Tag Archives: Proto Melayu

Referensi Wajib Untuk Kajian Diakronis Bahasa Indonesia (Bahasa Melayu)

19 Mei

Saya akan bagikan referensi yang bisa dirujuk jika ingin mengkaji bahasa Indonesia secara diakronis (bahasa Melayu). Kajian diakronis tersebut dapat berupa kajian historis komparatif, kajian sintaksis, morfologi, dan lainnya, yang memperhitungkan periode waktu (over time). Beberapa buku berikut dapat dijumpai di perpustakaan fakultas ilmu budaya. Untuk jurnal-jurnal, perpustakaan Verhaar di Universitas Sanata Dharma bisa menjadi tempat tepat untuk mencarinya. Semoga daftar berikut bermanfaat. :)

1. K.A. Adeelar

a. Proto-Malayic: The Reconstruction of its Phonology (1985)

b. The Austronesian Language of Asia and Madagaskar (2005)

2. Sutan Takdir Alisjahbana

a. Sejarah Bahasa Indonesia (1956)

3. Hasan Alwi

a. Bahasa Indonesia: Pemakai dan Pemakaian (2000)

4. Haji Omar Asmah

a. Rekonstruksi Kata dalam Bahasa Melayu (1995)

b. Alam dan Penyebaran Bahasa Melayu (2005)

5. Balai Pustaka

a. Boekoe-Boekoe Bahasa Melajoe dan Lain-Lain (1929)

6. Peter Bellwood

a. Prehistory of Indo-Malaysian Archipelago (1997)

7. Robert Blust

a. Historical Linguistics in Indonesia (Part I Seri NUSA Volume 10, 1981)

8. William Bright

a. International Encyclopedia of Linguistics (1992)

9. C.C. Brown

a. Malay Saying (1950)

10. J.G de Casparis

a. Sanskrit Loan-word in Indonesia: An Annotated Check-list of Word from Sanskrit and Traditional Malay (Seri NUSA Jilid 41, 1997)

11. Stuart Campbell

a. Indonesia/Malay (dalam Encyclopedia of Arabic Language and Linguistics, 2007)

12. G. Coedes

a. Les Inscriptions Maleises de Sriwijaya (dalam Bulletin l’Ecole Francaise de ‘Extreme Orient, 1930)

13. James T. Collins

a. Malay World Language: A Short History (1996)

b. Bahasa Melayu Bahasa Dunia (2005)

c. Bahasa Sanskerta dan Bahasa Melayu (2009)

14. Otto Christian Dahl

a. Proto-Phonetics and Phonemic Changes in Austronesian (1976)

b. Proto-Austronesian (1976)

15. Depdikbud

a. Masalah Pertumbuhan dan Perkembangan Bahasa Indonesia (1982)

16. Otto Dempwolff

a. Einfuhrung in die Malaishe Sprache (1941)

b. Perbendaharaan Kata-kata dalam Berbagai Bahasa Polinesia (1956)

17. T. Fatimah Djajasudarma

a. Dokumentasi dan Mozaik Kebahasaan Indonesia-Nusantara (1991)

18. G.W.J Drewes

a. Van Maleish naar Bahasa Indonesia (1948)

19. Isodore Dyen

a. The Proto-Malay-Polinesian Laryngeal (1951)

b. A Reconstructional Confirmation: The Proto-Austronesian Word for two (dalam Oceanic Linguistics 14: 1-16, 1975)

20. S. Effendi

a. Ikhtisar Sejarah Bahasa Indonesia (1972)

b. Pemakaian Bahasa Indonesia (1985)

21. Umar Junus

a. Sejarah Perkembangan ke Arah Bahasa Indonesia (1969)

22. Gorys Keraf

a. Negara Asal Bahasa-bahasa Austronesia (dalam Lembaran Sastra Volume 14:73-99, 1992)

23. H Kern

a. Pertukaran Bunyi dalam Bahasa-Bahasa Melayu Polinesia (1956)

24. Uli Kozok

a. Aksara Melayu Pra-Islam (dalam Sastra Melayu Lintas Daerah, 2003)

