Arsip tag Fonologi

Sekilas Tentang Linguistik Historis Komparatif

14 Mei

Apa Itu Linguistik Historis Komparatif (LHK)?

Linguistik Historis Komparatif (Historical Comparative Linguistics) atau Linguistik Bandingan Historis adalah cabang ilmu linguistik yang menelaah perkembangan bahasa dari satu masa ke masa yang lain, mengamati cara bagaimana bahasa-bahasa mengalami perubahan, serta mengkaji sebab akibat dari perubahan bahasa.
Menurut Robins (1975) Linguistik Komparatif termasuk dalam bidang kajian linguistik memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan sumbangan berharga bagi pemahaman tentang hakekat kerja bahasa dan perkembangan (perubahan ) bahasa-bahasa di dunia. Sehubungan dengan hal itu, tugas utama dari linguistik komparatif adalah menganalisis dan memberikan penjelasan mengenai hakekat perubahan bahasa. Pada umumnya, hakekat bahasa itu (i) mempunyai struktur (dimensi sinkronis) dan (ii) bahasa selalu mengalami perubahan (dimensi diakronis).
Analisis bahasa secara sinkronis mempelajari hakikat bahasa bahwa bahasa-bahasa pada masa tertentu mempunyai struktur-struktur atau unsur-unsur bahasa yang disebut unsur fonologi, morfologi, sintaksis dan lain-lain. Sedangkan analisis bahasa secara diakronik yaitu menganalisis bahasa tidak hanya bagian-bagian bahasa yang mengalami perubahan tetapi juga perkembangan bahasa. Seperti yang diketahui bahwa bahasa-bahasa modern pada saat ini dulunya memiliki bahasa awal. Melalui analisis diakronik dicari hubungan antara bahasa-bahasa modern yang diduga berasal dari satu bahasa awal, yaitu dengan menentukan bentuk kognat (bentuk leksiko atau semantik dua bahasa sama dan artinya juga sama atau mirip) dan pseudokognat (bnetuk leksiko dua bahasa sama tapi artinya berbeda).
Metode kuantitatif juga dapat digunakan untuk menganalisis bahasa dari segi dimensi sinkronis dan diakronis, namun juga dapat digunakan dalam kajian linguistik tipology dan linguistik kontrasif . linguistik tipology dengan metode komparatif digunakan untuk mengkaji bahasa secara struktural berdasarkan dimensi sinkronis. Tujuannya untuk mengamati persamaan dan perbedaan tipe bahasa-bahasa di dunia berdasarkan kajian struktural berbagai tataran kebahasaan secara sinkronis. Sedangkan linguistik kontrasif dengan metode komparatif bertujuan untuk membandingkan bahasa-bahasa berdasarkan kajian struktur berbagai tataran kebahasaan secara sinkronis untuk tujuan didaktis tertentu dalam rangka mencapai keberhasilan pengajaran bahasa.
Linguistik diakronik (Linguistik komparatif) untuk menentukan hubungan kekerabatan bahasa yaitu dengan menggunakan 3 metode yaitu metode kuantitatif dengan teknik leksikostatistik dan teknik grotokronologi, metode kualitatif dengan teknik rekonstruksi dan metode sosiolinguistik. Metode kualitatif dengan teknik grotokronologi digunakan untuk menentukan waktu pisah antara bahasa-bahasa yang berasal dari bahasa awal.

