Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu

2 Mar

Ketika saya bercerita kepada seorang kawan bahwa saya ingin mengkaji bahasa Indonesia secara diakronis dengan mempelajari naskah-naskah lama bahasa Melayu, kawan saya seketika nyeletuk “Harus bahasa Melayu, ya? Mengapa bukan bahasa Jawa?”. Polos sekali. Salah satu bukti bahwa kita tidak terlalu mengetahui sejarah bahasa Indonesia, bahasa nasional kita.

Sebenarnya saya sendiri juga tidak mengetahui dengan baik asal-usul bahasa Indonesia. Saya baru mengetahuinya belakangan ketika saya mulai tertarik untuk belajar bahasa Indonesia secara diakronis (secara historis). Jujur saja, perihal sejarah bahasa Indonesia tidak pernah diajarkan di sekolah (ya, setidaknya di sekolah saya dulu). Akhirnya banyak kesalahpahaman yang muncul di masyarakat. Bahkan seorang kawan baik saya memberitahukan bahwa banyak yang bersikukuh bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia itu berbeda. Saya tertegun. Bagaimana mungkin bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia berbeda kalau mereka berasal dari bahasa yang sama, Bahasa Melayu? (bahkan bahasa Malaysia juga masih disebut bahasa Melayu)

Kekurangtertarikan orang Indonesia terhadap sejarahnya sendiri barangkali memang mengenaskan sehingga informasi mengenai sejarah pun hanya persoalan tanggal-tanggal bersejarah. Bisa saja guru sejarah mengelak bahwa urusan sejarah bahasa harusnya menjadi tugas guru bahasa. Maka ada yang terlupakan oleh para guru bahasa Indonesia, yakni memberitahukan sejarah bahasa Indonesia, bahasa yang menjadi alat pemersatu bangsa. Bahasa yang menyatukan beragam suku bangsa yang berbeda sehingga bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi. Bahasa yang luar biasa. Kalau kita tidak punya kebanggan terhadap bahasa kita kita lalu apa yang kita miliki? Kebanggaan karena mampu menguasai beberapa bahasa asing? Ironis.

Ya, bahasa Indonesia memang berasal dari bahasa Melayu (penegasan ini hanya untuk yang belum mengetahuinya). Bahasa Melayu merupakan bahasa yang termasuk dalam rumpun Austronesia (bersama dengan bahasa Tagalog). Bahasa proto (bahasa “ibu”) yang langsung membawahi bahasa Melayu adalah bahasa proto Melayu yang juga menjadi “ibu” bagi bahasa Jawa, Sunda, dan Madura (Nah, Bahasa Jawa adalah saudara kandung bahasa Indonesia).

Pada abad ke-7 hingga abad ke-19, bahasa Melayu merupakan bahasa yang  menjadi lingua franca jalur perdagangan di Nusantara (saat itu asia tenggara). Letaknya cukup strategis karena berada di jalur perdagangan Selat Malaka. Bahkan para pedagang dari India, Cina dan Eropa pun harus menggunakan bahasa Melayu agar dapat melakukan transaksi dagang. Selain sebagai lingua franca dalam perdagangan, bahasa Melayu juga digunakan sebagai bahasa di istana-istana di Sumatera, Borneo, dan Maluku (Melayu Tinggi). Sebagai bahasa Istana, bahasa Melayu Tinggi mempunyai tatabahasa yang lebih khas dibandingkan dengan bahasa Melayu perdagangan atau disebut sebagai Melayu Pasar/Melayu rendah. Hal ini tidak terlepas dari fungsi praktis bahasa tersebut sehingga cenderung lebih sederhana dan kosakatanya bercampur dengan bahasa-bahasa lain akibat adanya kontak dengan bangsa lain. Akan tetapi, pembedaan Melayu Tinggi dan Melayu Pasar dalam hal ini tidak sama dengan Jawa Kromo dan Jawa Ngoko. Kalau Jawa Ngoko dan Jawa Kromo lebih ke persoalan konteks pemakaian (muda ke tua atau tua ke muda), Pembedaan Melayu Tinggi – Melayu Pasar tidak demikian. Melayu Tinggi merupakan bahasa yang dituturkan di istana (Raja/bangsawan) dan kalangan terpelajar karena orang-orang itulah yang mempelajari tatabahasa. Adapun Melayu Pasar merupakan bahasa yang untuk mempelajarinya tidak memerlukan tatabahasa dan mendapat banyak campuran dari bahasa-bahasa lain karena interaksi dagang. Oleh sebab itu, Melayu Pasar mempunyai konstruksi dan gaya bahasa yang lebih sederhana karena yang dipentingkan adalah tugasnya sebagai alat komunikasi antar bangsa. Selain itu, Melayu Tinggi merupakan bahasa yang dijumpai dalam naskah-naskah melayu (baik yang berhuruf palawa maupun arab jawi).

