Tag Archives: pragmatics

Mengenal Perbedaan Semantik dan Pragmatik

27 Jul

Kajian tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja dalam komunikasi manusia berupa bahasa telah mendapatkan perhatian dari para ilmuwan di masa lalu. Ilmu tentang hubungan antara penanda dan petanda itu disebut semiotika. Morris (1938) mengatakan bahwa dalam semiotika terdapat tiga bidang kajian, yakni sintaksis (syntax), semantik (semantics), dan pragmatik (pragmatics). Sintaksis adalah kajian tentang hubungan formal antartanda; semantik menganalisis hubungan tanda dengan objek tanda tersebut (designata); sedangkan pragmatik melihat hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda itu.

Pragmatics is that portion of semiotic which deals with the origin, uses and effects of signs within the behavior in which they occur; semantics deals with the signification of signs in all modes of signifying; syntactics deals with combinations of signs without regard for their specific significations or their relation to the behavior in which they occur” (Morris, 1946: 219 via Bach 1999:81).

Ketiga bidang tersebut memperlakukan dan mempelajari tanda secara berbeda-beda. Adapun dalam makalah ini, akan direpresantasikan perbedaan kajian tanda bahasa antara dua bidang, yakni semantik dan pragmatik, dari ketiga bidang tersebut.

Sekilas Semantik

Semantik (Bahasa Yunani: semantikos, memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Kata kerjanya adalah‘semaino’ yang berarti ‘menandai’atau ‘melambangkan’. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda-tanda linguistik (Perancis : signé linguistique).

Menurut Ferdinand de Saussure, tanda lingustik terdiri atas komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa, dan komponen yang diartikan atau makna dari komopnen pertama. Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambangkan adaah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang lazim disebut sebagai referent/acuan/hal yang ditunjuk. Jadi, semantik adalah Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya; atau salah satu cabang linguistik yang mengkaji tentang makna bahasa (Hurford, 1984:1).

Sekilas Pragmatik

Pragmatik adalah kajian tentang hubungan antara bahasa dengan konteks ditatabahasakan atau yang dikodekan pada struktur bahasa (Pragmatics is the study of those relations between language and context that are grammaticalized, or encoded in the structure of a language) (Levinson, 1985: 9). Dengan kata lain, pragmatik adalah studi tentang penggunaan bahasa dalam konteks. Pragmatik berfokus pada bagaimana penutur atau penulis menggunakan pengetahuan mereka untuk menyatakan suatu makna (Bloomer, 2005:78).

Perbedaan konvensional

Semantik dan pragmatik adalah dua cabang utama dari studi linguistik makna. Keduanya diberi nama dalam judul buku itu dan mereka akan diperkenalkan di sini. Semantik adalah studi dari untuk arti: pengetahuan akan dikodekan dalam kosakata bahasa dan pola untuk membangun makna lebih rumit, sampai ke tingkat makna kalimat. Adapun pragmatik berkaitan dengan penggunaan alat-alat ini dalam komunikasi yang bermakna. Pragmatik adalah tentang interaksi pengetahuan semantik dengan pengetahuan kita tentang dunia, mempertimbangkan konteks yang digunakan. Secara konvensional, perbedaan antara semantik dan pragmatik dinilai berdasarkan tiga hal: (1) linguistics meaning vs. use, (2)truth-conditional vs. non-truth-conditional meaning, dan (3) context independence vs. context dependence (Bach, dalam Turner 1999:70). Berikut penjelasannya.

Linguistics meaning vs. use

Linguistics meaning atau makna linguistik (bahasa) dibedakan dengan use atau pemakaiannya. Secara sepintas, semantik dan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang sama-sama menelaah makna-makna satuan lingual. Perbedaannya, semantik mempelajari makna linguistik atau makna bersifat internal, sedangan pragmatik mempelajari makna penutur atau makna dalam penutur dan bersifat eksternal yang berhubungan dengan konteks. Dengan kata lain, semantik mempelajari arti harfiah dari sebuah, ide sedangkan pragmatik adalah makna tersirat dari ide yang diberikan.

