas bahwa terdapat beberapa sifat yang sama dimiliki oleh kopula dan kuasi-kopula. Penekanannya tertuju pada “beberapa sifat”, tetapi tidak semua sifat. Kedua, dengan mengetahui sejumlah persamaan sifat fundamental, proses identifikasi terhadap sejumlah verba yang diduga berekuivalen dengan kopula be dapat dilakukan.

Pada dasarnya Quirk dkk telah mendata dan mengklasifikasikan verba kopula menjadi current copula atau kopula kondisi terkini dan resulting copula atau kopula hasil. Namun ternyata masih ada hal penting yang harus diperhatikan. Ada kemungkinan beberapa verba lainnya yang mempunyai fungsi ekuivalen dengan kopula be belum tercakup dalam daftar yang dibuat oleh Quirk. Oleh sebab itu, tesis saya bertujuan lebih lanjut untuk:

1. Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kuasi-kopula dalam bahasa Inggris

 

Untuk selanjutnya dapat dilakukan beberapa analisis menyeluruh yang mencakup:

2. Mendeskripsikan struktur sintaksis KK dan relasi ketergantungan antara KK dan komplemennya.

3. Mendeskripsikan pergeseran makna verba leksikal non KK ketika menjadi KK, alternasi, realisasi dan komplementasi KK serta struktur semantik KK.

4. Membuat hipotesis untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kehadiran KK dan mendeskripsikan pemakaian klausa atau kalimat berkuasi-kopula dalam kegiatan berbahasa sehari-hari.

 

*********************************

Jika Anda tertarik untuk membacanya lebih lanjut, silakan hubungi saya.🙂

Salam.

 

Ikmi Nur Oktavianti

ikmino@yahoo.com

@IkmiiiNuuur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s