25. Harimurti Kridalaksana

a. Beberapa Masalah Linguistik Indonesia (1978)

b. Pendekatan Historis dalam Kajian Bahasa Melayu dan Indonesia (dalam Linguistik Indonesia 8:45-60, 1986)

c. Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga rampai (1991)

d.  Masa-Masa Awal Bahasa Indonesia (2009)

26. C.N. Maxwell

a. An Introduction of the Elements of the Malay Language (1933)

27. C.A. Mees

a. Ilmu Perbandingan Bahasa-Bahasa Nusantara (1967)

28. Amat Jauhari Moain

a. Perancangan Bahasa: Sejarah Aksara Jawi (1996)

29. Anton Moeliono

a. Santun Bahasa (1984)

b. Ikhtisar Kongres Bahasa Indonesia (1988)

30. Hashim Musa

a. Epigrafi Melayu: Sejarah Sistem Tulisan dalam Bahasa Melayu (1997)

31. Nadra

a. Perkembangan Fonem Melayu Purba dalam Dialek-dialek Bahasa Minangkabau (dalam Kajian Serba Linguistik, 200)

32. Bernd Nothofer

a. Bahasa Indonesia (1985)

33. Armijn Pane

a. Perkembangan Bahasa Indonesia: Beberapa Catatan (1954)

34. Soepomo Poedjosoedarmo

a. Javanese Reference on Indonesia (dalam Pacific Linguistics D38, 1982)

35. Slamet Muljana

a. Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara – Cetakan III (1982)

36. James Sneddon

a. The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society (2003)

37. Amir Soediro

a. Perkembangan Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Indonesia (Tesis Sarjana Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, 1969)

38. Hein Steinhauer

a. On the History of Indonesian (dalam Studies in Slavic and General Linguistics No.1: 349-375, 1980)

b. Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah di Indonesia (dalam Kajian Serba Linguistik, 2000)

39. J.W.M Verhaar

a. Teori Linguistik dalam Bahasa Indonesia (1980)

40. John U. Wolff

a. Similarities between Indonesian and Tagalog and Their Historical Basis (dalam Seri NUSA Volume 10: 83-90, 1981)

Daftar di atas akan terus diperbarui. Selamat mempelajari dan mengkaji.

Salam

Ikmi Nur Oktavianti

Bahasa adalah Sesuatu yang “Hidup”

16 Mar

Bahasa dapat diibaratkan sebagai sesuatu yang “hidup”. Mengapa demikian? Karena sejatinya bahasa juga mengalami proses-proses yang dilalui oleh makhluk hidup. Bahasa lahir (dari bahasa “ibu” – bukan bahasa ibu dalam artian bahasa yang pertama dikuasai oleh penutur, melainkan bahasa yang melahirkan suatu bahasa lain), kemudian tumbuh (berkembang), bereproduksi atau melahirkan bahasa baru dan pada akhirnya mati.

Sebut saja bahasa Latin. Bahasa Latin yang sekarang dianggap sudah mati pada dasarnya tidak benar-benar mati. Seperti halnya manusia yang ketika meninggal masih meninggalkan keturunan, demikian pula bahasa. Bahasa Latin lahir, tumbuh, berkembang, dan melahirkan beberapa bahasa “anak” (daughters) seperti bahasa Portugis, bahasa Spanyol, bahasa Perancis, bahasa Itali dan bahasa Roman. Proses bagi sebuah bahasa untuk bisa seperti itu tentu memakan waktu yang sangat lama. Bahasa Latin yang awalnya hanya sebuah bahasa lalu dapat melahirkan banyak bahasa tidak seketika saja terjadi. Hal ini mungkin terjadi karena adanya perpindahan para penutur bahasa tersebut ke berbagai wilayah geografis yang berbeda. Karena mempunyai kondisi geografis yang berbeda-beda, penutur bahasa tersebut pun akan beradaptasi. Muncul lah kosakata baru yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup. Selain itu, penutur bahasa Latin juga mendapat pemengaruhan dari bahasa daerah yang sedang ditinggalinya. Hal ini menyebabkan percampuran. Karena tidak adanya kontak lagi di antara para penutur bahasa Latin yang menyebar tersebut, maka bahasa Latin yang dituturkan di beberapa wilayah yang berbeda tersebut kemudian menjadi bahasa baru atau “bahasa anak”. Kendati demikian, karena berasal dari bahasa yang sama, masih terdapat kosakata dan karakteristik dari bahasa Latin yang tertinggal pada bahasa-bahasa anak tersebut.