Bila diamati lebih jauh, makna yang menjadi kajian dalam semantik adalah makna linguistik (linguistics meaning) atau makna semantik (semantic sense), sedangkan yang dikaji oleh pragmatik adalah maksud penutur (speaker meaning atau speaker sense) (verhaar, 1977; Parker, 1986:32). Semantik adalah telaah makna kalimat (sentence), sedangkan pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterance). Semantik adalah ilmu linguistik yang mempelajari makna yang terkandung di dalam morfem, kata, frasa, dan kalimat yang bebas konteks. Makna linguistik di sini adalah makna yang terdapat di dalam bahasa, yang distrukturkan di dalam dan oleh sistem bahasa, yang dipahami lebih kurang sama oleh para penutur dalam kegiatan berkomunikasi secara umum dan wajar (Subroto, 1999:111). Dalam pragmatik maksud penutur (speaker meaning atau speaker sense) yaitu bahwa sense berhubungan erat dengan suatu system yang kompleks dari elemen linguistik, yaitu kata-kata. Sense menitikberatkan pada makna kalimat dan hubungannya dengan makna kata (Palmer, 1981:9). Dapat dikatakan bahwa maksud penutur di sini tidak terlepas dari konteks kalimat, apa yang dimaksud penutur belum tentu sama dengan yang dimaksud oleh lawan tutur.

Dalam pragmatik jika dalam pemakaiannya terjadi kesalahan pemakaian tatabahasa yang disengaja oleh penutur, maka dikatakan bahwa terdapat maksim(-maksim) tindak tutur yang dilanggar. Sementara itu, semantik tidak menganalisis bahasa dari sisi pemakaiannya sehingga jika terjadi kesalahan penutur yang disengaja, semantik tidak dapat menentukan meaning sesungguhnya dari penutur tersebut karena hanya didasarkan atas meaning secara umum.

Contoh:

Dalam kalimat berikut, B menjawab pertanyaan A dengan setidaknya tiga kemungkinan cara untuk menyatakan ”belum” atau “tidak ingin makan”.

A : siang ini kamu sudah makan?

B(1) : saya belum makan. Tapi saya tidak ingin makan.

B (2) : saya sudah makan barusan. (berbohong)

B(2) : saya masih kenyang, kok.

Untuk mengatakan maksudnya, B setidaknya dapat mengutarakan dengan tiga tuturan: B(1) secara langsung menyatakan maksud dan alasannya; B(2) dengan berbohong, secara tidak langsung ia menyatakan tidak ingin makan; B(3) demi alasan kesopanan, dan secara tidak langsung juga, mengimplikasikan ia tidak ingin makan. Untuk menjawab pertanyaan A, meskipun juga tidak dapat menjelaskan dengan sangat tepat, semantik hanya dapat menganalisis meaning dengan jelas pada kalimat B(1) karena kalimat tersebut secara langsung menjawab pertanyaan A, namun semantik tidak dapat menjelaskan secara tepat meaning dari B(2) dan B(3) karena B menjawabnya secara tidak langsung sehingga memerlukan pemahaman terhadap situasi di sekitarnya.

Truth-conditional vs. non-truth-conditional meaning

Cruse (2006:136) memuat perbedaan-perbedaan antara semantik dan pragmatik. Semantik berhubungan dengan aspek-aspek truth conditional makna, yaitu jika sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis, misalnya ‘kucing menyapu halaman’ adalah yang tidak berterima secara semantik karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika.

Blackmore mengutarakan tentang truth conditional semantics, yaitu apabila kita melihat suatu frasa/kalimat/satuan bahasa yang dapat diverivikasi kebenarannya, satuan bahasa berhubungan dengan aspek-aspek makna yang bebas konteks, misalnya kata “I’m sorry” sulit untuk menemukan verifikasi apakah orang yang menyatakan frasa tersebut benar-benar minta maaf atau tidak.

