Daftar Buku tentang Perubahan Bahasa (Language Change)

13 Feb
Salah satu hal yang pasti dalam bahasa–dan juga hampir semua aspek kehidupan–adalah perubahan. Bahasa pasti berubah. Tak mengherankan apabila kajian perubahan bahasa sangat memikat. Berikut buku-buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca sebelum mendalami bidang ini.
Untuk pemahaman dasar, ada baiknya membaca buku-buku pengantar ihwal perubahan bahasa berikut.
  1. Language Change: Progress or Decay – Jean Aitchison
  2. On Language Change: The Invisible Hand in Language – Rudi Keller
  3. Why do Languages Change – R. L. Trask
  4. Language: Its Nature, Development, and Origin – Otto Jespersen
  5. Language Change: R.L. Trask

 

Bacaan lanjutan

  1. Lexicalization and Language Change – Laurel Brinton and Elizabeth Traugott
  2. Language Contact and Grammatical Change – Bernd Heine and Tania Kuteva
  3. The Handbook of Language Variation and Change – J.K. Chambers, Peter Trudgill, Natalie Schilling-Estes (Eds.)
  4. Linguistic Universals and Language Change – Jeff Good
  5. Creoles, Contact, and Language Change – Genevieve Escure and Armin Schwegler (Eds.)
  6. Language Change and Cultural Transformation – Roger Blench and Matthew Spriggs (Eds.) –> berisi kumpulan tulisan yang mengkaji keterkaitan perubahan bahasa dengan transformasi kultural masyarakatnya

 

Perkembangan Bahasa

  1. A History of the English Language – Albert C. Baugh
  2. A History of English: From PIE to Proto-Germanic – Don Ringe
  3. Changes in Contemporary English – Geoffrey Leech et al (Eds.)
  4. From OV to VO in Early Middle English – Carola Trips
  5. The Oxford Introduction to Proto-Indo-European and Proto-Indo-European World – J.P. Mallory and D.Q. Adams
  6. Prehistory of Indo-Malaysian Archipelago – Peter Bellwood

 

Perubahan Satuan Lingual

  1. Diachronic Change in the English Passive – Junichi Toyota
  2. A Natural History of Infixation – Alan C.L. Yu
  3. The Development of -doom, -hood, and -ship in the History of English – Carola Trips
  4. Valency Changes in the History of English – Elly van Gelderen
  5. English Auxiliaries Structure and History – Anthony R. Warner
  6. Sound Change and the History of English – Jeremy Smith
  7. The Germanic Strong Verbs: Foundations and Development of a New System – Robert Mailhammer

 

Linguistik Historis/Diakronis

Perubahan bahasa terjadi dalam kurun waktu tertentu. Oleh sebab itu, referensi-referensi pengantar linguistik diakronis atau linguistik historis wajib dibaca karena bidang tersebut sudah pasti mendeskripsikan perubahan bahasa: bentuk apa yang berubah (inovasi) dan apa yang masih bertahan (retensi).

  1. Historical Linguistics: An Introduction – Lyle Campbell
  2. Historical Linguistics: An Introduction – Winfred P. Lehmann
  3. An Introduction to Historical Linguistics – Terry Crowly
  4. Diachronic Syntax – Ian Roberts
  5. Diachronic Clues to Synchronic Grammar – Eric Fuss and Carola Trips (Eds.)

 

Daftar ini masih jauh dari sempurna. Perlahan namun pasti, saya akan melengkapinya. Untuk bahasa Indonesia, sudah saya bahas secara khusus dalam tulisan saya sebelumnya (Referensi Wajib untuk Kajian Diakronis Bahasa Indonesia). Silakan disimak.

Semoga bermanfaat.

 

Salam,

Ikmi Nur Oktavianti

Pembidangan dalam Linguistik

12 Agu

Linguistik adalah ilmu bahasa (bahasa manusia). Objek ilmu ini adalah bahasa. Bahasa yang dimaksud adalah bahasa sehari-hari (atau fenomena lingual). Yang primer (utama) adalah bahasa lisan, dan yang sekunder adalah bahasa tulis.

Linguistik punya tiga kategori yang selanjutnya akan membagi linguistik dlm sub-sub disiplinnya, yakni mengkaji (1) bentuk, (2) “meaning”, dan (3) konteks. Dari ketiga kategori tersebut nantinya akan berkaitan dengan (a) struktur, (b) arti dan makna, serta (c) konteks intralingual dan ekstralingual. Berdasarkan pengkategorian tersebut, linguistik dapat dibagi menjadi dua bidang besar: linguistik minor dan linguistik mayor.

Linguistik minor biasanya berurusan dengan form (bentuk), struktur, serta grammar (tatabahasa). Namun, ada pula yang menganggap makna intralingual juga termasuk di dalamnya. Linguistik minor ini kadang disebut juga linguistik umum atau “general linguistics”, terkadang disebut juga linguistik struktural. Tanpa kemampuan menganalisis linguistik minor, mustahil seseorang dapat menguasai linguistik mayor dengan baik. Berikut adalah daftar subdisiplin linguistik minor:
(1) Fonologi (dibantu oleh fonetik [ilmu tentang bunyi bahasa])
(2) Morfologi
(3) Sintaksis
(4) Semantik (koteks–bukan konteks)

Fonologi berurusan dengan bentuk terkecil yang distingtif, baik dalam kata maupun bentuk yang lebih besar.
Morfologi berurusan dengan satuan gramatikal terkecil. Satuan terkecilnya disebut morfem, satuan terbesarnya adalah kata. Karena urusannya grammatikal (tatabahasa), maka sintaksis–ilmu yang meneliti pengaturan kata–juga berkaitan erat dengan morfologi. Sintaksis dan morfologi adalah dua bidang yang biasa disebut dengan istilah tradisional TATABAHASA (GRAMMAR). Sementara itu, semantik adalah ilmu yang meneliti arti formal (umum, lepas dari konteks) dari bentuk-bentuk bahasa yang ada, baik berupa kata, frase, klausa, maupun kalimat.

Adapun linguistik mayor biasanya berkaitan dengan ekstralingual atau dengan kata lain: kaitan antara bahasa dengan hal-hal di luar bahasa.
Berikut cabang2nya:
(1) pragmatik
(2) analisis wacana
(3) sosiolinguistik
(4) antropolinguistik/etnolinguistik
(5) dialektologi
(6) psikolinguistik
dan lain-lain
Pragmatik menangani hubungan antara bahasa dan konteks pemakaiannya dalam kehidupan sehari-hari. Sosiolinguistik adalah hubungan antara bahasa dan pemakaiannya dalam lingkup sosial masyarakat. Antropolinguistik adalah hubungan antara linguistik dengan kebudayaan. Dialektologi menangani dialek dalam pemakaian berdasarkan areanya.

Sebenarnya masih ada bidang-bidang lain dari linguistik sinkronis, yakni linguistik kogntitif, tipologi bahasa, linguistik komputasional, atau neurolinguistik. Bidang-bidang linguistik di atas disebut juga linguistik sinkronis atau linguistik yang meneliti bahasa pada suatu masa saja.

Sementara itu, ada juga linguistik diakronis, yang meneliti perubahan bahasa dari masa ke masa. Ilmunya disebut dengan Linguistik Historis Komparatif. Disebut komparatif karena tujuannya adalah membandingkan fitur-fitur linguistik untuk mencari kekerabatan bahasa. Etimologi (ilmu yang meneliti asal-usul bahasa) adalah bagian dari linguistik diakronis.

