Linguistik, (Linguistik) Struktural dan Calon Linguis

2 Mar

Seorang teman bertanya pada saya pada suatu kesempatan: “Struktural itu susah, ya?”. Dengan santai saya menjawab “Kalau ada yang bilang susah itu karena mereka enggak mau mempelajarinya, mbak.”
Dan begitulah persepsi yang terpatri dalam pikiran teman-teman di kelas saya. Selain susah, struktural dilabeli sebagai suatu bidang kajian yang kuno atau old-fashioned. Pernah suatu hari seorang teman mengatakan “Ah, struktural itu kuno, enggak berkembang. Saya mau meneliti sesuatu yang baru.”

Saya tidak menyalahkan pendapat teman-teman saya. Mereka bebas untuk berpendapat apapun, termasuk untuk kajian linguistik struktural. But well, let’s just take a look. Saya dan teman-teman saya tersebut berada di naungan “Program Studi Linguistik.” Kemudian apa saja yang ada di dalam Linguistik? Mari kita sebut bidang yang menjadi dasar-dasarnya seperti Fonologi, Morfologi, Sintaksis dan Semantik. Bidang-bidang tersebut mengulas bahasa sebagai struktur, yakni bahasa dikaitkan dengan bunyi bahasa, satuan lingual kata, frase/kalimat dan makna. Dan apakah keempat bidang (Fonologi, Morofologi, Sintaksis dan Semantik) tersebut? Ya, struktural. Keempat bidang yang saya sebutkan tersebut adalah fondasi dasar Linguistik. Dan keempat bidang tersebut pula lah (ironisnya) yang dilabeli “susah, kuno dan tidak berkembang” oleh banyak orang yang belajar Linguistik, termasuk banyak teman-teman saya di kelas. Kalau orang Linguistik sendiri tidak mau mempelajari fondasi dasar keilmuan mereka, lalu siapa lagi? Kalau mereka mengaku diri mereka sebagai linguis, mengapa dasar-dasar keilmuan Linguistik justru mereka lupakan? Fenomena yang membuat saya terheran-heran.

Saya sadar bahwa minat atau ketertarikan masing-masing orang berbeda. Karena Linguistik luas sekali, tentu tidak semua dikuasai dan diperlukan spesifikasi tertentu. Akan tetapi, struktural adalah fondasi. Mari dianalogikan dengan bangunan. Entah nanti akan dibangun apartemen, hotel, gedung perkantoran atau tempat peribadatan sekalipun, semuanya harus dimulai dari membuat fondasi, bukan? Kalau fondasi saja tidak kuat atau malah tidak dibuat, apakah bangunan tersebut akan kokoh? Atau apakah bangunan tersebut bisa disebut “bangunan” kalau tidak punya fondasi?

Kita lihat linguis-linguis barat saja tidak gengsi belajar hal yang disebut-sebut kuno itu. Tengok saja linguis barat seperti Geoffrey Leech. Beliau menulis buku tentang “Principle of Pragmatics” jadi dapat dikatakan beliau jago Pragmatik. Akan tetapi, beliau juga menulis buku “Semantics” dan di dalam bukunya beliau juga membicarakan tentang Sintaksis (dikaitkan dengan Semantik). Apa artinya? Bahwa pakar barat yang menekuni bidang seperti Pragmatik pun juga menguasai struktural. Semua linguis besar (di bidang Linguistik apapun) beranjak dari mempelajari struktural dengan baik. Mereka mempunyai fondasi struktural yang cukup dalam keilmuan mereka. Itu sebabnya kepakaran mereka tidak usah diragukan lagi. Kalau linguis-linguis hebat saja tidak gengsi belajar struktural, mengapa kita yang masih calon linguis ini merasa tidak terlalu butuh belajar struktural dengan berdalih bahwa struktural itu susah? Saya punya keyakinan bahwa orang yang sudah menguasai struktural dengan baik dapat mempelajari bidang-bidang Linguistik lain (sosiolinguistik, pragmatik, analisis wacana, dll) dengan lebih cepat dan mantap. Seperti halnya bangunan yang sudah punya fondasi kuat, mau dijadikan bangunan apapun tentu tidak jadi soal lagi. Bangunannya akan tetap kuat dan kokoh. Linguis-linguis besar contohnya.