Contoh yang lebih dekat misalnya bahasa Melayu. Bahasa Melayu (red: bahasa Indonesia) mempunyai “ibu” yang sama dengan bahasa Jawa, Sunda dan Madura, yakni bahasa Proto Melayu. Penutur bahasa Proto Melayu (seperti halnya yang terjadi pada penutur bahasa Latin) berpindah tempat, beradaptasi secara geografis, terkena kontak dengan bahasa lain, menjadi pijin, berkembang menjadi kreol, dan akhirnya menjadi bahasa-bahasa baru. Dan seperti halnya bahasa Latin, bahasa Proto Melayu juga mati (setidaknya mereka dapat mati dengan tenang karena sudah mempunyai keturunan). Menyimak ulasan singkat tersebut dapat memberikan gambaran bahwa bahasa diumpamakan makhluk hidup berjenis kelamin perempuan (atau betina). Oleh sebab itu, dalam diagram pohon (baik diagram pohon kekerabatan bahasa maupun diagram pohon pembagian konstituen sintaksis) dapat ditemui terminologi-terminologi yang bersifat feminin. Misalnya, “mother” (ibu – untuk titik atau simpul tertinggi), “daughter” (anak), dan “sister” (saudara), dan bukan “father”, “son”, dan “brother”.

Selain dimungkinkannya bahasa untuk mati, salah satu proses lain yang dialami bahasa (sebagaimana dialami pula oleh manusia dan makhluk hidup lain) adalah proses pertumbuhan atau perkembangan. Dalam proses ini, bahasa mengalami perubahan. Akan tetapi, tidak seperti perubahan pada manusia, proses perubahan bahasa memakan waktu yang lama. Maka untuk mengkajinya perlu dilakukan dengan pendekatan diakronis. Pendekatan diakronis mengkaji secara over time atau sederhananya secara historis. Dengan melihat secara diakronis, kita akan mampu melihat proses perubahan dan juga alasan dibalik terjadinya perubahan tersebut. Salah satu yang dapat saya contohkan adalah perubahan dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris mempunyai periodisasi perkembangan ke dalam Old English, Middle English, Modern English dan bahkan Present-day English. Pada masing-masing periode, bahasa Inggris mengalami perubahan. Pada masaOld English, bahasa Inggris mempunyai urutan kata yang lebih bebas karena mempunyai infleksi untuk menandai mana subjek, mana objek. Sedangkan pada Middle English, urutan kata menjadi dominan SVO atau Subjek-Verb-Objek (meskipun urutan SOV juga masih dijumpai di wilayah selatan Inggris). Mengapa bisa demikian? Karena waktu itu diduga bahasa Inggris mendapat pemengaruhan dari bangsa Skandinavia yang mulai berdatangan di bagian utara Inggris (itulah sebabnya bagian selatan masih berstruktur SOV). Karena terjadi kontak bahasa, infleksi mulai ditinggalkan karena dianggap menyulitkan untuk berkomunikasi (bayangkan saja waktu itu ada 48 penggunaan infleksi yang pasti menyulitkan). Di samping itu, bahasa Skandinavia (Old Norse) mempunyai urutan kata SVO (urutan kata yang ketat). Suatu komponen hadir karena ada pengaruh dari komponen lainnya. Demikian pula hilangnya suatu komponen juga merupakan pengaruh dari hadirnya komponen lainya. Karena urutan kata SVO yang ketat sudah mampu membuat penyampaian bahasa menjadi ringkas dan jelas, infleksi mulai ditinggalkan.

Di bawah ini adalah contoh kalimat pada masa Old English dan Middle English yang diambil dari Trips (2002:78 dan 105) untuk memberikan ilustrasi perbedaan struktur yang ada.

Old English

…þæt he mehte his feorh generian.

that he could his property save

S             O                V

‘… that he could save his property.’