Semantik berhubungan dengan aspek-aspek makna konvensional, yakni bahwa terdapat hubungan yang tetap antara makna dan bentuk serta semantik berhubungan dengan deskripsi makna sehingga dikatakan bahwa semantik mengambil pendekatan formal dengan memfokuskan bentuk fonem, morfem, kata, frasa, klausa dan kalimat. Sementara itu, pragmatik berhubungan dengan aspek-aspek non-truth conditional makna, berhubungan dengan aspek-aspek yang memperhitungkan konteks, berhubungan dengan aspek-aspek makna yang tidak looked up, tetapi worked out pada peristiwa penggunaan tertentu dan pragmatik berhubungan dengan penggunaan-penggunaan makna tersebut, oleh karena itu pragmatik dikatakan mengambil pendekatan fungsional.

Context independence vs. context dependence

Yang dimaksud dengan makna secara internal adalah makna yang bebas konteks (independent context); maksudnya, makna tersebut dapat diartikan tanpa adanya suatu konteks atau makna yang terdapat dalam kamus, sedangkan makna yang dikaji secara eksternal, yaitu makna yang terikat konteks (context dependent) maksudnya satuan-satuan bahasa dalam suatu tuturan tersebut dapat dijelaskan apabila ada suatu konteks, yaitu konteks siapa yang berbicara, kepada siapa orang itu berbicara, bagaimana keadaan si pembicara, kapan, dimana, dan apa tujuanya sehingga maksud si pembicara dapat dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. Tanpa memahami konteks, lawan tutur bahasa akan kesulitan memahami maksud penutur. Konteks di sini meliputi tuturan sebelumnya, penutur dalam peristiwa tutur, hubungan antar penutur, pengetahuan, tujuan, setting social dan fisik peristiwa tutur (Cruse, 2006:136).

Contoh :

1. Prestasi kerjanya yang bagus membuat ia dapat diangkat untuk masa jabatan yang kedua

2. Presiden itu sedang menuruni tangga pesawat

Dalam contoh di atas kata bagus dan presiden mempunyai makna semantik atau makna secara internal, sedangkan secara eksternal, bila dilihat dari penggunaanya kata bagus tidak selalu bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’. Begitu juga presiden tidak selalu bermakna ‘kepala negara’ seperti dalam contoh:

3. Ayah : Bagaimana nilai ujianmu?

Budi : Iya, hanya dapat 50, pak.

Ayah : Bagus, besok jangan belajar.

4. Awas, presidennya datang!

Kata bagus dalam (3) tidak bermakna ‘baik’ atau tidak buruk’, tetapi sebaliknya. Sementara itu, bila kalimat (4) digunakan untuk menyindir, kata presiden tidak bermakna ‘kepala negara’, tetapi bermakna seseorang yang secara ironis pantas mendapatkan sebutan itu. Sehubungan dengan keterikatan itu tidak hanya bagus dalam dialog (3) bermakna ‘buruk’, melainkan besok jangan belajar dan nonton terus saja juga bermakna ‘besok rajin-rajinlah belajar’ dan ‘hentikan hobi menontonmu’.

Berlawanan dengan banyak formulasi yang telah muncul sejak awal perumusan Morris

pada tahun 1938, perbedaan semantik-pragmatik tidak

tidak sesuai antara satu perumusan dengan perumusan lainnya(Bach dalam Turner, 1999: 73).