Metode Yang Digunakan Dalam LHK
1. Metode Kualitatif (Teknik Rekonstruksi)
Metode kualitatif dalam LHK menggunakan teknik rekonstruksi. Metode Kualitatif dengan teknik rekonstruksi bertujuan untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan bahasa (dapat menemukan korespondensi antara bahasa-bahasa yang sekerabat). Rekonstruksi bahasa yang dilakukan secara internal untuk mencari prabahasa dari bahasa-bahasa yang sedialek. Rekonstruksi yang dilakukan secara external dilakukan setelah mendapat hasil dari penelitian kuantitatif leksikostatistik.
Metode perbandingan klasik tidak hanya bertalian dengan menemukan hukum bunyi antara bahasa-bahasa kerabat, atau dengan istilah kontemporer ‘menemukan korespondensi fonemis antar bahasa kerabat’, tetapi masih dilanjutkan dengan usaha mengadakan rekonstruksi (pemulihan) unsur-unsur purba, baik fonemis maupun morfemis.
Rekonstruksi fonem dan morfem proto dimungkinkan karena para ahli menerima suatu asumsi bahwa jika diketahui fonem-fonem kerabat dari suatu fonem bahasa proto, maka sebenarnya fonem proto itu dapat ditelusuri kembali bentuk tuanya.

Teknik rekonstruksi fonem

Untuk menerapkan prinsip rekonstruksi fonemis, pertama-tama diadakan perbandingan pasangan-pasangan kata dalam pelbagai bahasa kerabat dengan menemukan korespondensi fonemis dari tiap-tiap fonem yang membentuk kata-kata kerabat tersebut. Dengan menemukan korespondensi fonemisnya dapat diperkirakan fonem proto mana yang kiranya menurunkan fonem-fonem yang berkorespondensi tersebut. Bagi tiap perangkat kemudian dicarikan suatu etiket pengenal untuk memudahkan referensi. Etiket pengenal ini tidak lain adalah fonem proto tadi yang dianggap menurunkan perangkat korespondensi fonemis yang terdapat dalam bahasa-bahasa kerabat. Fonem ini biasanya diberi tanda asterisk (*).

Rekonstruksi morfemis (rekonstruksi luar)  rekonstruksi yang dilakukan terhadap dua bahasa atau lebih, untuk menemukan bentuk-bentuk protonya)
Suatu tingkat rekonstruksi yang laina dalah rekonstruksi morfemis (antar bahasa kerabat), yang mencakup pula rekonstruksi atau alomorf-alomorf (rekonstruksi untuk menetapkan bentuk tua dalam satu bahasa). Dengan melakukan rekonstruksi fonemis telah diperoleh sekaligus, yaitu:
1. Rekonstruksi fonem proto yang memantulkan atau menurunkan fonem-fonem dalam bahasa-bahasa kerabat sekarang
2. Dengan memulihkan semua fonem bahasa-bahasa kerabat sekarang sebagai yang tercermin dalam pasangan kata-katanya ke suatu fonem proto, maka sudah berhasil pula dilakukan rekonstruksi morfemis (kata dasar atau bentuk terikat), yaitu menetapkan suatu morfem proto yang diperkirakan menurunkan morfem-morfem dalam bahasa-bahasa kerabat sekarang. Seperti halnya fonem proto, maka morfem proto juga ditandai dengan asterisk (*).
1) Rekonstruksi Dalam
Rekonstruksi dalam: rekonstruksi yang dilakukan dalam satu bahasa untuk mendapatkan bentuk-bentuk tuanya. Dalam hal ini kita hanya menggunakan bahan-bahan dari satu bahasa saja, yaitu rekonstruksi atas alternasi morfofonemis atau atas alomorf-alomorf suatu morfem.
Rekonstruksi ini bertujuan untuk memulihkan suatu bahasa pada tahap perkembangan tertentu pada masa lampau, dengan tidak mempergunakan bahan-bahan dari bahasa lain, melainkan hanya mempergunakan data dari bahasa itu sendiri. Rekonstruksi dalam dapat dilakukan karena beberapa kenyataan berikut dalam sebuah bahasa:
1. Adanya alomorf
Dalam bahasa Indonesia kita jumpai sejumlah bentuk kata seperti: berjalan, bermain, berdiri, belajar, berumah dan sebagainya. Dalam Linguistik Historis Komparatif kita mempersoalkan bagaiman bentuk dasarnya pada masa lampau. Apakah bentuknya itu ber-, atau be-, atau bel.
2. Netralisasi
Bahasa Jerman Modern memiliki sejumlah konsonan, di antaranya enam konsonan yang sering menimbulkan masalah, yakni /p/, /t/, /k/, /b/, /d/, dan /g/. keenamnya dapat muncul pada posisi awal dan tengah tetapi dalam posisi akhir hanya ada /p/, /t/ dan /k/. kata dasar dari kata benda dan kata sifat yang berakhir dengan sebuah stop akan memperlihatkan dua polanya berlainan bila ditambah akhiran infleksi:
(1) Ty.p – ty.pen ‘tipe’
(2) Tawp – tawben ‘tuli’
Dalam analisis deskriptif gejala ini juga dipersoalkan. Biasanya dikatakan bahwa konsonan /b/, /d/, dan /g/ secara deskriptif mengalami proses netralisasi pada posisi akhir, dan diganti dengan konsonan /p/, /t/. /k/. Kenyataan ini akan memberi peluang untuk menarik kesimpulan lebih jauh bahwa secara historis dalam bahasa Jerman yang lebih tua, konsonan /b/, /d/ dan /g/ harus muncul juga pada posisi akhir.
3. Reduplikasi
Reduplikasi merupakan peristiwa atau gejala lain dalam bahasa yang dapat dipergunakan untuk mengadakan rekonstruksi dalam. Misal dalam bahasa Sansekerta, Yunani dan Latin terdapat reduplikasi pada bentuk perfek kata kerja:
Sans : da – dau ‘saya telah memberi’
Yun : de – do – ka ‘saya telah memberi’
Lat : de – di ‘saya telah memberi’