Nah, itulah gambaran linguistik secara umum dari kacamata @KenalLinguistik. Bidang-bidang linguistik di atas terkadang dikontraskan dengan linguistik terapan, yang tujuannya berbeda dengan tujuan linguistik pada umumnya. Ada juga pembedaan antara linguistik deskriptif dan linguistik preskriptif. Untuk lebih jauh lagi, silakan googling.

Versi yang kami susun adalah yang standard karena beberapa pakar membedakannya dengan cara yang berbeda-beda. Mari kenal linguistik lebih jauh! ^___^

 

disusun oleh: Icuk Prayogi (@icukprayogi) dan Ikmi Nur Oktavianti (@ikmiiinuuur)

Salam,

@kenallinguistik

Mengenal Perbedaan Semantik dan Pragmatik

27 Jul

Kajian tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja dalam komunikasi manusia berupa bahasa telah mendapatkan perhatian dari para ilmuwan di masa lalu. Ilmu tentang hubungan antara penanda dan petanda itu disebut semiotika. Morris (1938) mengatakan bahwa dalam semiotika terdapat tiga bidang kajian, yakni sintaksis (syntax), semantik (semantics), dan pragmatik (pragmatics). Sintaksis adalah kajian tentang hubungan formal antartanda; semantik menganalisis hubungan tanda dengan objek tanda tersebut (designata); sedangkan pragmatik melihat hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda itu.

Pragmatics is that portion of semiotic which deals with the origin, uses and effects of signs within the behavior in which they occur; semantics deals with the signification of signs in all modes of signifying; syntactics deals with combinations of signs without regard for their specific significations or their relation to the behavior in which they occur” (Morris, 1946: 219 via Bach 1999:81).

Ketiga bidang tersebut memperlakukan dan mempelajari tanda secara berbeda-beda. Adapun dalam makalah ini, akan direpresantasikan perbedaan kajian tanda bahasa antara dua bidang, yakni semantik dan pragmatik, dari ketiga bidang tersebut.

Sekilas Semantik

Semantik (Bahasa Yunani: semantikos, memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Kata kerjanya adalah‘semaino’ yang berarti ‘menandai’atau ‘melambangkan’. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda-tanda linguistik (Perancis : signé linguistique).

Menurut Ferdinand de Saussure, tanda lingustik terdiri atas komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa, dan komponen yang diartikan atau makna dari komopnen pertama. Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambangkan adaah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang lazim disebut sebagai referent/acuan/hal yang ditunjuk. Jadi, semantik adalah Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya; atau salah satu cabang linguistik yang mengkaji tentang makna bahasa (Hurford, 1984:1).

Sekilas Pragmatik

Pragmatik adalah kajian tentang hubungan antara bahasa dengan konteks ditatabahasakan atau yang dikodekan pada struktur bahasa (Pragmatics is the study of those relations between language and context that are grammaticalized, or encoded in the structure of a language) (Levinson, 1985: 9). Dengan kata lain, pragmatik adalah studi tentang penggunaan bahasa dalam konteks. Pragmatik berfokus pada bagaimana penutur atau penulis menggunakan pengetahuan mereka untuk menyatakan suatu makna (Bloomer, 2005:78).

Perbedaan konvensional

Semantik dan pragmatik adalah dua cabang utama dari studi linguistik makna. Keduanya diberi nama dalam judul buku itu dan mereka akan diperkenalkan di sini. Semantik adalah studi dari untuk arti: pengetahuan akan dikodekan dalam kosakata bahasa dan pola untuk membangun makna lebih rumit, sampai ke tingkat makna kalimat. Adapun pragmatik berkaitan dengan penggunaan alat-alat ini dalam komunikasi yang bermakna. Pragmatik adalah tentang interaksi pengetahuan semantik dengan pengetahuan kita tentang dunia, mempertimbangkan konteks yang digunakan. Secara konvensional, perbedaan antara semantik dan pragmatik dinilai berdasarkan tiga hal: (1) linguistics meaning vs. use, (2)truth-conditional vs. non-truth-conditional meaning, dan (3) context independence vs. context dependence (Bach, dalam Turner 1999:70). Berikut penjelasannya.

Linguistics meaning vs. use

Linguistics meaning atau makna linguistik (bahasa) dibedakan dengan use atau pemakaiannya. Secara sepintas, semantik dan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang sama-sama menelaah makna-makna satuan lingual. Perbedaannya, semantik mempelajari makna linguistik atau makna bersifat internal, sedangan pragmatik mempelajari makna penutur atau makna dalam penutur dan bersifat eksternal yang berhubungan dengan konteks. Dengan kata lain, semantik mempelajari arti harfiah dari sebuah, ide sedangkan pragmatik adalah makna tersirat dari ide yang diberikan.

Bila diamati lebih jauh, makna yang menjadi kajian dalam semantik adalah makna linguistik (linguistics meaning) atau makna semantik (semantic sense), sedangkan yang dikaji oleh pragmatik adalah maksud penutur (speaker meaning atau speaker sense) (verhaar, 1977; Parker, 1986:32). Semantik adalah telaah makna kalimat (sentence), sedangkan pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterance). Semantik adalah ilmu linguistik yang mempelajari makna yang terkandung di dalam morfem, kata, frasa, dan kalimat yang bebas konteks. Makna linguistik di sini adalah makna yang terdapat di dalam bahasa, yang distrukturkan di dalam dan oleh sistem bahasa, yang dipahami lebih kurang sama oleh para penutur dalam kegiatan berkomunikasi secara umum dan wajar (Subroto, 1999:111). Dalam pragmatik maksud penutur (speaker meaning atau speaker sense) yaitu bahwa sense berhubungan erat dengan suatu system yang kompleks dari elemen linguistik, yaitu kata-kata. Sense menitikberatkan pada makna kalimat dan hubungannya dengan makna kata (Palmer, 1981:9). Dapat dikatakan bahwa maksud penutur di sini tidak terlepas dari konteks kalimat, apa yang dimaksud penutur belum tentu sama dengan yang dimaksud oleh lawan tutur.

Dalam pragmatik jika dalam pemakaiannya terjadi kesalahan pemakaian tatabahasa yang disengaja oleh penutur, maka dikatakan bahwa terdapat maksim(-maksim) tindak tutur yang dilanggar. Sementara itu, semantik tidak menganalisis bahasa dari sisi pemakaiannya sehingga jika terjadi kesalahan penutur yang disengaja, semantik tidak dapat menentukan meaning sesungguhnya dari penutur tersebut karena hanya didasarkan atas meaning secara umum.

Contoh:

Dalam kalimat berikut, B menjawab pertanyaan A dengan setidaknya tiga kemungkinan cara untuk menyatakan ”belum” atau “tidak ingin makan”.

A : siang ini kamu sudah makan?

B(1) : saya belum makan. Tapi saya tidak ingin makan.

B (2) : saya sudah makan barusan. (berbohong)

B(2) : saya masih kenyang, kok.

Untuk mengatakan maksudnya, B setidaknya dapat mengutarakan dengan tiga tuturan: B(1) secara langsung menyatakan maksud dan alasannya; B(2) dengan berbohong, secara tidak langsung ia menyatakan tidak ingin makan; B(3) demi alasan kesopanan, dan secara tidak langsung juga, mengimplikasikan ia tidak ingin makan. Untuk menjawab pertanyaan A, meskipun juga tidak dapat menjelaskan dengan sangat tepat, semantik hanya dapat menganalisis meaning dengan jelas pada kalimat B(1) karena kalimat tersebut secara langsung menjawab pertanyaan A, namun semantik tidak dapat menjelaskan secara tepat meaning dari B(2) dan B(3) karena B menjawabnya secara tidak langsung sehingga memerlukan pemahaman terhadap situasi di sekitarnya.