Menurut Bach, perumusan perbedaan semantik-pragmatik dapat mengambil perbedaan dengan mengacu pada fakta-fakta bahwa:

• hanya isi literal yang relevan secara semantis

• beberapa ekspresi sensitif dalam hal konteks terhadap makna

• konteks yang dekat cukup relevan dengan semantik, namun untuk konteks luas lebih dekat ke pragmatik

• non-truth-conditional (kebenaran-tak-bersyarat) menggunakan informasi terkait agar bahasa dapat dikodekan

• aturan dalam menggunakan ekspresi tidak menentukan penggunaannya secara aktual

• kalimat yang diucapkan sebenarnya adalah fakta pragmatis

Sejumlah perbedaan istilah

Untuk menggambarkan perbedaan semantik-pragmatik adalah dengan membandingkan sejumlah istilah pada semantik dan pragmatik:

• type vs. token

• sentence vs. utterance

• meaning vs. use

• context-invariant vs. context-sensitive meaning

• linguistic vs. speaker’s meaning

• literal vs. nonliteral use

• saying vs. implying

• content vs. force

Perbandingan “meaning” antara studi pragmatik dan semantik

Dalam komunikasi, satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. Untuk maksud “menyuruh” orang lain, penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif, kalimat deklaratif, atau bahkan dengan kalimat interogatif. Dengan demikian, pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act), sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna.

Leech, (1983:8) mempermasalahkan perbedaan antara ‘bahasa’ (langue) dengan ‘penggunaan bahasa’ (parole) yang berpusat pada perbedaan antara semantik dan pragmatik. Langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak, sedangkan yang dimaksud dengan parole adalah pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa, sifatnya konkret, yaitu realitas fisis bahasa yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain. Pragmatik dan semantik memiliki kesamaan objek bahasan, yaitu berhubungan dengan makna. Kedua bidang kajian ini berurusan dengan makna, tetapi perbedaan di antara mereka terletak pada perbedaan penggunaan verba to mean berarti :

1. What does X mean? (Apa artinya X)

2. What did you mean by X (Apa maksudmu dengan X)

Dengan demikian dalam pragmatik makna diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa, sedangkan dalam semantik, makna didefinisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan-ungkapan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan petuturnya.

Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua sisi (dyadic relation) atau hubungan dua arah, yaitu antara bentuk dan makna, sedangkan pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga sisi (triadic relation) atau hubungan tiga arah, yaitu bentuk, makna, dan konteks. Dengan demikian, dalam semantik makna didefinisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan-ungkapan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan petuturnya, sedangkan makna dalam pragmatik diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa.

Hubungan antara bentuk dan makna dalam pragmatik juga dikaji oleh Yule (2001:5). Ia mendefinisikan pragmatik sebagai studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan manusia si pemakai bahasa bentuk-bentuk itu. Definisi ini dipertentangkan dengan definisi semantik, yaitu sebagai studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dengan entitas di dunia bagaimana hubungan kata dengan sesuatu secara harfiah. Lebih lanjut Yule menegaskan bahwa analisis semantik berusaha membangun hubungan antara deskripsi verbal dan pernyataan-pernyataan hubungan di dunia secara akurat atau tidak, tanpa menghiraukan siapa yang menghasilkan deskripsi tersebut.

Frawley memberikan batasan makna yang dimaksud dalam semantik dan pragmatik. Menurutnya “Context and use what is otherwise known as pragmatics determine meaning. Linguistics semantics is therefore secondary to an examination of context and uses”. Kemudian Finegan menyebutkan bahwa “Sentence semantics is not concerned with utterance meaning. Utterances are the subject of inverstigation of another branch of linguistics called pragmatics”, sedangkan Parker membedakan makna dalam semantik sebagai referensi linguistik (linguistic reference) dan makna dalam pragmatik sebagai makna acuan penutur (speaker reference), (Nadar, 2009:3).

Perbedaan lainnya terlihat pada sisi konvensionalitas. Makna semantik seringkali dikatakan bersifat konvensional, sedangkan pragmatik bersifat non-konvensional. Dikatakan konvensional karena diatur oleh tata bahasa atau menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan. Dapat dikatakan bahwa sebuah ujaran menghasilkan implikatur percakapan tertentu dalam suatu konteks tertentu bukanlah bagian dari konvensi manapun. Justru implikatur ini hanya dapat diperoleh dengan mengambil penalaran dari hubungan antara makna konvensional sebuah ujaran dengan konteksnya (Cummings, 1999:4).

Untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, Leech (dalam Eelen 2001:6) menyatakan perbedaan antara semantik dan pragmatik: semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis; sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. Meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain.

Menurut Katz (1971), semantik bersifat ideasional. Maksudnya, makna yang ditangkap masih bersifat individu dan masih berupa ide karena belum digunakan dalam berkomunikasi. Sementara itu, pragmatik bersifat interpersonal. Maksudnya, makna yang dikaji dapat dipahami atau ditafsirkan oleh orang banyak sehingga tidak lagi bersifat individu karena sudah menggunakan konteks. Selain itu representasi (bentuk logika) semantik suatu kalimat berbeda dengan interpretasi pragmatiknya.

Contoh :

“Kawan habis kuliah kita minum-minum, yuk…”

Bila dikaji dari semantik, kata ‘minum-minum’ berarti melakukan kegiatan ‘minum air’ berulang-ulang, tidak cukup sekali saja, sedangkan dari segi pragmatik, kata ‘minum-minum’ berarti meminum-minuman keras (alkohol).

Selain itu, perbedaan kajian makna dalam semantik dengan pragmatik juga terlihat pada segi jangkauan maknanya. Pragmatik mengkaji makna di luar jangkauan semantik, atau lebih jauh daripada yang dapat dijangkau oleh semantik.

Contoh :

Di sebuah ruang kelas, Dewi duduk di depan kursi belakang. Lalu, ia berkata kepada gurunya, “Pak, maaf saya mau ke belakang”

Kata yang bergaris bawah itu ’belakang’ secara semantik berarti lawan dari depan, berarti kalau dikaji secara semantik, Dewi hendak ke belakang. Akan tetapi, jika dilihat dari konteksnya, Dewi sudah duduk di deretan paling belakang. Tentu saja tidak mungkin makna ‘belakang’ yang diartikan secara semantik yang dimaksud Dewi. Dalam pragmatik dilibatkan dengan konteks. Konteksnya adalah keadaan Dewi yang sudah duduk di belakang sehingga tidak mungkin ia minta izin untuk ke belakang lagi. Biasanya, orang minta izin ke belakang untuk keperluan sesuatu, seperti pergi ke toilet atau tempat lainya. Jadi, makna kata ‘belakang’ dalam kalimat di atas tidak dapat dijelaskan secara semantik, hanya bisa dijelaskan secara pragmatik. Maka dari itulah dinyatakan bahwa kajian makna pragmatik berada di luar jangkauan semantik.

Perbedaan semantik dan pragmatik menurut Levinson (1987: 1- 53):

Pragmatik

1. Kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirannya

2. Kajian mengenai penggunaan bahasa

3. Kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa

Semantik

1. Kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut

2. Kajian mengenai makna

3. Kajian mengenai suatu makna tanpa dihubungkan dengan konteksnya

KESIMPULAN

a. Semantik mempelajari makna, yaitu makna kata dan makna kalimat, sedangkan pragmatik mempelajari maksud ujaran, yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan.

b. Kalau semantik bertanya “Apa makna X?” maka pragmatik bertanya “Apa yang Anda maksudkan dengan X?”

c. Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks, sedangkan makna di dalam pragmatik ditentukan oleh konteks, yakni siapa yang berbicara, kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana, dan apa fungsi ujaran itu. Berkaitan dengan perbedaan (c) ini, Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat “semantik bersifat bebas konteks (context independent), sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)”.

Sumber: tugas kuliah  kelompok Erwita, Gita, Icuk (Linguistik 2010) untuk mata kuliah Semantik dan Pragmatik

Ditayangkan juga di Kompasiana http://bahasa.kompasiana.com/2012/04/10/mengenal-perbedaan-semantik-dan-pragmatik/

Prinsip Kerjasama (Cooperative Principles)

19 Apr

Dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari manusia akan selalu bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam berinteraksi dengan orang lain, manusia menggunakan bahasa sebagai media komunikasi. Di dalam komunikasi yang wajar, masing-masing pihak yang terlibat, yaitu antara penutur dan mitra tutur akan selalu berusaha menyampaikan tuturannya secara efektif dan efisien. Hal ini senada dengan pendapat Wijana (1996:450) yang mengatakan bahwa seorang penutur akan berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks, jelas dan mudah dipahami, padat dan ringkas dan selalu pada persoalan sehingga tidak menghabiskan waktu lawan bicara.