4. Bentuk infleksi

Kasus mengenai hilangnya aspirata terdapat dalam bentuk infleksi, khususnya dalam infleksi nomen. Bentuk nominatif dari kata rambut dalam bahasa Yunani adalah thriks, sedangkan bentuk genitifnya adalah trikhos. Dalam kasus nominatif aspirata hilang dari konsonan /k/ karena ada penanda /s/.
Contoh
Rekonstruksi dalam:
Rekonstruksi bahasa jawa: bahasa jawa dialek Tengger, dialek banyumas, dialek solo, dialek jawa timuran dianalisis secara internal melalui rekonstruksi internal untuk menentukan protobahasa jawa.

2) Rekonstruksi Luar
Membandingkan bahasajawa, bahasa Sunda, bahasa Madura, bahasa Melayu sehingga dapat ditemukan bahwa bahasa-bahasa tersebut berasal dari bahasa yang sama yaitu Proto Bahasa Melayu Jawa.

Berdasarkan hasil dari penelitian kualitatif leksikostatistik yang dilakukan oleh Nothover maka diperoleh hubungan bahasa elayu dan Madura lebih dekat. Maka, kedua bahasa itu dapat direkonstruksi terlebih dahulu dalam rekonstruksi luar.

Metode komparatif  dengan pendekatan kualitatif  melalui teknik rekonstruksi dapat dilakukan dengan 2 cara:
- Rekonstruksi bawah-atas (buttom-up)
Digunakan untuk menemukan kaidah primer dan kaidah sekunder. Rekonstruksi ini bersifat induktif, biasanya digunakan untuk mengelompokkan bahasa pada peringkat yang lebih rendah ke arah peringkat yang lebih tinggi.
Contoh: Merekonstruksi bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan Melayu berasal dari rumpun bahasa yang sama yaitu Proto bahasa Melayu-Jawa.
- Rekonstruksi atas-bawah (top-down)
Rekonstruksi atas kebawah ini biasanya bersifat deduktif. Tujuannya untuk mencari cerminan atau reflek dari bahasa proto pada bahasa-bahasa turunanya.
Contoh: rekonstruksi padaproto bahasa Minahasa