Truth-conditional vs. non-truth-conditional meaning

Cruse (2006:136) memuat perbedaan-perbedaan antara semantik dan pragmatik. Semantik berhubungan dengan aspek-aspek truth conditional makna, yaitu jika sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis, misalnya ‘kucing menyapu halaman’ adalah yang tidak berterima secara semantik karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika.

Blackmore mengutarakan tentang truth conditional semantics, yaitu apabila kita melihat suatu frasa/kalimat/satuan bahasa yang dapat diverivikasi kebenarannya, satuan bahasa berhubungan dengan aspek-aspek makna yang bebas konteks, misalnya kata “I’m sorry” sulit untuk menemukan verifikasi apakah orang yang menyatakan frasa tersebut benar-benar minta maaf atau tidak.

Semantik berhubungan dengan aspek-aspek makna konvensional, yakni bahwa terdapat hubungan yang tetap antara makna dan bentuk serta semantik berhubungan dengan deskripsi makna sehingga dikatakan bahwa semantik mengambil pendekatan formal dengan memfokuskan bentuk fonem, morfem, kata, frasa, klausa dan kalimat. Sementara itu, pragmatik berhubungan dengan aspek-aspek non-truth conditional makna, berhubungan dengan aspek-aspek yang memperhitungkan konteks, berhubungan dengan aspek-aspek makna yang tidak looked up, tetapi worked out pada peristiwa penggunaan tertentu dan pragmatik berhubungan dengan penggunaan-penggunaan makna tersebut, oleh karena itu pragmatik dikatakan mengambil pendekatan fungsional.

Context independence vs. context dependence

Yang dimaksud dengan makna secara internal adalah makna yang bebas konteks (independent context); maksudnya, makna tersebut dapat diartikan tanpa adanya suatu konteks atau makna yang terdapat dalam kamus, sedangkan makna yang dikaji secara eksternal, yaitu makna yang terikat konteks (context dependent) maksudnya satuan-satuan bahasa dalam suatu tuturan tersebut dapat dijelaskan apabila ada suatu konteks, yaitu konteks siapa yang berbicara, kepada siapa orang itu berbicara, bagaimana keadaan si pembicara, kapan, dimana, dan apa tujuanya sehingga maksud si pembicara dapat dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. Tanpa memahami konteks, lawan tutur bahasa akan kesulitan memahami maksud penutur. Konteks di sini meliputi tuturan sebelumnya, penutur dalam peristiwa tutur, hubungan antar penutur, pengetahuan, tujuan, setting social dan fisik peristiwa tutur (Cruse, 2006:136).

Contoh :

1. Prestasi kerjanya yang bagus membuat ia dapat diangkat untuk masa jabatan yang kedua

2. Presiden itu sedang menuruni tangga pesawat

Dalam contoh di atas kata bagus dan presiden mempunyai makna semantik atau makna secara internal, sedangkan secara eksternal, bila dilihat dari penggunaanya kata bagus tidak selalu bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’. Begitu juga presiden tidak selalu bermakna ‘kepala negara’ seperti dalam contoh:

3. Ayah : Bagaimana nilai ujianmu?

Budi : Iya, hanya dapat 50, pak.

Ayah : Bagus, besok jangan belajar.

4. Awas, presidennya datang!

Kata bagus dalam (3) tidak bermakna ‘baik’ atau tidak buruk’, tetapi sebaliknya. Sementara itu, bila kalimat (4) digunakan untuk menyindir, kata presiden tidak bermakna ‘kepala negara’, tetapi bermakna seseorang yang secara ironis pantas mendapatkan sebutan itu. Sehubungan dengan keterikatan itu tidak hanya bagus dalam dialog (3) bermakna ‘buruk’, melainkan besok jangan belajar dan nonton terus saja juga bermakna ‘besok rajin-rajinlah belajar’ dan ‘hentikan hobi menontonmu’.

Berlawanan dengan banyak formulasi yang telah muncul sejak awal perumusan Morris

pada tahun 1938, perbedaan semantik-pragmatik tidak

tidak sesuai antara satu perumusan dengan perumusan lainnya(Bach dalam Turner, 1999: 73).

Menurut Bach, perumusan perbedaan semantik-pragmatik dapat mengambil perbedaan dengan mengacu pada fakta-fakta bahwa:

• hanya isi literal yang relevan secara semantis

• beberapa ekspresi sensitif dalam hal konteks terhadap makna

• konteks yang dekat cukup relevan dengan semantik, namun untuk konteks luas lebih dekat ke pragmatik

• non-truth-conditional (kebenaran-tak-bersyarat) menggunakan informasi terkait agar bahasa dapat dikodekan

• aturan dalam menggunakan ekspresi tidak menentukan penggunaannya secara aktual

• kalimat yang diucapkan sebenarnya adalah fakta pragmatis

Sejumlah perbedaan istilah

Untuk menggambarkan perbedaan semantik-pragmatik adalah dengan membandingkan sejumlah istilah pada semantik dan pragmatik:

• type vs. token

• sentence vs. utterance

• meaning vs. use

• context-invariant vs. context-sensitive meaning

• linguistic vs. speaker’s meaning

• literal vs. nonliteral use

• saying vs. implying

• content vs. force

Perbandingan “meaning” antara studi pragmatik dan semantik

Dalam komunikasi, satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. Untuk maksud “menyuruh” orang lain, penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif, kalimat deklaratif, atau bahkan dengan kalimat interogatif. Dengan demikian, pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act), sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna.

Leech, (1983:8) mempermasalahkan perbedaan antara ‘bahasa’ (langue) dengan ‘penggunaan bahasa’ (parole) yang berpusat pada perbedaan antara semantik dan pragmatik. Langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak, sedangkan yang dimaksud dengan parole adalah pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa, sifatnya konkret, yaitu realitas fisis bahasa yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain. Pragmatik dan semantik memiliki kesamaan objek bahasan, yaitu berhubungan dengan makna. Kedua bidang kajian ini berurusan dengan makna, tetapi perbedaan di antara mereka terletak pada perbedaan penggunaan verba to mean berarti :

1. What does X mean? (Apa artinya X)

2. What did you mean by X (Apa maksudmu dengan X)

Dengan demikian dalam pragmatik makna diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa, sedangkan dalam semantik, makna didefinisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan-ungkapan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan petuturnya.

Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua sisi (dyadic relation) atau hubungan dua arah, yaitu antara bentuk dan makna, sedangkan pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga sisi (triadic relation) atau hubungan tiga arah, yaitu bentuk, makna, dan konteks. Dengan demikian, dalam semantik makna didefinisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan-ungkapan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan petuturnya, sedangkan makna dalam pragmatik diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa.

Hubungan antara bentuk dan makna dalam pragmatik juga dikaji oleh Yule (2001:5). Ia mendefinisikan pragmatik sebagai studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan manusia si pemakai bahasa bentuk-bentuk itu. Definisi ini dipertentangkan dengan definisi semantik, yaitu sebagai studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dengan entitas di dunia bagaimana hubungan kata dengan sesuatu secara harfiah. Lebih lanjut Yule menegaskan bahwa analisis semantik berusaha membangun hubungan antara deskripsi verbal dan pernyataan-pernyataan hubungan di dunia secara akurat atau tidak, tanpa menghiraukan siapa yang menghasilkan deskripsi tersebut.

Frawley memberikan batasan makna yang dimaksud dalam semantik dan pragmatik. Menurutnya “Context and use what is otherwise known as pragmatics determine meaning. Linguistics semantics is therefore secondary to an examination of context and uses”. Kemudian Finegan menyebutkan bahwa “Sentence semantics is not concerned with utterance meaning. Utterances are the subject of inverstigation of another branch of linguistics called pragmatics”, sedangkan Parker membedakan makna dalam semantik sebagai referensi linguistik (linguistic reference) dan makna dalam pragmatik sebagai makna acuan penutur (speaker reference), (Nadar, 2009:3).