Seorang Eropa menyebutkan bahwa bahasa Melayu mempunyai posisi yang mirip dengan bahasa Latin di Eropa karena digunakan dalam tulisan resmi. Akan tetapi, sejatinya bahasa Melayu berbeda dengan bahasa Latin. Meskipun sama-sama dipakai sebagai bahasa tulisan, bahasa Melayu juga digunakan sebagai lingua franca meskipun dengan dialek yang berbeda (perlu ditekankan bahwa Melayu Tinggi dan Melayu pasar adalah satu bahasa). Namun tidak demikian dengan bahasa Latin. Bahasa Latin tidak digunakan sebagai lingua franca. Oleh karena itu, tidak sepadan bila bahasa Melayu disamakan posisinya dengan bahasa Latin. Seorang Eropa lain mengibaratkan: apabila berlayar ke Nusantara tanpa menguasai bahasa Melayu adalah sama halnya dengan berlayar ke Eropa tanpa mengerti bahasa Perancis. Dengan kata lain, mereka dapat tersesat atau kebingungan. (bahasa Perancis adalah lingua franca di Eropa).

Seperti halnya bahasa Inggris yang mempunyai periodisasi dan dibedakan menjadi Old English, Middle English, Modern English dan Present-day English, bahasa Melayu juga mempunyai periodisasi seiring pengaruh eksternal. Sayangnya, tidak seperti bahasa Inggris yang meninggalkan bukti-bukti tertulis, bukti tertulis dalam bahasa Melayu tidak banyak. Oleh sebab itu, periodisasi dalam bahasa Melayu tidak bisa dilakukan seperti halnya dalam bahasa Inggris. Periodisasi awal disebut Melayu Kuno oleh Sneddon. Karena adanya pengaruh Hindu, penulisan bahasa Melayu pada saat itu menggunakan huruf Palawa (huruf yang digunakan untuk menuliskan bahasa Sansekerta). Beberapa peninggalan berupa prasasti menunjukkan hal senada. Pada masa Hindu ini, pasti tidak terlepas dari nama besar kerajaan Sriwijaya. Dengan pengaruh Sriwijaya pula, bahasa Melayu tersebar ke Nusantara.

Setelah Islam berganti memberikan pengaruh, bahasa Melayu mulai menyerap istilah-istilah dari bahasa tersebut. Selain itu, bahasa Melayu mulai menggunakan huruf Arab (karena pada dasarnya bahasa Melayu tidak mempunyai aksara sendiri, setidaknya sejauh ini bukti-bukti menunjukkan demikian). Huruf Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu selanjutnya dikenal dengan nama Arab Jawi (huruf Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa disebut Arab Pegon – sekadar informasi). Pada masa inilah kesusastraan Melayu berkembang pesat. Naskah-naskah Melayu bermunculan. Naskah-naskah tersebut menggunakan bahasa Melayu Tinggi dan penuturannya sangat indah dan mendayu-dayu. Sneddon menamai periode ini sebagai periode Melayu Klasik. (meskipun pakar seperti Collins tidak sependapat)