2. Metode Kuantitatif (Teknik Leksikostatistik)
Metode kuantitatif dalam LHK menggunakan teknik leksikostatistik. Metode kuanitatif dengan teknik leksikostatistik digunakan untuk mencari atau menentukan silsilah kekerabatan bahasa, tujuannya utuk mendapatkan gambaran sekilas tentang peringkat relasi historis atau hubungan kekerabatan (instrumennya berupa 100-200 kosa kata dasar swadesh). Dalam metode kuantitatif ini dicari persentase kognat dari sejumlah (100-200) kosa kata dasar sawdesh. Metode kuantitaif dengan leksikostatistik akan menghasilkan pohon diagram kekerabatan bahasa.
Leksikostatistik: suatu teknik dalam pengelompokan bahasa-bahasa yang lebih cenderung mengutamakan peneropongan kata-kata (leksikon) secara statistik, untuk kemudian berusaha menetapkan pengelompokan itu berdasarkan prosentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain.
Empat macam asumsi dasar yang dapat dipergunakan sebagai titik tolak dalam usaha mencari jawaban mengenai usia bahasa, atau secara tepatnya bilamana terjadi diferensiasi antara dua bahasa atau lebih. Asumsi-asumsi dasar tersebut:
1. Sebagian dari kosa kata suatu bahasa sukar sekali berubah bila dibandingkan dengan bagian lainnya
2. Retensi (ketahanan) kosa kata adalah konstan sepanjang masa
3. Perubahan kosa kata dasar pada semua bahasa adalah sama
4. Bila persentase dari dua bahasa kerabat (cognate) diketahui, maka dapat dihitung waktu pisah kedua bahasa tersebut.

Teknik Leksikostatistik:
1. Mengumpulkan kosa kata dasar bahasa kerabat
Daftar kosa kata yang baik adalah yang disusun oleh Morris Swadesh dalam 200 kosa kata dasar Swadesh.
2. Menetapkan pasangan-pasangan mana dari kedua bahasa tadi adalah kata kerabat (cognate)
Prosedur:
a. Menentukan glos yang tidak diperhitungkan (kata-kata kosong, kata-kata pinjaman)
b. Pengisolasian morfem terikat
c. Penetapan kata kerabat
1) Identik
Pasangan kata yang semua fonemnya sama
Gloss    Sikka   Lio
Api        api       api

2) Berkorespondensi fonemis
bila perubahan fonemis antara kedua bahasa itu terjadi secara timbal balik dan teratur, serta tinggi frekuensinya, maka bentuk yang berimbang antara kedua bahasa itu dianggap bekerabat.
Gloss        Sikka         Lio
Siapa         hai            sai
Satu           ha             esa
Tetek        uhu          usu
Empat      hutu        sutu

3) Kemiripan fonetis
Bila memiliki kemiripan fonetis pada posisi artikulatoris yang sama, maka pasangan itu dapat dianggap sebagai kata kerabat
Gloss        Sikka        Lio
Gigi           niu            ni’i
Kaki          wai           ha’i

4) Satu fonem berbeda
Bila dalam pasangan kata terdapat perbedaan satu fonem tetapi dapat dijelaskan perbedaan fonem tersebut karena pengaruh lingkungan yang dimasukinya, sedangkan dalam bahasa lain pengaruh lingkungan itu tidak mengubah fonemnya, maka pasangan itu ditetapkan sebagai kata kerabat, asal segmennya cukup panjang.
Gloss               Sikka         Lio
Mendorong   jeka           joka

3. Menghitung usia atau waktu pisah kedua bahasa

4. Menghitung jangka kesalahan untuk menetapkan kemungkinan waktu pisah yang lebih tepat.
Cara yang biasa dipergunakan untuk menghindari kesalahan dalam statistik adalah memberi suatu perkiraan bahwa suatu hal terjadi bukan dalam waktu tertentu, tetapi dalam suatu jangka waktu tertentu. Dalam jangka waktu itu terjadi akumulasi perbedaan-perbedaan antara kedua bahasa itu, yang sekian hari bertambah besar, sehingga perlahan-lahan tetapi pasti menandai perpisahan antara kedua bahasa tersebut.
Untuk menghitung jangka kesalahan biasanya dipergunakan kesalahan standard yaitu 70% dari kebenaran yang diperkirakan.