Perbedaan lainnya terlihat pada sisi konvensionalitas. Makna semantik seringkali dikatakan bersifat konvensional, sedangkan pragmatik bersifat non-konvensional. Dikatakan konvensional karena diatur oleh tata bahasa atau menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan. Dapat dikatakan bahwa sebuah ujaran menghasilkan implikatur percakapan tertentu dalam suatu konteks tertentu bukanlah bagian dari konvensi manapun. Justru implikatur ini hanya dapat diperoleh dengan mengambil penalaran dari hubungan antara makna konvensional sebuah ujaran dengan konteksnya (Cummings, 1999:4).

Untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, Leech (dalam Eelen 2001:6) menyatakan perbedaan antara semantik dan pragmatik: semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis; sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. Meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain.

Menurut Katz (1971), semantik bersifat ideasional. Maksudnya, makna yang ditangkap masih bersifat individu dan masih berupa ide karena belum digunakan dalam berkomunikasi. Sementara itu, pragmatik bersifat interpersonal. Maksudnya, makna yang dikaji dapat dipahami atau ditafsirkan oleh orang banyak sehingga tidak lagi bersifat individu karena sudah menggunakan konteks. Selain itu representasi (bentuk logika) semantik suatu kalimat berbeda dengan interpretasi pragmatiknya.

Contoh :

“Kawan habis kuliah kita minum-minum, yuk…”

Bila dikaji dari semantik, kata ‘minum-minum’ berarti melakukan kegiatan ‘minum air’ berulang-ulang, tidak cukup sekali saja, sedangkan dari segi pragmatik, kata ‘minum-minum’ berarti meminum-minuman keras (alkohol).

Selain itu, perbedaan kajian makna dalam semantik dengan pragmatik juga terlihat pada segi jangkauan maknanya. Pragmatik mengkaji makna di luar jangkauan semantik, atau lebih jauh daripada yang dapat dijangkau oleh semantik.

Contoh :

Di sebuah ruang kelas, Dewi duduk di depan kursi belakang. Lalu, ia berkata kepada gurunya, “Pak, maaf saya mau ke belakang”

Kata yang bergaris bawah itu ’belakang’ secara semantik berarti lawan dari depan, berarti kalau dikaji secara semantik, Dewi hendak ke belakang. Akan tetapi, jika dilihat dari konteksnya, Dewi sudah duduk di deretan paling belakang. Tentu saja tidak mungkin makna ‘belakang’ yang diartikan secara semantik yang dimaksud Dewi. Dalam pragmatik dilibatkan dengan konteks. Konteksnya adalah keadaan Dewi yang sudah duduk di belakang sehingga tidak mungkin ia minta izin untuk ke belakang lagi. Biasanya, orang minta izin ke belakang untuk keperluan sesuatu, seperti pergi ke toilet atau tempat lainya. Jadi, makna kata ‘belakang’ dalam kalimat di atas tidak dapat dijelaskan secara semantik, hanya bisa dijelaskan secara pragmatik. Maka dari itulah dinyatakan bahwa kajian makna pragmatik berada di luar jangkauan semantik.

Perbedaan semantik dan pragmatik menurut Levinson (1987: 1- 53):

Pragmatik

1. Kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirannya

2. Kajian mengenai penggunaan bahasa

3. Kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa

Semantik

1. Kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut

2. Kajian mengenai makna

3. Kajian mengenai suatu makna tanpa dihubungkan dengan konteksnya

KESIMPULAN

a. Semantik mempelajari makna, yaitu makna kata dan makna kalimat, sedangkan pragmatik mempelajari maksud ujaran, yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan.

b. Kalau semantik bertanya “Apa makna X?” maka pragmatik bertanya “Apa yang Anda maksudkan dengan X?”

c. Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks, sedangkan makna di dalam pragmatik ditentukan oleh konteks, yakni siapa yang berbicara, kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana, dan apa fungsi ujaran itu. Berkaitan dengan perbedaan (c) ini, Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat “semantik bersifat bebas konteks (context independent), sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)”.

Sumber: tugas kuliah  kelompok Erwita, Gita, Icuk (Linguistik 2010) untuk mata kuliah Semantik dan Pragmatik

Ditayangkan juga di Kompasiana http://bahasa.kompasiana.com/2012/04/10/mengenal-perbedaan-semantik-dan-pragmatik/

Linguistik Antropologi bukan Antropologi Linguistik

25 Jun

Banyaknya pembelajar linguistik yang keblasuk terlalu jauh ke pemahaman antropologi dalam kajian linguistik antropologi membuat saya tergerak untuk berbagi catatan singkat ini. Ingat, linguistik antropologi bukan antropologi linguistik. Bahasa tetap sebagai objek, namun dikaitkan dengan budaya penuturnya. Jangan sebaliknya!😉
Selamat membaca!

————————————————————————————————

Linguistik antropologi dibedakan dengan antropologi linguistik. Perbedaan keduanya terletak pada fokus penelitian. Antropologi linguistik menekankan pada penelitian antropologi. Sedangkan linguistik antropologi menitik beratkan pada aspek bahasa (linguistik). Bahasa dalam linguistik antropologi merupakan sistem klasifikasi yang paling rumit dari sebuah kebudayaan. Duranti (1997:6) menyatakan bahwa linguistik antropologi terbentuk dari linguistik struktural, tetapi memiliki perspektif atau sudut pandang yang berbeda dalam objek yang dikaji, bahasa dan ketajaman sebuah objek. Linguistik antropologi menekankan pada linguistik sebagai pengungkap pola pikir masyarakat. Sementara Antropologi linguistik memandang bahasa sebagai satu set aplikasi kebudayaan. Bagi Antropologi linguistik, bahasa yang digunakan dalam masyarakat merupakan salah satu media untuk melakukan pendekatan antropologi. Seperti dikemukakan Duranti (1997:21):

Language as a set of cultural practice and the need to understand linguistic anthropology as fundamentally an interdisciplinary enterprise that draws from a variety of approaches within the humanities and the social science and yet presents itw own unique views of the nature of speaking and its role in the constitution of society and the interpretation of culture.

Linguistik antropologi berangkat dari teori relativitas bahasa yang dikemukakan oleh von Humboldt dan dilanjutkan oleh Sapir-Whorf, yang dikenal dengan hipotesis Sapir-Whorf:

Differences between languages are merely differences in modes of expressing a common range of experiences, rather than corresponding the differences in the experiences themselves. (Sampson, 1980:82)

Bahasa seseorang menentukan pandangan dunia melalui kategori gramatikal dan klasifikasi semantis yang ada dalam bahasa itu dan diwarisi bersama kebudayaannya. Hasil klasifikasi semantik itulah yang nantinya digunakan sebagai media tafsiran pemaknaan pengetahuan yang ada dalam suatu budaya. Singkat kata, menurut Sapir-Whorf, bahasa menentukan cara pandang terhadap dunia luar.

Dari uraian singkat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Linguistik Antropologi menganalisis bahasa dalam kaitannya dengan penuturnya, dalam hal ini dengan budaya penuturnya. Dapat dikatakan bahwa bahasa berkaitan dengan budaya penuturnya tetapi tidak dapat dikatakan bahwa masyarakat yang berbahasa sama selalu memiliki budaya yang sama, demikian pula sebaliknya. Hanya aspek-aspek tertentu dari bahasa yang berkaitan dengan budayanya. Aspek-aspek tersebut antara lain tatabahasa, leksikon, cara berbicara atau berkomunikasi, dan lainnya.