Namun, kenyataannya yang saya lihat sendiri (karena saya berada di lingkungan calon-calon linguis), kebanyakan dari mereka “lari” ke bidang seperti pragmatik, sosiolinguistik, atau analisis wacana karena tidak ingin bersentuhan atau belajar struktural. Seorang teman yang termasuk pintar bahkan mengatakan “Aku ga mau ambil tesis struktural. Susah. Yang gampang aja.” Padahal otaknya sudah jauh lebih dari cukup untuk belajar, tapi kemauan yang tidak ada. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa Linguistik tidak hanya butuh orang-orang jenius, tapi butuh orang-orang yang mau terus belajar. Karena apa? Karena bahasa selalu berubah. Keilmuannya tidak pernah berhenti. Selalu ada hal baru, termasuk di ranah struktural. Kalau seseorang tidak mau belajar lagi, bagaimana nasib keilmuan Linguistik? Dan perlu saya tegaskan apa yang saya maksud dengan belajar dalam tulisan ini bukan hanya kegiatan duduk di ruang kelas mendengarkan perkuliahan dosen (kalau itu sih semuanya juga melakukannya sebagai syarat disebut mahasiswa dan for the sake of attendance list), tapi yang saya maksud dengan belajar adalah secara mandiri membaca beragam buku-buku linguistik struktural (tanpa disuruh dosen dan buku-bukunya tidak terpaku pada aliran tertentu), berdiskusi dengan dosen dan teman-teman, berbagi dan saling memperbarui keilmuan. Jujur saja, selama saya kuliah saya hanya punya satu teman (dari lima puluhan mahasiswa di kelas!!!!) untuk berdiskusi persoalan struktural. Cukup ironis, memang.

Kembali ke persoalan teman-teman saya yang tidak mau belajar struktural, mereka akhirnya memilih pragmatik/sosiolinguistik. Akibatnya, yang lari ke pragmatik/sosiolinguistik/analisis wacana tersebut belum punya fondasi struktural yang kuat. Ada juga yang ingin instan dengan “nyemplung” ke aliran tertentu (sebut saja aliran X, salah satu aliran dalam Linguistik, bukan aliran kebatinan) tanpa bekal fondasi keilmuan yang kuat. Bisa ditebak, fondasi mereka rapuh atau malah tidak punya sama sekali. Sekali tendang saja, keilmuan mereka goyah atau malah roboh. Ketika ditanya hal yang paling mendasar atau pertanyaan konseptual, mereka menjawabnya gelagapan atau malah tidak tahu harus menjawab apa. Teman saya yang fanatik dengan aliran X lebih parah lagi. Dia merasa sudah menjadi linguis (dan tentunya sudah belajar Linguistik) hanya dengan menjadi pengikut aliran X. Hmm Linguistics is not that simple. Parahnya, yang kecemplung ke aliran X ini cukup banyak juga di Indonesia. Maklum, Indonesia adalah negara latah. (ah, jadi ngelantur). Tapi akan jadi mengerikan kalau gerakan aliran X ini meluas dan meracuni pola pikir pembelajar Linguistik untuk mengklaim bahwa aliran mereka adalah linguistik. Padahal linguistik yang sebenarnya tidak seperti itu. Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa. Dalam mempelajarinya, mari kita kembalikan hakikat bahasa sebagai bahasa (how languages work), tanpa perlu melabeli diri kita dengan merk tertentu. Fokuskan sudut pandang kita pada bahasa, bukan teorinya. Menurut Pak Sudaryanto (linguis besar Indonesia), bukan persoalan apa teorinya, melainkan bagaimana teori tersebut bekerja dalam menjawab permasalahan yang sedang diteliti. Kalau memang untuk menyelesaikan permasalahan itu butuh banyak teori (teori A,B,C,D,E) pun tidak masalah karena tujuannya bukan penerapan teori tertentu, melainkan pemerian bahasa. Hasilnya: sudut pandang ekletik. Permasalahan yang dihadapi: terselesaikan. Penerapan teori tertentu: no way!