–Compiled by: Ikmi Nur Oktavianti & Icuk Prayogi–

Referensi: on demand (ikmino@yahoo.com)

Linguistik, (Linguistik) Struktural dan Calon Linguis

2 Mar

Seorang teman bertanya pada saya pada suatu kesempatan: “Struktural itu susah, ya?”. Dengan santai saya menjawab “Kalau ada yang bilang susah itu karena mereka enggak mau mempelajarinya, mbak.”
Dan begitulah persepsi yang terpatri dalam pikiran teman-teman di kelas saya. Selain susah, struktural dilabeli sebagai suatu bidang kajian yang kuno atau old-fashioned. Pernah suatu hari seorang teman mengatakan “Ah, struktural itu kuno, enggak berkembang. Saya mau meneliti sesuatu yang baru.”

Saya tidak menyalahkan pendapat teman-teman saya. Mereka bebas untuk berpendapat apapun, termasuk untuk kajian linguistik struktural. But well, let’s just take a look. Saya dan teman-teman saya tersebut berada di naungan “Program Studi Linguistik.” Kemudian apa saja yang ada di dalam Linguistik? Mari kita sebut bidang yang menjadi dasar-dasarnya seperti Fonologi, Morfologi, Sintaksis dan Semantik. Bidang-bidang tersebut mengulas bahasa sebagai struktur, yakni bahasa dikaitkan dengan bunyi bahasa, satuan lingual kata, frase/kalimat dan makna. Dan apakah keempat bidang (Fonologi, Morofologi, Sintaksis dan Semantik) tersebut? Ya, struktural. Keempat bidang yang saya sebutkan tersebut adalah fondasi dasar Linguistik. Dan keempat bidang tersebut pula lah (ironisnya) yang dilabeli “susah, kuno dan tidak berkembang” oleh banyak orang yang belajar Linguistik, termasuk banyak teman-teman saya di kelas. Kalau orang Linguistik sendiri tidak mau mempelajari fondasi dasar keilmuan mereka, lalu siapa lagi? Kalau mereka mengaku diri mereka sebagai linguis, mengapa dasar-dasar keilmuan Linguistik justru mereka lupakan? Fenomena yang membuat saya terheran-heran.

Saya sadar bahwa minat atau ketertarikan masing-masing orang berbeda. Karena Linguistik luas sekali, tentu tidak semua dikuasai dan diperlukan spesifikasi tertentu. Akan tetapi, struktural adalah fondasi. Mari dianalogikan dengan bangunan. Entah nanti akan dibangun apartemen, hotel, gedung perkantoran atau tempat peribadatan sekalipun, semuanya harus dimulai dari membuat fondasi, bukan? Kalau fondasi saja tidak kuat atau malah tidak dibuat, apakah bangunan tersebut akan kokoh? Atau apakah bangunan tersebut bisa disebut “bangunan” kalau tidak punya fondasi?

Kita lihat linguis-linguis barat saja tidak gengsi belajar hal yang disebut-sebut kuno itu. Tengok saja linguis barat seperti Geoffrey Leech. Beliau menulis buku tentang “Principle of Pragmatics” jadi dapat dikatakan beliau jago Pragmatik. Akan tetapi, beliau juga menulis buku “Semantics” dan di dalam bukunya beliau juga membicarakan tentang Sintaksis (dikaitkan dengan Semantik). Apa artinya? Bahwa pakar barat yang menekuni bidang seperti Pragmatik pun juga menguasai struktural. Semua linguis besar (di bidang Linguistik apapun) beranjak dari mempelajari struktural dengan baik. Mereka mempunyai fondasi struktural yang cukup dalam keilmuan mereka. Itu sebabnya kepakaran mereka tidak usah diragukan lagi. Kalau linguis-linguis hebat saja tidak gengsi belajar struktural, mengapa kita yang masih calon linguis ini merasa tidak terlalu butuh belajar struktural dengan berdalih bahwa struktural itu susah? Saya punya keyakinan bahwa orang yang sudah menguasai struktural dengan baik dapat mempelajari bidang-bidang Linguistik lain (sosiolinguistik, pragmatik, analisis wacana, dll) dengan lebih cepat dan mantap. Seperti halnya bangunan yang sudah punya fondasi kuat, mau dijadikan bangunan apapun tentu tidak jadi soal lagi. Bangunannya akan tetap kuat dan kokoh. Linguis-linguis besar contohnya.