Agar tuturan –tuturan dapat diutarakan  dapat diterima oleh lawan bicaranya, penutur pada lazimya mempertimbangkan secara seksama berbagai faktor pragmatik yan terlibat atau mungkin terlibat dalam suatu proses komunikasi tersebut (Wijana, 2004:54). Secara sederhana ada tiga aspek yang dipertimbangkan oleh penutur dan lawan tutur. Aspek-aspek itu adalah prinsip kerjasama, prinsip kesopanan dan parameter pragmatik. Berikut akan diulas salah satunya, yaitu prinsip kerjasama.

PRINSIP KERJA SAMA

Grice (1975:45-47) mengemukakan bahwa wacana yang wajar dapat terjadi apabila antara penutur dan petutur patuh pada prinsip kerja sama komunikasi. Prinsip kerja sama tersebut terdiri dari empat maksim percakapan (conversational maxim), yaitu:

a)      maksim kuantitas (maxim of quantity),

b)      maksim kualitas (maxim of quality),

c)      maksim relevansi ( maxim of relevance)

d)      dan maksim pelaksanaan(maxim of manner).

A.     MAKSIM KUANTITAS

Dalam pertuturan setiap peserta percakapan diharuskan untuk memberi sumbangan informasi yang dibutuhkan saja, dan jangan memberikan sumbangan yang lebih informatif daripada yang diperlukan. Misalnya penutur yang wajar tentu akan memilih tuturan (1) dibanding dengan tuturan (2) :

(1)   Orang buta itu tenyata tukang pijat.

(2)   Orang yang tidak dapat melihat itu ternyata tukang pijat.

Tuturan 1 dianggap lebih efektif dan efisien, serta mengandung nilai kebenaran (truth value). Setiap orang tentu paham bahwa orang buta pasti tidak dapat melihat. Dengan demikian elemen tidak dapat melihat dalam tuturan (2) dianggap berlebihan. Adanya elemen yang tidak dapat melihat dalam (2) dianggap bertentangan dengan maksim kuantitas karena hanya menambahkan hal-hal yang sudah jelas dan tidak perlu diterangkan lagi.

Contoh lain dapat dijumpai dalam kalimat bahasa Inggris dari Beatrice (1997) dalam bukunya Reading Power, sebagai berikut :

(3)   John put on his raicoat, picked up his umbrella from the table near the door, turned off the lights, put out the cat, got ready for his ten-minute walk to the bus-stop

(4)   John went out.

Dalam tuturan yang wajar kalimat  (3) dianggap terlalu panjang. Oleh karena itu untuk mengungkapkan konsep yang sama, tuturan (4) cenderung lebih digunakan.

B.      MAKSIM KUALITAS

Maksim ini mengharuskan setiap peserta pertuturan untuk memberikan sumbangan informasi yang benar. Dengan kata lain baik penutur maupun mitra tutur tidak mengatakan apa-apa yang dianggap salah, dan setiap kontribusi percakapan hendaknya didukung oleh bukti yang memadai. Apabila dalam suatu pertuturan ada peserta tutur yang tidak mempunyai bukti yang memadai mungkin ada alasan-alasan tertentu yang mendasarinya. Perhatikan tuturan (5) berikut ini

(5) A : Ada berapa maksim kerjasama menurut Grice?

B :  Menurut buku Grice yang saya baca, ada empat maksim dalam prinsip kerja

sama.

A :  Maksim apa sajakah itu ?

B :  Maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi dan maksim

cara(pelaksanaan).

Pada contoh di atas, (B)memberi sumbangan informasi yang benar, bahwa menurut buku Grice yang dia baca ada empat maksim, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi dan maksim cara (pelaksanaan).