Memang jika seseorang memutuskan menekuni Pragmatik atau menjadi pengikut aliran X tanpa belajar struktural akan lebih singkat waktunya dan lebih cepat selesainya. Tapi, apakah sesuatu yang instan itu identik dengan hal yang keren? Kalau diibaratkan buah, matangnya karena dikarbit. Berbeda dengan buah yang matang alami. Begitu pula orang yang menjadi linguis dengan belajar struktural dulu (bertahap). Tentu akan memakan waktu yang lebih lama, tapi buah yang matang alami rasanya lebih enak, kan? Nah, linguis yang “matang” alami juga lebih keren daripada linguis hasil karbitan. Sayangnya, bangsa kita suka sekali dengan segala sesuatu yang instan, termasuk mau menjadi linguis tanpa belajar struktural.

Di balik kekecewaan saya, ada juga sedikit kebahagiaan untuk dibagi. Belum lama ini saya berhasil “mempengaruhi” salah seorang teman untuk menulis tesis struktural. Saya ajak dia untuk berkenalan dengan frase preposisi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Terdengar sederhana, ya? Tapi topik itu sukses membuat saya merenung semalaman dan melamu saat mengendarai motor untuk memikirkannya. Beberapa finding menarik pun saya bagi dengan teman saya itu (khusunya menyangkut aspek semantis frase preposisi kedua bahasa tersebut). Dalam beberapa kesempatan kami ngobrol tentang topik itu. Saya tunjukkan ketertarikan dan passion saya sewaktu berdiskusi. Yang semula dia merasa kesulitan belajar struktural, akhirnya dia mengatakan “Ternyata struktural itu menarik, ya”. Dia juga berkomentar “Kok teman-teman bilang struktural itu susah, ya.” Well, sekali lagi, kata “susah” hanya ada dalam pikiran mereka yang tidak mau belajar.

Saya tentu tidak bisa (sok) idealis dan berharap semua teman-teman saya lantas mencintai struktural. Saya hanya ingin mereka bersabar dalam proses belajar, memantapkan fondasi struktural (Fonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik) mereka, kemudian memantapkan diri di bidang tertentu dan mencintai keilmuan mereka. Saya juga berharap teman saya yang sudah terlanjur nyemplung di aliran X itu mau sedikit membuka pemikirannya untuk belajar Linguistik yang sebenarnya.

Saya sering iseng-iseng berkhayal seandainya yang memandang struktural susah (at least teman-teman di kelas saya) dan yang terlanjur kecemplung aliran X “menyempatkan” waktunya belajar struktural, pasti mereka punya bekal yang cukup. Kalau pada akhirnya teman-teman saya memutuskan menjadi ahli sosiolinguistik atau pakar pragmatik atau penggerak aliran X sekali pun, dengan bekal struktural yang baik sebagai fondasi, saya sangat yakin mereka dapat menjadi ahli sosiolinguistik atau pakar pragmatik atau penggerak aliran X yang hebat. Dan pasti akan keren sekali dunia Linguistik jika dipenuhi dengan pakar-pakar dengan keilmuan yang mumpuni. Semoga. 

2 Tanggapan to “Linguistik, (Linguistik) Struktural dan Calon Linguis”

  1. Kukuh April 8, 2014 pada 7:10 am #

    sangat menarik, sangat mengilhami. terutama kpd saya yg baru sj ingin trjun ke bidang linguistik. sy jg rencananya ingin melanjutkan di bidang linguistik UGM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s