 

Contoh penelitian Linguistik Antropologi

Konsep Tempat Tinggal dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia

Menganalisis leksikon tempat tinggal yang terdapat dalam kedua bahasa tersebut untuk mengetahui lebih lanjut cara pandang atau pola pikir penuturnya mengenai konsep tempat tinggal atau hunian.

 

Compiled by: Ikmi Nur Oktavianti

 

Daftar Seri ILDEP Linguistik

18 Jun

Seri ILDEP (Indonesian Linguistics Development Project) merupakan seri buku terbitan beberapa penerbit (Kanisius, Djambatan, Balai Pustaka, Grafiti) atas kerjasama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Asia Tenggara dan Oceania, Universitas Negeri Leiden, Belanda. Meskipun nama proyeknya berhubungan dengan linguistik, buku-buku seri ILDEP tidak hanya menerbitkan buku-buku linguistik, melainkan juga buku-buku ihwal sastra dan filologi. Nama-nama besar yang terlibat, antara lain W.A.L. Stokhof, Anton Moeliono, Amran Halim, A. Teeuw, dan lain-lain.

Berkenaan dengan keilmuan yang ditekuni pemilik blog ini, maka berikut ini hanya akan ditampilkan daftar seri ILDEP linguistik. Selamat menyimak!🙂

  1. Ilmu Bahasa – Uhlenbeck
  2. Kajian Morfologi Bahasa Jawa – Uhlenbeck
  3. Tata Bahasa Melayu – van Ophuijsen
  4. Reduplikasi Morfemis bahasa Indonesia – M.D.S Simatupang
  5. Predikat-Objek dalam Bahasa Indonesia – Sudaryanto
  6. Beberapa Aspek Linguistik Indonesia – Soenjono Dardjowidjojo
  7. Deiksis dalam Bahasa Indonesia – Bambang Kaswanti Purwo
  8. Intonasi – Amran Halim
  9. Pedoman Bahasa dan Sastra Melayu – Hollander
  10. Tata Bahasa Melayu – van Wijk
  11. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa – Anton Moeliono
  12. Telaah Komparatif Bahasa Nusantara Barat – R.A. Blust
  13. Kitab Yang Menyatakan Djalannya Bahasa Melajoe – Sasrasoeganda
  14. Linguistik Bahasa Nusantara – J Gonda
  15. Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem Dalam Bahasa Indonesia – Harimurti Kridalaksana
  16. Ilmu Bahasa Lapangan : William J Samirin
  17. Bahasa Melayu: Tatabahasa Selayang Pandang – C. Spat
  18. Pemanfaatan Potensi Bahasa: Sudaryanto
  19. Klausa Pemerlengkapan – Lapoliwa
  20. Masa Lampau Bahasa Indonesia – Harimurti Kridalaksana
  21. Modalitas dalam Bahasa Indonesia – Hasan Alwi
  22. Negasi dalam Bahasa Indonesia – Sudaryono
  23. Serpih-serpih Telaah Pasif Bahasa Indonesia – Bambang Kaswanti Purwo (Ed)

 

Sekilas Tentang Dialektologi

28 Mei

A.     Pengertian Dialektologi

Istilah dialektologi berasal dari kata dialect dan kata logi. Kata dialect berasal dari bahasa Yunani dialektos. Kata dialektos digunakan untuk menunjuk pada keadaan bahasa di Yunani yang memperlihatkan perbedaan-perbedaan kecil dalam bahasa yang mereka gunakan. Adapun kata logi berasal dari bahasa Yunani logos,yang berarti ‘ilmu’. Gabungan dari kedua kata ini berserta artinya membawa pengertian dialektologi sebagai ilmu yang memepelajari suatu dialek saja dari suatu bahasa dan dapat pula mempelajari dialek-dialek yang ada dalam suatu bahasa.

Berdasarkan kelompok pemakaiannya, dialek dapat dibagi atas tiga jenis, yakni: (1) dialek regional, yaitu variasi bahasa berdasarkan perbedaan lokal (tempat) dalam suatu wilayah bahasa; (2) dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh golonga tertentu; dan (3) dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok bahasawan yang hidup pada waktu tertentu. Pendapat yang lazim tentang dialek sebgaaimana dikemukakan dengan pemahaman yang dianut dalam rangkaian pembicaraan dialektologi, menurut pandangan dialektologi, semua dialek dari suatu bahasa mempunyai kedudukan yang sederajat, statusnya sama, tidak ada dialek yang lebuh berprestise dan tidak berprestise. Tidak ada juga sebutan bahwa dialek yang digunakan itu kampungan, meskipun penuturnya berasal dari desa. Semua dialek dari sebuah bahasa itu sama. Dialek-dialek tersebut menjadikan fungsinya masing-masing dalam kelompok-kelompok masyarakat penuturnya. Dialek standar juga merupakan dialek bahasa, sama dengan dialek lainnya. Hanya karena faktor ekstralinguistik, dialek ini dianggap sebagai dialek yang berprestise (lihat juga Fernandez, 1993:6)

Disamping istilah dialek, dikenal pula istilah isolek, idiolek, dan aksen. Istilah isolek merupakan istilah netral yang dapat digunakan untuk menunjuk pada bahasa, dialek, atau subdialek. Yang dimaksud dengan idiolek adalah ciri khas berbahasa seseorang karena setiap orang memiliki ciri khas dalam bertutur. Selanjutnya, istilah aksen digunakan untuk menunjuk pada cara penutur mengucapkan bunyi bahasa.

B.      Ruang Lingkup Dialektologi

Dialektologi merupakan cabang linguistik yang mempelajari variasi bahasa. Yang dimaksud dengan variasi bahasa adalah perbedaan-perbedaan bentuk yang terdapat dalam suatu bahasa. Perbedaan-perbedaan tersebut mencakup semua unsure kebahasaan, yaitu fonologi, morfologi, leksikon, sintaksis, dan semantik.

Dalam bidang fonologi, perbedaan tersebut dapat berupa perbedaan bunyi (lafal) dan dapat pula berupa perbedaan fonem.  Dalam bidang morfologi perbedaan tersebut dapat berupa afiks (prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks), pronominal, atau kata penunjuk. Dalam bidang sintaksis, perbedaan itu berupa struktur kalimat atau struktur frasa. Dan dalam bidang semantik, perbedaan itu berupa makna, tetapi makna tersebut masih berhubungan atau masih mempunyai pertalian, makna yang digunakan pada titik pengamatan tertentu dengan makna yang digunakan pada titi pengamatan yang lainnya masih berhubungan.

Pembeda Dialek

Pembeda dialek terdiri dari lima macam perbedaan, yaitu :

  • Perbedaan fonetik : perbedaan ini berada dibidang fonelogi dan biasanya pemakai dialek/ bahasa yang bersangkutan tidak menyadari adanya perbedaan tersebut.
  • Perbedaan semantic: dengan terciptanya kata-kata baru berdasarkan perubahan fonologi dan geseran bentuk.
  • Perbedaan onomasiologis : menunjukkan nama yang berbeda berdasarkan satu konsep yang diberikan dibeberapa tempat yang berbeda.
  • Perbedaan semasiologis : pemberian nama yang sama untuk beberapa konsep yang berbeda.
  • Perbedaan morfologis : terciptanya inovasi bahasa.

C.      Sumber Penelitian Dialek

1)      Sumber Lisan.

Sumber bahasa lisan tersimpan di dalam khazanahnya, yaitu diri para pemakai bahasa dan dialek. Sumber itu berupa bahasa atau dialek itu sendiri maupun hal-hal yang terkandung di dalamnya, seperti cerita rakyat, adat istiadat, kepercayaan, dan perundangan (Guiraud, 1970: 41).