Namun, kenyataannya yang saya lihat sendiri (karena saya berada di lingkungan calon-calon linguis), kebanyakan dari mereka “lari” ke bidang seperti pragmatik, sosiolinguistik, atau analisis wacana karena tidak ingin bersentuhan atau belajar struktural. Seorang teman yang termasuk pintar bahkan mengatakan “Aku ga mau ambil tesis struktural. Susah. Yang gampang aja.” Padahal otaknya sudah jauh lebih dari cukup untuk belajar, tapi kemauan yang tidak ada. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa Linguistik tidak hanya butuh orang-orang jenius, tapi butuh orang-orang yang mau terus belajar. Karena apa? Karena bahasa selalu berubah. Keilmuannya tidak pernah berhenti. Selalu ada hal baru, termasuk di ranah struktural. Kalau seseorang tidak mau belajar lagi, bagaimana nasib keilmuan Linguistik? Dan perlu saya tegaskan apa yang saya maksud dengan belajar dalam tulisan ini bukan hanya kegiatan duduk di ruang kelas mendengarkan perkuliahan dosen (kalau itu sih semuanya juga melakukannya sebagai syarat disebut mahasiswa dan for the sake of attendance list), tapi yang saya maksud dengan belajar adalah secara mandiri membaca beragam buku-buku linguistik struktural (tanpa disuruh dosen dan buku-bukunya tidak terpaku pada aliran tertentu), berdiskusi dengan dosen dan teman-teman, berbagi dan saling memperbarui keilmuan. Jujur saja, selama saya kuliah saya hanya punya satu teman (dari lima puluhan mahasiswa di kelas!!!!) untuk berdiskusi persoalan struktural. Cukup ironis, memang.

Kembali ke persoalan teman-teman saya yang tidak mau belajar struktural, mereka akhirnya memilih pragmatik/sosiolinguistik. Akibatnya, yang lari ke pragmatik/sosiolinguistik/analisis wacana tersebut belum punya fondasi struktural yang kuat. Ada juga yang ingin instan dengan “nyemplung” ke aliran tertentu (sebut saja aliran X, salah satu aliran dalam Linguistik, bukan aliran kebatinan) tanpa bekal fondasi keilmuan yang kuat. Bisa ditebak, fondasi mereka rapuh atau malah tidak punya sama sekali. Sekali tendang saja, keilmuan mereka goyah atau malah roboh. Ketika ditanya hal yang paling mendasar atau pertanyaan konseptual, mereka menjawabnya gelagapan atau malah tidak tahu harus menjawab apa. Teman saya yang fanatik dengan aliran X lebih parah lagi. Dia merasa sudah menjadi linguis (dan tentunya sudah belajar Linguistik) hanya dengan menjadi pengikut aliran X. Hmm Linguistics is not that simple. Parahnya, yang kecemplung ke aliran X ini cukup banyak juga di Indonesia. Maklum, Indonesia adalah negara latah. (ah, jadi ngelantur). Tapi akan jadi mengerikan kalau gerakan aliran X ini meluas dan meracuni pola pikir pembelajar Linguistik untuk mengklaim bahwa aliran mereka adalah linguistik. Padahal linguistik yang sebenarnya tidak seperti itu. Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa. Dalam mempelajarinya, mari kita kembalikan hakikat bahasa sebagai bahasa (how languages work), tanpa perlu melabeli diri kita dengan merk tertentu. Fokuskan sudut pandang kita pada bahasa, bukan teorinya. Menurut Pak Sudaryanto (linguis besar Indonesia), bukan persoalan apa teorinya, melainkan bagaimana teori tersebut bekerja dalam menjawab permasalahan yang sedang diteliti. Kalau memang untuk menyelesaikan permasalahan itu butuh banyak teori (teori A,B,C,D,E) pun tidak masalah karena tujuannya bukan penerapan teori tertentu, melainkan pemerian bahasa. Hasilnya: sudut pandang ekletik. Permasalahan yang dihadapi: terselesaikan. Penerapan teori tertentu: no way!