C.      MAKSIM RELEVANSI

Maksim ini mengharuskan setiap peserta percakapan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan. Perhatikan contoh (7) berikut ini :

(6)   A : There is somebody at the door

B : I’m in the bath.

(Joan Cutting , 2002:36)

Ketika A mengatakan kepada B bahwa ada seseorang yang datang di depan pintu rumah mereka dan berharap B untuk membukakan pintu untuk tamu itu, maka  B mengatakan bahwa dia sedang berada di kamar mandi pada saat itu.  Jawaban B mengimplikasikan bahwa dia mengharapkan A untuk mengerti di mana B berada pada saat itu, sehingga B tidak bisa membukakan pintu dan melihat siapa yang datang pada saat itu. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa keterkaitan antara peserta tutur tidak selalu terletak pada makna ujarannya, tetapi dapat pula terletak pada apa yang diimplikasikan ujaran tersebut.

D. MAKSIM PELAKSANAAN

Dengan maksim ini, para peserta pertuturan diharapkan untuk berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa dan tidak berlebih-lebihan  serta runtut. Dalam wacana tuturan sehari-hari sering dapat dijumpai seorang penutur yang dengan sengaja tidak mengindahkan maksim ini, seperti yang terlihat pada dialog yang diambil dari Parker (1986) di bawah ini:

(7)   A: Let’s stop and get something to eat.

B: Okey, but not M-C-D-O-N-A-L-D-S

(Parker, 1986)

Dalam dialog (10),ejaan dalam tuturan B tersebut bertujuan untuk membuat anak yang menggemari Mc. Donalds tidak menyadari bahwa orangtuanya tidak ingin makan di Mc. Donalds.Seorang penutur harus menafsirkan kata-kata yang digunakan oleh lawan bicaranya. Secara taksa (ambigu) berdasarkan konteks pemakaiannya. Hal ini berdasarkan prinsip ketaksaan (ambiguitas) tidak akan muncul bila kerjasama antara peserta tindak tutur selalu dilandasi oleh pengamatan yang seksama terhadap kriteria-kriteria pragmatik yang digariskan oleh Leech dengan konsep situasi tuturnya. Dialog (8) di bawah ini memberikan gambaran yang nyata mengenai kalimat taksa

(8)   A: Mas aslinya mana ?

B:  Saya aslinya Purworejo, Mbak.

A: Aduh, mas ini GR banget. Maksud saya, KTP asli saya mana ?

Dialog tersebut sering terjadi ketika (A) sedang memfotokopi KTP di sebuah tempat fotokopi di Jogja. Setelah KTP selesai difotokopi, (A) bermaksud meminta KTP yang asli dengan mengatakan “Mas, aslinya mana?” dan ternyata ditafsirkan keliru oleh (B) karena dia menyangka bahwa (A) menanyakan asal-usul dia. Tuturan yang bersifat taksa seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan dapat membuat malu bagi pihak yang salah menafsirkan sebuah tuturan. Oleh karena itu, seyogyanya para peserta tutur menyadari bahwa hanya dengan memberikan kontribusi yang kooperatif maka sebuah komunikasi dapat berjalan dengan wajar.

PELAKSANAAN MAKSIM

Dalam kenyataan berkomunikasi sehari-hari, pelaksanaan maksim-maksim tersebut dapat dibedakan ke dalam dua cara, yakni dengan menaati (observing) ataupun dengan tidak menaati maksim. Kegiatan tidak menaati maksim  dapat dibedakan menjadi dua, antara lain, melakukan pelanggaran terhadap maksim (violating) atau membuat mengambang (flouting).

  1. Ketaatan terhadap Maksim

Bentuk ketaatan (observing) maksim adalah dengan berujar atau berkomunikasi sesuai dengan ketentuan yang dijelaskan dalam tiap-tiap maksim yang telah dijelaskan di atas.