2)      Sumber Tulis.

Sumber tulis dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Naskah

Pada mulanya naskah merupakan satu-satunya sumber untuk kurun waktu sebelum dikenalnya kamus dan kitab bahasa, apalagi yang cukup bernilai sastra dan ditulis di dalam bahasa atau dialek yang berbeda (Guiraud, 1970: 43). Dalam penelitiannya, naskah dilihat berdasarkan asal usulnya dan menampilkan masalah yang istimewa sesuai dengan umur, nilai, dan pemakaian bahasanya. Bahasan mengenai naskah-naskah kono merupakan sumbangan yang sangat penting artinya untuk penelitian geografi dialek.

  • Kamus dan Atlas Bahasa.

Kamus dialek atau bahasa merupakan sumber keterangan yang utama di dalam penelitian dialek. Hal ini dapat terjadi, karena hal-hal yang kurang jelas dari bahan yang terkumpul seringkali dapat dijelaskan dengan pertolongan kamus dialek atau bahasa yang sudah ada.

D.     Ragam-Ragam Dialek

Secara umum dialek dapat digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu :

1)       Dialek 1

Dialek 1 yaitu dialek yang berbeda-beda karena keadaan alam sekitar tempat dialek tersebut dipergunakan sepanjang perkembangannya (Warnant, 1973: 101). Dialek ini dihasilkan karena adanya dua factor yang saling melengkapi, yaitu factor waktu dan factor tempat.

2)       Dialek 2

Dialek 2 adalah bahasa yang dipergunakan di luar daerah pemakaiannya (Warnant, 1973: 102). Dialek ini sering juga disebut sebagai dialek regional atau enclave.

3)      Dialek Sosial

Dialek sosial ialah ragam bahasa yang dipergunakan oleh kelompok tertentu, yang dengan demikian membedakannya dengan kelompok masyarakat lainya (Kridalaksana, 1970). Ragam dialek sosial yang memperlihatkan ciri-ciri yang sangat khusus dikenal dengan nama argot atau slang.

E.      Metode Dalam Penelitian Dialektologi

1.      Metode Kuantitatif (Dialektometri)

Metode dialektometri digunakan untuk membagi daerah penelitian ke dalam daerah dialek. Yang dimaksud dengan dialektometri adalaj ukuran statistic yang digunakan untuk melihat seberapa jauh perbedaan yang terdapat pada tempat-tempat yang diteliti dengan membandingkan sejumlah unsure yang terkumpul dari tempat tersebut.

Selanjutnya metode ini telah digunakan oleh para peneliti dialektologi untuk membagi daerah bahasa ke dalam daerah dialek, subdialek, atau untuk melihat perbedaan tingkat wicara. Untuk penelitian bahasa-bahasa di Indonesia, metode ini telah digunakan antara lain oleh Ayatrohaedi (1978), Nothofer (1980), Medan (1986), Lauder (1990), Danie (1991), dan Nadra (1997). Walaupun terdapat ketidakpuasan akan metode tersebut, namun, sejauh ini tampaknya metode dialektometri itu dianggap masih mampu melakukan pemilahan bahasa secara objektif.

Rumus metode dialektometri adalah sebaga berikut

S x 100 = d %

n

S = jumlah beda dengan titik pengamatan lain

n = jumlah peta yang diperbandingkan

d = presentase jarak unsur-unsur kebahasaan antartitik pengamatan

Hasil yang diperoleh yang berupa presentase jarak unsur-unsur kebahasaan di antara titik-titik pegamatan itu, selanjutnya digunakan untuk menentukan hubungan antartitik pengamatan dengan criteria sebagai berikut :

81% ke atas     : dianggap perbedaan bahasa

51% – 80%       : dianggap perbedaan dialek

31% – 50%       : dianggap perbedaan subdialek

21% – 30%       : dianggap perbedaan wicara

Dibawah 20%  : dianggap tidak ada perbedaan

Penghitungan dialektometri dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : (a) segitiga antardesa/antartitik pengamatan dan (b) permutasi satu titik pengamatan terhadap semua titik pengamatan lainnya. Perhitungan berdasarkan segitiga antartitik pengamatan dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

1)      Titik pengamatan yang dibandingkan hanya titik-titik pengamatan berdasarkan letaknya masing-masing mungkin melakukan komunikasi secara langsung

2)      Setiap titik pengamatan yang mungkin berkomunikasi secara langsung duhubungkan dengan sebuah garis sehingga diperoleh segitiga-segitiga yang beragam bentuknya

3)      Garis-garis pada segitiga dialektometri tidak boleh saling berpotongan; pilih salah satu kemungkinan saja dan sebaiknya pilih yang berdasarkan letaknya lebih dekat satu sama lain.

Penghitungan dengan cara atau teknik permutasi dilakukan pertama kali oleh Goebl. Dalam perhitungan ini satu titik pengamatan dihitung jarak kosakatanya dengan semua titik pengamatan lainnya. Perhitungan ini membutuhkan banyak waktu sehingga kurang mendapat tanggapan dan cenderung dilupakan.

Penerapan dialektometri, baik dengan teknik segitiga antartitik pengamatan maupun dengan teknik permutasi, dilakukan dengan berpegang pada prinsip-prinsip umum sebagai berikut

1)      Apabila pada sebuah titik pengamatan digunakan lebih dari satu bentuk untuk satu makna, dan salah satu di antaranya digunakan pula di titik pengamatan lain yang diperbandingkan maka antartitik pengamatan itu dianggap tidak ada perbedaan

2)      Apabila antartitik pengamatan yang dibandingkan itu, salah satu di antaranya tidak memiliki bentuk sebagai realisasi dari satu makna tertentu, maka dianggap ada perbedaan.

Di samping metode dialektometri, ada juga yang menggunakan metode leksikostatistik untuk pengelompokan titik pengamatan dalam daerah dialek, yaitu dengan cara menghitung presentase kekognatan antartitik pengamatan. Namun, metode ini kurang relevan untuk penelitian dialek sebab dasar penggunaannya adalah mencari presentase kekerabatan (persamaa), bukan mencari perbedaan seperti yang dilakukan dalam dialektologi. Persamaan yang dimaskud adalah persamaan dari segi sejarah atau berasal dari bahasa induk yang sama (kognat).

2.      Metode Kualitatif (Rekonstruksi –> Variasi dan korespondensi)

Yang dimaksud dengan rekonstruksi bahasa purba (protobahasa), menurut Bynon (1979:71), adalah rakitan teoritis yang dirancang dengan cara merangkaikan sistem bahasa-bahasa/dialek-dialek yang memiliki hubungan kesejarahan melalui rumusan kaidah-kaidah secara sangat sederhana. Rekonstruksi bahasa purba ini dilakukan dengan cara seksama melalui perbandingan data yang dikumpulkan dari sejumlah titik pengamatan yang mencerminkan unsur bahasa purba tersebut.

Dengan adanya rekonstruksi bahasa purba dapat diketahui apakah bahasa-bahasa / dialek-dialek modern yang digunakan penutur sekarang mengalami retensi atau inovasi. Yang dimaksud dengan inovasi adalah perubahan yang terjadi dalam dialek/bahasa yang diteliti, sedangkan yang dimaksud dengan retensi adalah bentuk-bentuk atau unsur-unsur bahasa purba yang dicerminkan dalam dialek/bahasa yang modern.