Memang jika seseorang memutuskan menekuni Pragmatik atau menjadi pengikut aliran X tanpa belajar struktural akan lebih singkat waktunya dan lebih cepat selesainya. Tapi, apakah sesuatu yang instan itu identik dengan hal yang keren? Kalau diibaratkan buah, matangnya karena dikarbit. Berbeda dengan buah yang matang alami. Begitu pula orang yang menjadi linguis dengan belajar struktural dulu (bertahap). Tentu akan memakan waktu yang lebih lama, tapi buah yang matang alami rasanya lebih enak, kan? Nah, linguis yang “matang” alami juga lebih keren daripada linguis hasil karbitan. Sayangnya, bangsa kita suka sekali dengan segala sesuatu yang instan, termasuk mau menjadi linguis tanpa belajar struktural.

Di balik kekecewaan saya, ada juga sedikit kebahagiaan untuk dibagi. Belum lama ini saya berhasil “mempengaruhi” salah seorang teman untuk menulis tesis struktural. Saya ajak dia untuk berkenalan dengan frase preposisi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Terdengar sederhana, ya? Tapi topik itu sukses membuat saya merenung semalaman dan melamu saat mengendarai motor untuk memikirkannya. Beberapa finding menarik pun saya bagi dengan teman saya itu (khusunya menyangkut aspek semantis frase preposisi kedua bahasa tersebut). Dalam beberapa kesempatan kami ngobrol tentang topik itu. Saya tunjukkan ketertarikan dan passion saya sewaktu berdiskusi. Yang semula dia merasa kesulitan belajar struktural, akhirnya dia mengatakan “Ternyata struktural itu menarik, ya”. Dia juga berkomentar “Kok teman-teman bilang struktural itu susah, ya.” Well, sekali lagi, kata “susah” hanya ada dalam pikiran mereka yang tidak mau belajar.

Saya tentu tidak bisa (sok) idealis dan berharap semua teman-teman saya lantas mencintai struktural. Saya hanya ingin mereka bersabar dalam proses belajar, memantapkan fondasi struktural (Fonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik) mereka, kemudian memantapkan diri di bidang tertentu dan mencintai keilmuan mereka. Saya juga berharap teman saya yang sudah terlanjur nyemplung di aliran X itu mau sedikit membuka pemikirannya untuk belajar Linguistik yang sebenarnya.

Saya sering iseng-iseng berkhayal seandainya yang memandang struktural susah (at least teman-teman di kelas saya) dan yang terlanjur kecemplung aliran X “menyempatkan” waktunya belajar struktural, pasti mereka punya bekal yang cukup. Kalau pada akhirnya teman-teman saya memutuskan menjadi ahli sosiolinguistik atau pakar pragmatik atau penggerak aliran X sekali pun, dengan bekal struktural yang baik sebagai fondasi, saya sangat yakin mereka dapat menjadi ahli sosiolinguistik atau pakar pragmatik atau penggerak aliran X yang hebat. Dan pasti akan keren sekali dunia Linguistik jika dipenuhi dengan pakar-pakar dengan keilmuan yang mumpuni. Semoga. 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.137 pengikut lainnya.