Saat bangsa Eropa mulai berdatangan, kondisi kebahasaan menjadi semakin kaya. Orang-orang Eropa membawa serta barang-barang yang belum pernah ada sehingga istilah-istilah baru pun bermunculan. Hal ini juga menunjukkan bahwa kebudayaan suatu masyarakat semakin berkembang. Kehidupan menjadi semakin kompleks sehingga kata-kata yang ada tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakatnya untuk berkomunikasi. Bangsa Eropa yang pertama menginjakkan kaki di Maluku adalah bangsa Portugis. Selain berdagang, mereka juga menyebarkan agama. Kegiatan penyebaran agama dilakukan dalam bahasa Melayu karena bahasa itulah yang dimengerti di sana (see, orang-orang Portugis mengakui eksistensi bahasa Melayu). Meskipun demikian, kegiatan penyebaran agama tersebut tidak meninggalkan catatan karena Portugis tidak memperkenalkan percetakan. Beberapa bahasa Portugis yang diserap ke bahasa Melayu adalah gereja, Natal, Paskah (merupakan istilah-istilah keagamaan), kaldu, keju, mentega (istilah makanan), lemari, meja dan peniti (istilah sehari-hari), dan masih banyak lagi yang lain (baca Sneddon).

Berbeda ketika Belanda tiba di Nusantara. Belanda Membawa serta teknologi pertambangan modern untuk menggali terowongan. Mereka juga membawa prinsip-prinsip baru persentajaan dam peralatan pelayaran. Yang terpenting, mereka membawa alat-alat percetakan (Baca Collins). Pada masa itu, Belanda (tepatnya VOC) menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa administrasi dan perdagangannya karena posisi bahasa Melayu yang kuat di Nusantara. Penggunaan bahasa Melayu oleh Belanda juga agar mempermudahkan mereka memperluas kekuasaan di Nusantara. Publikasi-publikasi dalam bahasa Melayu pun mulai diterbitkan. Di samping itu, Sneddon berpendapat bahwa pengakuan Belanda terhadap bahasa Melayu adalah karena bahasa mereka sendiri adalah bahasa yang tidak berpengaruh di benua Eropa sehingga akan sulit memperkenalkannya ke daerah jajahan mereka (berbeda kasus dengan bahasa Inggris, Spanyol atau Perancis)

Pada pertengahan abad ke-18, VOC mulai lesu. Meskipun demikian, VOC tetap memperkenalkan Melayu Tinggi di tanah Jawa yang berujung pada penolakan (baca Sneddon). Pada akhirnya Belanda harus menyerahkan wilayah kekuasaannya pada Inggris. Dan saat itu, salah satu punggawa VOC, Rafles, beralih untuk mempromosikan bahasa Jawa yang berujung pada kegagalan. Berikut ditulis oleh Sneddon:

A complaint to the Dutch king in 1842 stated that most officials were unable to understand Javanese and that they tended to use a form of Low Malay unknown to ‘the great mass of the people’. More emphasis was then placed on training Dutch civil servants in Javanese, but still with little success. In 1893, the Batavia-born linguist and civil servant AA Fokker wrote that ‘most young officials quickly gave up speaking Javanese after some desperate attempts — if they ever made them’, shifting thereafter to Service Malay. The inability of Dutch officials to acquire basic communication skills in Javanese, and frequent Dutch discouragement of the use of Dutch by educated Javanese, tended to force both sides into greater use of Malay.

Pada akhirnya bahasa Melayu kembali dipilih oleh Belanda untuk berkomunikasi di Nusantara.