  1. Penyimpangan Maksim

Diantara penyimpangan-penyimpangan dalam prinsip kerjasama adalah sebagai berikut:

1)      Pelanggaran Maksim

a)      Pelanggaran maksim kuantitas

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dalam maksim kuantitas menghendaki tiap peserta tuturan memberi kontribusi yang cukup dan sebanyak yang dibutuhkan oleh lawan bicaranya. Tetapi tidak selalu tuturan tersebut sesuai dengan maksud dan tujuan dari maksim kuantitas, seperti dalam tuturan:

(9)         A: Does your dog bite?

                  B: No

                  A: [Bends down to stroke it and gets bitten] ow! You said your dog doesn’t bite

                  B: That isn’t my dog

                                                    (Joan Cutting: 2002:40)

Dalam tuturan di atas, bisa dijelaskan seperti ini, ketika A berkunjung ke rumah B, di situ ada anjing tetangga B  yang sering berada di teras rumah A. A  bertanya apakah anjing B biasa menggigit, dan B menjawab tidak. A tidak tahu kalau anjing yang berada di depannya itu bukan anjing B. Maka ketika A mencoba bermain-main dengan anjing itu, ternyata anjing itu menggigit, kemudian dia berteriak bahwa  kata B anjingnya tidak suka menggigit, tetapi ternyata anjing itu menggigitnya. B menjawab bahwa anjing yang menggigitnya itu bukan anjingnya. Di sini peserta tuturan baik A dan B tidak memberikan informasi sebanyak yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak, sehingga terjadi kesalahpahaman di antara keduanya.

b)      Pelanggaran maksim kualitas

Terjadi pelanggaran terhadap maksim kualitas jika pembicara tidak mengatakan yang sebenarnya dan memberikan informasi yang keliru. Contoh:

(10)                       Husband: How much did that the new dress cost, honey?

                                Wife      :  Thirty-five pounds (wrong information)

                                           (Joan Cutting: 2002:40)

Di dalam percakapan di atas, si istri tidak  ini mengatakan hal yang sebenarnya ketika suaminya bertanya berapa harga baju baru yang dia beli. Si istri  menjawab pertanyaan suaminya itu dengan menyebutkan harga yang lebih rendah daripada harga yang sebenarnya. Si Istri berusaha untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya, karena dia khawatir kalau suaminya akan marah kepadanya kalau dia tahu bahwa harga baju barunya itu sangat mahal.

c)      Pelanggaran maksim relevansi

Terjadi pelanggaran terhadap maksim relevansi  jika pembicara tidak memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.

Contoh

(11)                        Husband:        How much did the new dress cost, honey?

                               Wife:               I know. Let’s go out tonight

(Joan Cutting:2002:40)

Pada contoh dialog (11), ketika suami bertanya kepada istrinya tentang berapa harga baju baru yang dia beli itu, istrinya  menjawab dengan jawaban yang tidak relevan dengan apa yang ditanyakan oleh suaminya tersebut.

 

d)      Pelanggaran maksim pelaksanaan

Terjadi pelanggaran terhadap maksim pelaksanaan jika pembicara tidak berbicara secara langsung. Tuturannya kabur, taksa (ambigu) berlebihan  dan tidak  runtut.

Contoh:

(12)                        Husband:        How much did the new dress cost, darling?

                               Wife        :       A tiny fraction of my salary, though probably a bigger fraction of the salary of the woman that sold it to me

                                                                                  (Joan Cutting, 2002:40)

Pada contoh dialog (12), ketika suami bertanya kepada istrinya tentang harga baju baru yang   dia beli, istrinya memberikan jawaban yang tidak jelas. Jawabannya kabur dan ambigu.

Compiled by: Ikmi Nur Oktavianti & Ifa Rolyna

Referensi:

Cutting, Joan. 2002. Pragmatics and Discourse: A Resource Book for Students. New York: Routledge

Leech, Geoffrey. 1991. Principle of Pragmatics. London: Longman

Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi

Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.140 pengikut lainnya.