Rekonstruksi bahasa purba dalam kajian dialektologi mempunyai perbedaan dengan rekonstruksi bahasa purba dalam kajian linguistik historis komparatif. Rekonstruksi bahasa purba dalam kajian dialektologi bertolak dari data subdialek-subdialek/dialek-dialek dalam suatu bahasa, sedangkan rekonstruksi bahasa purba dalam linguistik historis komparatif bertolak dari data bahasa-bahasa yang diasumsikan berasal dari bahasa induk yang sama.

Rekonstruksi bahasa purba dalam dialektologi perlu dilakukan karena hal itu berkaitan dengan persoalan berikut:

(a)     penelusuran subdialek/dialek atau daerah titik pemgamatan yang inovatif dan konservatif

(b)     hubungan antara subdialek/dialek yang satu dengan subdialek/dialek yang lain

(c)      hubungan subdialek-subdialek/dialek-dialek dengan bahasa induk yang menurunkan subdialek-subdialek/dialek-dialek tersebut (Mahsun, 1995:79)

Compiled by: Ikmi Nur Oktavianti & Icuk Prayogi

References: on demand

Mengapa Bahasa Inggris Memerlukan “is, am, are” dan Mengapa Bahasa Indonesia Tidak Selalu Memerlukan “adalah”?

19 Mei

Tulisan ringan di bawah ini merupakan tulisan perdana saya di Kompasiana (http://bahasa.kompasiana.com/2012/03/04/mengapa-bahasa-inggris-memerlukan-is-am-are-dan-mengapa-bahasa-indonesia-tidak-selalu-memerlukan-adalah/). Semoga bermanfaat😉

———————————————————————————————-

Kita pasti sangat fasih dengan salah satu “aturan” dalam bahasa Inggris yang mengenal to be (is, am, are). To be am digunakan sebagai “pasangan” dari I, is berpasangan denganshe, he, it dan are berpasangan dengan you, we dan they. Misalnya,

She is smart.

They are beautiful.

 

Hasil berpasangan itu merupakan bentuk persesuaian (agreement) subjek – verba. Ah, saya tidak akan membicarakan panjang lebar tentang aturan tatabahasa. Saya hanya ingin memperkenalkan bahwa is, am, dan are disebut sebagai kopula (istilah linguistik, bagi yang belum tahu saja).

 

Saya bukan pakar kopula, tapi sedang tertarik mengamati perilakunya yang menarik (setidaknya menurut saya). Karena tertarik, saya menelitinya untuk tesis saya. Saya menganalisis kuasi-kopula dalam bahasa Inggris. Intinya sih sebenarnya bukan kopula-nya yang saya analisis, tapi tetap saja konsep “apa itu kopula?” dan “bagaimana kopula bekerja dalam konstruksi lingual?” harus kuat. Benar saja. Sewaktu ujian, salah satu dosen penguji menanyakan: “Mengapa bahasa Inggris membutuhkan kopula?”. Poin yang ini saya lancar menjawabnya. Selanjutnya beliau bertanya “Lalu apakah bahasa Indonesia juga membutuhkan kopula seperti halnya dalam bahasa Inggris?”. Nah, pertanyaan terakhir ini yang membuat saya tertegun cukup lama. Ujung-ujungnya jadi PR untuk saya. (Padahal sewaktu di luar ruangan ujian tahu jawabannya, tapi ketika ujian jadi blank, hehe).

 

Well, karena pertanyaan dosen saya sebenarnya hal mendasar namun banyak juga yang belum tahu, saya coba share di sini sebagai tambahan pengetahuan saja, ya (buat yang tertarik).

Bagi Anda pembelajar bahasa Inggris memang tidak asing dengan kopula be tersebut dan mungkin sudah hafal di luar kepala, tapi apakah kita sudah tahu mengapa kopula hadir dalam konstruksi klausa bahasa Inggris? Saya juga baru tahu. Itupun “terpaksa” karena harus baca-baca untuk referensi tesis. Saya mendapati beberapa pendapat yang saling melengkapi. Mari pasang wajah serius dulu😀

 

Meskipun bahasa Inggris sudah kehilangan infleksi untuk pemarkah kasus (itu tuh akhiran kata di bahasa Latin), bahasa Inggris  masih menyisakan infleksi kala. Menurut Poedjosoedarmo (pembimbing tesis saya nih–intermezo), infleksi kala masih bertahan sebagai “alat” pembeda verba dengan nomina, misalnya. Karena urutan kata dalam bahasa Inggris modern itu ketat, verba dibedakan melalui adanya infleksi yang melekat (meskipun pada dasarnya ketika dalam klausa.kalimat sudah jelas verba terletak setelah subjek = SVO). Contohnya saja:

I listened to the music.

 

Infleksi kala –ed yang melekat pada verba listen seolah menegaskan bahwa listen adalah verba meskipun jika dilihat dari urutan kata sudah jelas (listen berada setelah subjek “I” ).

Payne dalam bukunya menyebutkan bahwa infleksi kala ini kemudian menjadi syntactic head atau unsur inti klausa/kalimat bahasa Inggris. Pandangan semacam ini merupakan pengaruh dari pemikiran generativist (orang yang menekuni generative/transformational grammar-nya Chomsky). Pendapat semacam itu rasanya pas untuk bahasa Inggris karena bahasa Inggris mempunyai konstruksi klausa yang peka terhadap kala. Ada kala sekarang (present), lampau (past) dan futur (future). Meskipun kalimatnya seperti ini:

I eat an apple.

 

verba eat dalam contoh di atas masih memberikan informasi kala, yakni kala sekarag (present). Generativist mencoba memberikan penjelasan yang paling logis: infleksi kala sesungguhnya ada dalam verba eat tetapi realisasinya (perwujudannya) yang tidak tampak –> covert –> dibatasi di sini saja agar tidak melebar🙂

 

Oke, penjelasan saya mulai membingungkan ya. Pasti ada yang bertanya-tanya “Lalu apa kaitannya kala atau tense ini dengan kehadiran kopula dalam bahasa Inggris?”

Begini, mengingat infleksi kala bersifat wajib, maka ia harus selalu hadir dalam klausa atau kalimat bahasa Inggris. Sayangnya, kala tidak mandiri. Ia harus melekat pada satuan lingual lain. Dan yang dapat dilekati oleh infleksi kala adalah verba (ada yang berpendapat hal ini terjadi karena kala atau waktu identik dengan tindakan/aktivitas yang dinamis dan tidak stabil waktunya, sementara itu adjektiva dan nomina cenderung lebih stabil waktunya – coba baca Payne, kalau saya tidak salah). Padahal, pengisi formal predikat (atribut dari subjek) bukan hanya verba, bisa juga adjekitva, contohnya:

She smart

S                    P

 

Pada kondisi yang demikian (tidak ada verba, melainkan adjektiva smart), infleksi kala tidak bisa melekat, sedangkan ia diwajibkan hadir. Lalu apa yang harus dilakukannya? Infleksi kala tidak habis akal. Ia mendatangkan bala bantuan berupa verba fungsional to be. Ya, to be adalah verba, tetapi jangan disamakan statusnya seperti verbaeat/drink/read. To be adalah verba fungsional, tidak punya makna kontentif sepertieat/drink/read (yang bisa digambarkan maknanya melalui aktivitas di dunia nyata). Terlepas dari “kekurangan” to be sebagai verba, setidaknya to be mampu menyelamatkan infleksi dan selanjutnya infleksi bisa melekat dengan nyaman dan lahir lah kalimat berikut (persoalan ini dibahasa oleh Baker, 2004).

She        is             smart

She        was        smart

S                       P

 

Kendati demikian, dalam pemakaiannya, kopula juga seringkali dilesapkan. Coba saja Anda lihat dialog-dialog film Hollywood atau lirik-lirik lagu, khususnya lagu-lagu beraliran hip hop. Jadi, seseorang dapat menyatakan “She (0) smart” dan tidak ditegur oleh temannya karena tidak mematuhi aturan grammar.