Jika bahasa Malaysia (Melayu) dan Bahasa Indonesia adalah bahasa yang sama, apa yang memisahkan keduanya? Di sinilah titik perpisahan itu, saat terjadi perjanjian antara Belanda dan Inggris tahun 1824 yang dikenal dengan nama Traktaat London. Keduanya sepakat untuk membagi kekuasaan. Yang dijadikan patokan adalah pusat kesustraan Melayu. Baik Belanda maupun Inggris setuju bahwa Riau-Johor (salah satu kerajaan Melayu) adalah pusat kesusteraan Melayu atau Melayu Tinggi. Oleh sebab itu, mereka berbagi kekuasaan dengan ketentuan Riau menjadi milik Belanda dan Johor (kini Malaysia) menjadi milik Inggris. (selengkapnya perihal Traktaat London dapat dilihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_London_tahun_1824)

Beranjak dari momen inilah bahasa Melayu Riau (yang sekarang menjadi bahasa Indonesia) banyak mendapat pengaruh dari peran bangsa dan bahasa Belanda dan bahasa Melayu Johor (bahasa Melayu Malaysia) banyak dipengaruhi oleh bahasa Inggris (bahasa Malaysia banyak menyerap kosakata bahasa Inggris yang ejaannya disesuaikan, contoh: “saiz” (serapan dari size) = ukuran).

Rentetan kisah singkat di atas merupakan bukti bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu (keduanya pada dasarnya satu bahasa saja). Ketika pada akhirnya nama “bahasa Indonesia” dipilih adalah persoalan kemudian yang terkait dengan upaya kemerdekaan dari Belanda. Titik penting berikutnya dalam sejarah bahasa Indonesia adalah saat Sumpah Pemuda. Tentu kita tahu isi naskah Sumpah Pemuda di bawah ini, bukan?:

“Kami putra putri Indonesia berbahasa satu, bahasa Indonesia”

Mulai saat itulah bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa di Indonesia sekaligus sebagai alat perjuangan meraih kemerdekaan.

Jika Anda (masih) tidak setuju (atau mungkin tidak percaya) dengan tulisan saya, sila baca beberapa buku sejarah bahasa Indonesia. Saya akan merekomendasikan beberapa di antaranya pada daftar pustaka di bawah tulisan ini. Selamat menelusuri sejarah dan selamat menikmati kebanggaan sebagai penutur bahasa Indonesia (bahasa Melayu), bahasa yang pada masanya pernah menjadi bahasa besar dunia dan diakui orang-orang Eropa. Sekarang? Hmm anak-anak mudanya lebih bangga berbicara dengan bahasa asing. Padahal bahasa sendiri saja belum tentu sudah baik. Saya sendiri sih (jujur) malu sekali. Status sudah mahasiswa S2, tapi bahasa Indonesia saya berantakan (mari dicek lagi bahasa Indonesia Anda). Tapi, saya tidak pernah gengsi belajar. Saya lantas sering bertanya pada teman saya yang bahasa Indonesia-nya jauh lebih jago. Lambat laun saya jadi tertarik mempelajari bahasa Indonesia. Pelan-pelan saya mengkajinya dari sudut pandang diakronis juga. Mengerikannya, orang Indonesia sendiri tidak tertarik untuk meneliti bahasanya. Alhasil, referensi penelitian tentang bahasa Indonesia masih minim. Kalaupun ada, yang menulis adalah linguis bule dan pasti karya-karya mereka susah didapatkan di Indonesia. Saya jadi makin semangat untuk memberikan kontribusi yang berkaitan dengan bidang ilmu saya, bahasa. Lalu persoalan apakah saya banting setir dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia tentu tidak menarik untuk dibahas di sini (saya cinta bahasa Indonesia, tapi bahasa Inggris yang tercetak di Ijazah S1). Yang jelas, bahasa Indonesia tidak kalah keren dari bahasa Inggris (dan bahasa apapun di dunia ini) dan siapa lagi yang bangga memakainya dan (utamanya) mau menelitinya kalau bukan penutur aslinya sendiri?

Daftar Pustaka

Collins, James. 2005. Bahasa Melayu Bahasa Dunia: Sejarah Singkat. Jakarta: Yayasan Obor

Hollander, J.J. (…) Pedoman Bahasa dan Sastra Melayu. Jakarta: Balai Pustaka

Sneddon, James. 2003. The History of Indonesian Language and Its Role in Modern Society. Sidney: UNSW Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s