Middle English 

… ðat ic mihte hauen ðat eche lif.

that   I        might have         that same life

S               V                      O

Selain menyangkut urutan kata, perubahan internal bahasa juga terjadi pada komponen bahasa yang lebih kecil. Contohnya verba bantu will yang sangat akrab bagi penutur bahasa Inggris dan digunakan dalam kalimat seperti berikut.

I will go to Malang.

Penggunaan will yang melekat pada verba utama go disebabkan will thanya berstatus sebagai verba bantu (menunjukkan kala futur). Sehingga kalimat berikut menjadi tidak gramatikal.

*I will to Malang.

Namun, sebenarnya verba bantu will merupakan verba utama pada masa Old English. Verba will mengalami gramatikalisasi atau mungkin lebih mudahnya disebut “penurunan derajat” dari verba utama menjadi verba bantu. Maka tidak mengherankan jika suatu hari Anda membuka naskah Old English dan menemukan penggunaan will yang mandiri. (I will to Malang menjadi gramatikal jika digunakan pada masa Old English).

Tidak hanya bahasa Inggris yang mengalami perubahan, semua bahasa di dunia ini berubah. Bahasa Indonesia tidak terkecuali. Sebagai contohnya kehadiran kopula “adalah” (saya pernah mengulasnya di tulisan saya sebelumnya). “adalah” yang diasumsikan berasal dari “ada” + partikel –lah ini pun mengalami perubahan. Saya mencoba mencari buktinya dengan membaca naskah Melayu klasik (yang saya baca: Hikayat Iskandar Zulkarnain) dan saya menemukan pemakaian “adalah” yang berbeda dengan yang kita gunakan sekarang. Saya contohkan seperti di bawah ini.

Maka adalah Raja Brahman itu di dalam agama Majusi yang menyembah api.

Maka adalah engkau kupeliharakan dari kecilmu seperti anak ku jadikan.

“adalah” dalam dua ayat (kalimat) di atas menunjukkan “perannya” sebagai pengantar subjek (posisinya sebelum subjek “Raja Brahman” dan “engkau”). Jika dipisahkan, “ada” merupakan kategori leksikal (menurut KBBI termasuk verba). Penggunaan “ada” di awal kalimat menunjukkan bahwa kalimat tersebut merupakan kalimat eksistensional (menunjukkan keberadaan). Oleh sebab itu “ada” diikuti oleh nomina (subjek).

Asumsi bahwa “adalah” dihasilkan dari penggabungan “ada” dan partikel –lah semakin diperkuat dengan beberapa data yang menunjukkan gemarnya penutur bahasa Melayu menggunakan partikel tersebut. Saya beri beberapa contoh pemakaian partikel –lah yang melekat ke beragam unit lingual pada masa Melayu klasik sebagai berikut (masih dari Hikayat Iskandar Zulkarnain).

Tiadalah hambamu berjumpa dengan peti itu. (-lah menempel pada tiada)

Seolah-olah hilanglah akal daripada sangat suka citanya. (-lah menempel pada hilang)

Hatta maka segeralah dikayuhkan orang akan dia. (-lah menempel pada segera)

Jika pada masa Melayu klasik “adalah” berada sebelum subjek (pra subjek), maka pada bahasa Indonesia kontemporer pemakaian “adalah” bergeser posisinya menjadi setelah subjek dan sebelum predikat. Contohnya:

Dia adalah anak muda yang baik.

Pada kalimat di atas, “adalah” sudah berbeda dengan yang terdapat pada naskah melayu klasik. “adalah” pada kalimat di atas sudah kehilangan unsur leksikalitasnya karena berkategori sebagai kategori fungsional dan cenderung bersifat periferal (bukan inti). Meskipun demikian, perilaku “adalah” yang diikuti nomina masih bertahan sehingga ketika “adalah” oleh adjektiva kalimatnya menjadi tidak gramatikal, misal:

*Icuk adalah ganteng.

Oleh sebab itu, pergeseran pemakaian “adalah” merupakan salah satu manifestasi perubahan bahasa Indonesia. Tentang rinciannya, tentunya harus dikaji secara diakronis dan menyeluruh agar dapat mendapatkan pemerian yang representatif.