Well, bagi saya pribadi, pelesapan kopula semacam ini adalah fenomena pemakaian bahasa yang tidak bisa serta merta dihakimi “salah” atau “benar”. Apalagi jika Anda tahu bahwa pelesapan terjadi bukan tanpa sebab. Black English, yaitu bahasa Inggris yang dituturkan oleh orang Amerika keturunan Afrika, mempunyai tatabahasa yang gemar melesapkan kopula (sebenarnya bukan hanya kopula, baca Carmen Fought “Language and Ethnicity”). Dulu sih black people memang mendapat diskriminasi, tapi sekarang sudah beda. Black people sudah merajai perfilman atau menjadi penyanyi ternama. Di samping itu, populasi black people juga cukup banyak di Amerika dewasa ini. Untuk menunjukkan identitas mereka, pemakaian bahasa Inggris berdasarkan tatabahasa bahasa asal mereka (yang kerap melesapkan kopula) tidak terelakkan lagi. Dicontohkan oleh Crystal (2010) bahwa keturunan Afrika (tepatnya Karibia) di Amerika dapat mengatakan kalimat seperti berikut.

They fine (black people) –> yang mempunyai bentuk standard They are fine

 

Lalu bagaimana dengan bahasa Indonesia? Apakah bahasa Indonesia selalu membutuhkan kopula? Bahasa Inggris membutuhkan kopula jika pengisi predikatnya bukan verba. Ternyata bahasa Indonesia juga membutuhkan kopula ketika pengisi predikatnya adalah nomina. Coba kita amati contoh berikut.

Icuk adalah seorang dosen.

 

Kalimat di atas gramatikal, berterima dan lazim dipakai/didengar. Ketika “adalah” dilesapkan

Icuk seorang dosen.

 

Kalimat di atas masih gramatikal, berterima dan juga lazim kita dengar. Kita sering menggantikan keberadaan kopula dengan jeda tanpa kita sadari.

Icuk –jeda—seorang dosen.

 

Nah, berarti kopula yang hadir ketika predikat bukan berupa verba cenderung bersifat opsional. Kalau pun dipakai, biasanya konstruksi lebih panjang. Contoh:

Icuk adalah seorang dosen Linguistik yang hebat dan bersahaja.

 

 

Kendati kopula “adalah” cocok dengan predikat nomina, tidak demikian ketika predikatnya adjektiva. Adjektiva tidak menghendaki kehadiran kopula.

*Dia adalah cantik

Dia (0) cantik.

 

Ketika dihadirkan “adalah” (Dia adalah cantik), kalimat justru tidak gramatikal dan bagi kita penutur asli terdengar aneh juga tidak lazim digunakan.

 

Sebenarnya ada beberapa perbedaan yang bisa mendasari kita untuk tidak menyamakanto be dengan “adalah”. Poin pertama yang harus diperhatikan, bahasa Indonesia tidak terikat infleksi kala sehingga tidak mewajibkan predikatnya berunsur verba sebagai tempat melekatnya verba. Predikatnya bisa berupa adjektiva tanpa harus ada unsur lain yang membantu kehadirannya (beda dengan bahasa Inggris). Apalagi setelah diamati sebelumnya bahwa predikat adjektiva justru tidak bisa didahului “adalah”.

Poin kedua, “status” kopula bahasa Indonesia berbeda dengan kopula bahasa Inggris. Menurut beberapa pakar, kopula dalam bahasa Indonesia adalah “kata pemisah” karena secara tegas memisahkan subjek dan predikat (icuk = subjek, seorang dosen = predikat). Ada pakar lain (Verhaar) menyatakan bahwa kopula adalah pengantar predikat karena posisinya terletak sebelum predikat namun bukan termasuk predikat (“hanya” pengantar). Karena hanya pengantar, maka “adalah” bukan bagian dari predikat. Kopula dalam bahasa Indonesia juga tidak bisa dikategorikan sebagai verba. (salah satu poin lagi yang harus digarisbawahi). “adalah” tidak bisa disebut verba karena tidak dapat dinegasikan. Berikut contohnya.

 

*Icuk bukan adalah seorang dosen. ( “adalah” bukan verba karena tidak bisa dinegasikan)

*icuk adalah bukan seorang dosen.

Icuk bukan seorang dosen.

Icuk tidak makan nasi goreng. (makan adalah verba karena bisa dinegasikan)

 

Adapun kopula dalam bahasa Inggris adalah satuan lingual fungsional yang dihadirkan untuk membentuk predikat (termasuk ke dalam predikat). Selain itu, to be juga verba dan dapat dinegasikan.

She is not smart.

 

Kemudian kembali menilik judul tulisan ini, barangkali bagi beberapa di antara Anda sudah cukup jelas mengetahui jawaban dari “mengapa” yang saya tuliskan di judul. Intinya, beberapa bahasa di dunia ini memiliki kesemestaan atau universalitas (dalam kasus ini adalah keberadaan kopula). Akan tetapi, masing-masing bahasa mempunyai “ketentuan” yang bersifat language-specific, misalnya perihal perilaku kopula dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang berbeda. Oleh sebab itu, kita harus lebih bijak jika ingin menerjemahkan satuan lingual tersebut. Dengan demikian, kita tidak serta merta menerjemahkan to be menjadi “adalah” dalam bahasa Indonesia.

 

Sebagai penutup, saya coba sedikit berbagi tentang hakikat keberadaan kopula dalam bahasa Indonesia. Pada dasarnya keberadaan kopula sendiri masih menjadi perdebatan. Saya pernah membaca di salah satu buku (kalau tidak salah Verhaar) yang menyatakan bahwa bahasa-bahasa rumpun Austronesia (termasuk bahasa Indonesia) tidak mempunyai kopula sebagai bagian dari karakteristiknya. Sebut saja bahasa yang masih bersaudara dengan bahasa Indonesia, yakni bahasa Tagalog. Bahasa Tagalog sama sekali tidak mempunyai kopula. Linguis Malaysia menyebutkan bahwa hadirnya kopula dalam bahasa Melayu (khususnya Indonesia) adalah karena pemengaruhan gramatikal bahasa-bahasa Indo-Eropa (seperti bahasa Belanda). Bahasa Indo-Eropa sangat kental dengan kopula. Apakah kopula dalam bahasa Indonesia adalah hasil gramatikalisasi dan pemengaruhan bahasa-bahasa Indo-Eropa? Tentu dibutuhkan penelitian lebih mendalam lagi secara diakronis menyangkut persoalan ini. Jadi, setidaknya masih ada kesempatan bagi kita, penutur asli bahasa Indonesia, untuk memberikan kontribusi bagi bangsa melalui bidang kebahasaan.

 

Cukup sekian yang bisa saya bagi. Barangkali ada yang punya pendapat lain, silakan dibagi juga. Saya juga masih belajar, nih.

 

Salam🙂

Ikmi Nur O.

 

Referensi

Baker, Mark C. 2004. Lexical Categories. Cambridge: Cambridge University Press

den Dikken, Marcel. 2006. Relators and Linkers. Cambridge: MIT Press

Fought, Carmen. 2006. Language and Ethnicity. Cambridge: Cambridge University Press

Payne, Thomas E. 2011. Understanding English Grammar. Cambridge: Cambridge University Press

Sudarti, Florentine. 1980. Beberapa Catatan Mengenai Kata Pemisah dalam Bahasa Indonesia dalam Majalah Pengajaran Bahasa dan Sastra VI/4/1980 hlm. 6-14

Verhar. 2006. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press