Selain diamati secara internal bahasa, perubahan bahasa juga harus dikaji dari sudut pandang eksternal atau di luar bahasa. Hal ini mengingat kembali hakikat penutur bahasa itu sendiri yang bersifat inovatif dan kreatif. Dalam menyampaikan pesan, ketika suatu konstruksi lingual tertentu tidak dapat “memuaskan” keinginannya, maka ia akan menggunakan konstruksi alternatif. Banyak bermunculannya konstruksi alternatif seperti pseudocleft, existensional, left-dislocation menunjukkan upaya penutur untuk berkreasi dalam pemroduksian tuturan/tulisan melalui konstruksi lingual yang sedemikian rupa sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat mengena dan tepat sasaran kepada pendengar/pembaca. Oleh karena itu, munculnya atau memudarnya pemakaian komponen bahasa tertentu juga akibat dari kreativitas penutur bahasa itu sendiri. Jika dirasa suatu komponen bahasa sudah mampu menyusun informasi yang ringkas dan jelas, maka komponen yang lain yang menjalankan peranan serupa tidak digunakan karena hanya akan bersifat redundan.

Kendati bahasa sejatinya berubah, persoalan perubahan bahasa ini banyak disikapi dengan pandangan negatif oleh sebagian kalangan, khususnya generasi terdahulu. Banyak yang beranggapan bahwa bahasa terdahulu adalah bahasa yang lebih baik dari bahasa yang sekarang. Ada anggapan bahwa generasi muda menyalahgunakan sehingga bahasa yang ada menjadi salah kaprah. Crowley dalam bukunya menuliskan pendapatnya perihal topik ini. Menurutnya, bahasa bersifat arbitrer (Konsep Saussure). Antara yang menjadi petanda dan penanda tidak mempunyai relasi khusus. Mengapa benda tertentu diberi nama “kursi” dan yang lainnya “meja” adalah konvensi atau kesepakatan bersama di antara penuturnya. Oleh sebab itu, menurutnya, meskipun generasi muda senang menggunakan kosakata khas mereka untuk merujuk pada benda/hal tertentu, bukan berarti bahasa yang mereka gunakan menjadi lebih buruk dari bahasa generasi sebelumnya.

Menurut saya, adanya anggapan negatif sebagian kalangan adalah persoalan perbedaan sudut pandang. Jika Anda termasuk yang berpendapat bahwa perubahan bahasa menyebabkan bahasa menjadi kurang baik, berarti Anda berpikir secara preskriptif, berkaitan dengan “benar” dan “salah”, “baik” dan “buruk”.  Bagi saya pribadi, perubahan bahasa adalah fenomena yang tidak dapat begitu saja dihakimi “buruk”. Karena hakikat bahasa selalu berubah dan hakikat penuturnya bersifat kreatif dan inovatf, perubahan adalah hal yang wajar terjadi. Yang lebih tertarik untuk saya lakukan adalah mengamati fenomena yang ada dan memerikannya. Jika Anda sejalan dengan saya, berarti kita mempunyai sudut pandang deskriptif. Persoalan sudut pandang mana yang paling benar, tentu hanya akan jadi debat kusir. Keduanya (preskriptif dan deksriptif) bertugas saling melengkapi. Yang berpandangan preskrpitif berguna untuk pembakuan dan menjaga standardisasi bahasa, sementara yang berpandangan deksriptivis (seperti saya) berperan sebagai pengamat yang membuat rumusan-rumusan perubahan yang terjadi tanpa perlu melabeli “benar” atau “salah”. Yang jelas, sudut pandang manapun yang kita ambil, mari kita hormati kawan dengan sudut pandang yang berbeda.

Dan, apapun sudut pandang Anda, bahasa adalah sesuatu yang “hidup”. Karena ia “hidup”, maka sejumlah proses (lahir – tumbuh – bereproduksi – mati) pun dilalui. Pada proses pertumbuhan (perkembangan) inilah perubahan-perubahan bahasa terjadi. Namun, sekali lagi, seperti halnya perubahan yang terjadi pada manusia, perubahan bahasa adalah proses yang alami dan tidak terelakkan.

Salam :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.139 pengikut lainnya.